Mutiara Kehidupan Kaum ‘Ikan dalam Akuarium’

Ridwan Munawwar*
Lampung Post, 15 Okt 2006

The Regala 204 B, (Antologi Cerpen). Nera Andiyanti dkk. Kudus: Gapuradja, Agustus 2006. 116 halaman.

SELAMA ini keberadaan kaum marginal yang juga dikenal dengan sebutan kaum grassroot, rakyat jelata atau wong cilik, selalu menempati posisi subordinat yang tersisih dalam berbagai sepak-terjang aktivitas kolosal kebudayaan. Apalagi agenda-agenda struktural yang sifatnya resmi, formal dan “elite”. Padahal sesungguhnya, disadari atau tidak, berbagai potensi dan kontribusi kebudayaan bersumber dari mereka.

Tak hanya itu, posisi serba sulit itu disisipi dengan citra atau image-image negatif yang dicapkan pada identitas diri kaum marginal. Ironisnya, cap negatif itu sering ngawur, parsial, satu sisi, dalam artian ia kabur kadar keobjektifannya atau bahkan nihil sama sekali.

Dalam acara launching-nya yang cukup syahdu, tapi meriah di Kota Semarang, Kamis, 7 September lalu, buku antologi cerpen The Regala 204 B hadir menghangatkan kesusasteraan Indonesia dengan spirit sastra yang berorientasi sosial-kerakyatan.

Pengarang-pengarang yang karyanya terhimpun di sini rata-rata berusia muda, yang darahnya masih panas dengan sejuta idealisme dalam benak mereka. Ini barangkali berangkat dari prinsip sastra sebagai representasi sosial. Sebab itu, ia pun mengemban tanggung jawab sosial.

Sebab itu, salah satu misi dari diluncurkannya buku ini untuk menepis stigma negatif yang selalu “ditahbiskan” pada kaum marginal, dan berusaha menyajikan sisi lain dari kehidupan mereka. Banyak hikmah yang bisa diambil dari kehidupan rakyat jelata; kegigihan dalam kerja keras, ketabahan dalam melakoni hidup yang keras, kesabaran, dan masih banyak lagi.

Dalam kata pengantaranya, seorang budayawan kawakan Indonesia, Dr. Arief Budiman yang pada dekade 80-an dulu sempat menjadi sorotan publik atas idenya mengenai “sastra kontekstual”, menyatakan kehadiran antologi ini mengingatkan beliau pada semangat penyair legendaris 60-an Wiji Thukul yang sarat dengan nuansa-nuansa estetika sosial dalam karyanya.

Bagi Arief Budiman–dan kebanyakan sastrawan yang menganut estetika sosial-keindahan atau estetika tidaklah harus melangit-langit, asketik, dengan seguidang metafora bahasa yang “gelap”, pelik, dan diskursif, tapi juga menampilkan kesahajaan dalam berbahasa, meski tidak mereduksi dan memperdangkal makna yang akan disampaikan. Peduli sosial merupakan keindahan yang paling hakiki; menyuarakan hak-hak kaum marginal, juga sudah merupakan keindahan (hlm.9).

Yang unik dari antologi cerpen ini adalah terdapatnya kesamaan istilah beberapa pengarang dalam memetaforakan kaum marginal, yakni “ikan dalam akuarium”. Namun, kemudian wordview setiap mereka, yang tersirat dalam narasi cerita mencerminkan perbedaan perspektif para pengarang sendiri tergadap metafora “ikan dalam akuarium” itu.

Dalam cerpen berjudul “Air Dingin” karya Ragdi F. Daye, misalnya dikisahkan kaum marginal sebagai ikan yang kesepian di tengah ramainya arus derap zaman. Wilayah kaum marginal dibatasi, dianaktirikan, persis seperti ikan dipenjarakan dalam akuarium.

Meskipun demikian, dalam kesepian psikologis yang mencekam, Alek (tokoh dalam cerpen itu) tetap gigih memeras keringat darah mengumpulkan sampah tiap hari agar dia dan adiknya bisa menabung sedikit demi sedikit untuk masuk sekolah.

