Kemerdekaan tanpa Cap Berdosa

Asarpin

Saya sedang membaca buku Membakar Rumah Tuhan karangan Ulil Abshar-Abdalla. Tiba-tiba sebuah motor berhenti, seorang yang sudah agak tua turun dan menghampiri saya sambil menyodorkan buku berjudul Cukup 1 Gus Dur Saja! Buku ini karangan Abu Muhammad Waskito, terbitan Pustaka Al-Kautsar (2010).

Lelaki itu duduk, dan tak seberapa lama ia menyuruh saya membaca: “Bacalah!” katanya. “Bukan buku ini—buku Membakar Rumah Tuhan—yang pantas kamu baca! Nanti kamu sesat, anakku. Sudah saya perhatikan tulisan-tulisanmu di Lampung Post yang banyak menyimpang. Kembalilah pada al-Quran dan al-Sunnah”.

Betapa tak enak telah dicap menyimpang. Dan persoalan cap-mengecap ini pernah dibahas dengan sangat menarik oleh Goenawan Mohamad dalam esai Cap, Goenawan mengilustrasikan bagaimana pahitnya kalau seseorang telah dicap ini atau itu. Pada masa ”demokrasi terpimpin”, kata Goenawan, jepit dan jerat terhadap seseorang terbentuk dalam kata ”kontra-revolusioner”. Kata ini, bila dikenakan kepada seseorang, satu kelompok, atau satu pola sikap, bisa membuat yang dikenai seakan-akan tertangkap. Dalam posisi itu, ia berubah jadi sasaran untuk diserang atau—dalam kata yang dominan waktu itu—”diganyang”.

Lelaki itu bukan hanya sekali menggoreskan cap dengan tinta warna hitam. Setiap kali ia berkunjung, dengan cepat nasehat meluncur dari mulutnya. Dia teman bapak saya sewaktu kecil, tapi ia beruntung pernah mengenyam pendidikan pesantren di Solo, dan kemudian jadi sarjana agama yang puritan. Saya sendiri pernah ke rumahnya dan mau dipinjami bukunya Adian Husaini yang menyerang Islam liberal dengan bersemangat. Tapi saya bilang saya sudah membaca. Dan memang saya sudah membaca buku itu.

Saya bukan penganut Islam liberal, atau masuk jadi anggota Jaringan Islam Liberal. Saya bahkan pernah mengkritik liberalisme pemikiran Islam model yang ditawarkan JIL dengan kacamata ilmu sosial transformatif, karena saya seorang aktivis sebuah LSM. Pemikiran Ulil dan kawan-kawannya bagi saya waktu itu tidak relevan untuk kaum miskin. Dan para pemikir liberal itu tidak mencoba memahami bagaimana perasaan para aktivis muslim masa lalu yang begitu kecewa dan tersudut ketika kemudian Islam tidak bisa jadi dasar negara dan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu dihapuskan.

Tentu saja sekarang saya tidak bisa lagi mempertahankan pandangan itu. Saya sadar bahwa pandangan para aktivis muslim, terutama yang tergabung dalam Masyumi, yang begitu marah atas dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu, tidaklah tunggal. Ada aktivis Masyumi yang justru menganggap dihapuskannya tujuh kata itu dan gantinya justru lebih pas. Kata “ketuhanan yang Maha Esa” dianggap lebih tepat karena jelas-jelas hanya Islam yang menganut Tuhan yang Maha Esa. Kalau hanya “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam”, kata ketuhanan di situ tidak jelas. Tuhan siapa?

Demikian pendapat Abujamin Roham yang saya baca dalam buku terbarunya yang bersemangat, Ensiklopedi Lintas Agama (2009). Walau pun kita tahu tidak sekali-dua kali Abujamin Roham menyerang bangunan teologi Kristen, namun beberapa pendapatnya dalam buku itu sangat menarik untuk jadi bahan diskusi yang jernih.

Berhadapan dengan lelaki tua tadi, terus terang saya selalu waspada. Apalagi ketika ia mulai rajin datang untuk “meluruskan” tulisan-tulisan saya. Dia memang mengikuti tulisan-tulisan saya di Lampung Post, dan kalau ada tulisan yang tidak berkenan dengan hatinya, ia akan datang dan berceramah dengan menghamburkan sejumlah dalil. Tak jarang juga ia mencaci maki dan menyinggung-nyinggung soal hidayah. Katanya, orang seperti Gus Dur itu tidak dapat hidayah.
Pernah, suatu ketika, saya hampir terpancing ketika saya menulis soal haji. Ia marah dan mencaci-maki saya karena referensi yang saya gunakan bukan dari al-Quan dan al-Sunnah, tapi sebagian malah dari buku yang dikarang orang Kristen.

Lelaki itu “ngoceh bau” dan menuding ke sana ke mari. Ulil dituduhnya sebagai agen Zionis, liberal kafir, dan judul buku Ulil itu disebutnya sangat sok, sombong. Bacalah buku ini, buku Cukup 1 Gus Dur Saja, katanya. Kamu akan tahu kalau Gus Dur itu sengaja menghancurkan Islam dan membela minoritas. Gus Dur itu ulama yang sesat!

Untuk apa Gus Dur dan Ulil itu membela minoritas? Bukankah yang tertindas selama ini adalah Islam? Sejak Sokerano sampai Soeharto berkuasa, Islam selalu terpojok dan orang-orang seperti Gus Dur malah membela yang minoritas.

Sambil berincang dengan pak tua itu, tangan saya mulai membalik-balik buku yang diberikannya, dan mata saya tertuju pada sebuah bab berjudul Sekedar Coretan yang berisi caci-maki terhadap Gus Dur. Ia bilang, coba baca, baca dulu, dan ia pergi ke WC.

Dalam buku itu dikatakan: Gus Dur menganiaya hak-hak mayoritas, mengaku dirinya yang paling besar dan yang lain tidak, Gus Dur itu sosok “pahlawan” bagi siapa saja yang tidak mau melihat nilai-nilai Wahyu hidup di tengah masyarakat, karena bagi Gus Dur, ajaran apa pun bisa diterima kecuali Islam. Kemudian, Gus Dur itu “raksasa” yang diciptakan media massa. Gus Dur membalas kemurahan Islam dengan kebencian tanpa ampun.

Saya tak tahu yang menulis itu penerbit atau pengarang buku itu. Mungkin penulisnya, karena pada bagian Kalam Pembuka dari penulisnya disebutkan kesalahan-kesalahan orang-orang yang membesar-besarkan Gus Dur. Katanya, dari momentum kematian Gus Dur itu, mengalir deras gelombang pemujaan sosial atau kultus individu terhadap sosok Gus Dur. Kultus individu adalah salah, katanya, yang seakan-akan orang yang mengusulkan agar Gus Dur diberi pahlawan itu memang mengkultuskan Gus Dur.

Yang dimaksud kultus individu bagi penulis buku ini adalah, “meratapai wafatnya Gus Dur, memberikan julukan-julukan besar tanpa memperhatikan fakta-fakta obyektif, secara massif membentuk opini masyarakat agar mengagungkan sosok Gus Du”. Selanjutnya, “kalau sampai pemerintah mengabulkan keinginan para aktivis dan DPR agar Gus Dur diberi gelar Pahlawan Nasional, alamat bangsa ini akan diadzah oleh Allah dengan berbagai benacana”.

Saya tutup buku itu, kemudian mata saya menatap ke arah tamu di depan saya. Ia tersenyum, lalu berkata: “Baca lagi, baca terus!” Saya mulai curiga dengan orang ini ketika ia mengambil buku Ulil yang tergeletak di meja, kemudian mengejek, mungkin juga sinis atau nynyir. Gus Dur, Cak Nur dan Ulil itu, katanya, anteknya Yahudi yang sengaja ingin menghancurkan Islam. Saya tidak, katanya. Semua saya kembalikan pada al-Quran dan al-Sunnah.

Orang semacam itu cukup banyak dan saya cukup gentar. Tapi alangkah piciknya saya kalau begitu saja sudah merasa luka tak terhingga. Ulil saja yang pernah dihalalkan darahnya, tidak cengeng. Gus Dur dan Cak Nur yang digayang dan dihantam begitu banyak orang, masih terus menulis.

Manusiawi kalau saya merasa takut. Dan dari dulu saya ingin beragama dengan tulus, tidak terusik, dan berharap sebagaimana seorang Goenawan Mohamad mengaharapkan “kemerdekaan sebuh pikiran yang tak ditakut-takuti oleh cap ’berdosa’ atas nama Tuhan ataupun kewaspadaan”. Tapi rupanya tak mudah. Dan memang tak ada yang gampang di bawah kolong langit yang warna-warni ini.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/