Lain lagi dalam cerpen karya Nursalam AR yang berjudul “Catatan Harian Seorang Gembel Cilik”. Posisi kaum marginal sebagai “ikan dalam akuarium” lebih menyudut menjadi kritikan tersirat untuk para pejabat dan elite politik, bahkan mungkin autokritik bagi para akivis sosial sendiri, saat keberadaan serta status kaum marginal sering menjadi hiasan, aksesori untuk mempergagah jargon dan slogan perjuangan agar terasa lebih “heroik”, humanis, tapi dengan bukti nol sama sekali.

Yang jelas, metafora ini dan juga metafora-metafora yang lain disini sangat multi-interpretable, dan dari sinilah saya kira pembaca diajak untuk “bermain-main” dengan penafsiran; bebas membuka cakrawala seluas-luasnya untuk kreasi penafsiran dan cara pandang baru.

Dari sekitar dua belas cerpen dalam antologi ini, yang paling representatif dalam mengangkat persoalan disparitas gender barangkali adalah cerpen “Dapur” karya cerpenis muda asal Bangka, Sunlie Thomas Alexander. Dapur merupakan sebuah ruang yang katakanlah nyaris menjadi sentra utama dari eksistensi kaum Hawa.

Secara dramatis dan narasi tutur yang khas dan lancar, Sunlie menggambarkan perjuangan kaum ibu di dapur, dan pada endingnya pembaca diajak paham bahwa peradaban “lelaki”, tradisi partriakal, tidak akan bisa hidup tanpa kontribusi besar kaum Hawa ini. Sebab itu, ini mengundang kita untuk sadar bahwa tradisi dan kebudayaan yang timpang, yang masih beredar di sekeliling kita perlu mendapat pelurusan yang terus-menerus entah dalam bentuk emansipasi, dedomestifikasi perempuan, dan lain sebagainya.

Namun, kekurangan buku ini saya kira, masih banyaknya penggambaran karakter tokoh yang terasa masih mentah dan dangkal. Dalam cerpen “Catatan Harian Gembel Cilik”, misalkan watak tokoh yang tergambar dalam monolog, narasi atapun dialognya terasa terlalu dewasa untuk tokoh anak kelas empat SD.

Padahal sejatinya, karakteriasasi tokoh yang tepat dan logis merupakan salah satu kunci kesuksesas dari nilai estetika karya sastra. Kita bisa lihat, misalkan, kematangan Ayu Utami dalam melukiskan kepekatan dan kekelaman jiwa seorang yang berlatar belakang konflik psikologis amat rumit semacam tokoh-tokoh Shakuntala, Anson, dan Larung dalam novelnya yang berjudul sama; Larung.

Atau Budi Darma dalam novel Orang-Orang Bloomington-nya, dengan kepekaan tinggi ia sanggup memetakan secara jelas perbedaan suasana psikologis seorang berkebangsaan Indonesia dengan seorang non-Indonesia ketika bertemu dalam suatu momen yang sama. Kematangan dalam menggambarkan karakter manusia, disamping memerlukan latihan yang intensif, wawasan psikologi yang memadai, juga memerlukan riset dan pengalaman langsung para pengarang.

Namun, terlepas dari problema metodologis itu semua, antologi cerpen ini membawa signifikansi khususnya bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Kesusasteraan Rusia, misalnya dikenal memiliki khazanah sastra sosial yang justru menjadi salah satu fondasi yang memperkokoh eksistensi kesusasteraan Rusia di mata Dunia; Tolstoy, Maxim Gorki, Dothyovesky, dll.

Sebab itu, buku ini sangatlah layak diapresiasi siapa pun yang berhasrat meneguk setetes mutiara ilmu dari wilayah kehidupan paling keras, paling kelam. Sebab, dalam akuarium keruh masih tersisa sebuah kebeningan di sisi lainnya.

* Ridwan Munawwar, bergiat di Rumahbaca Poeitika dan aktivis Abu Darda’ Institute (ADI) Yogyakarta
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/10/buku-mutiara-khidupan-kaum-ikan-dalam.html