Merayakan Keberagaman Cerita

Oleh-Oleh dari Ubud Writers & Readers Festival 2010
Rofiqi Hasan
http://www.tempointeraktif.com/

Poesy Swift, 13 tahun, yang jujur dan baik dan Tilly Sweetrick, 15 tahun, si pembuat onar, terseret dalam petualangan menegangkan. Keduanya adalah bagian dari rombongan pertunjukan keliling Opera Company dari Australia yang melakukan perjalanan sampai ke India. Bermimpi dapat melihat Amerika Serikat, mereka justru terjebak dalam kapal sempit yang sempat singgah di Surabaya, Batavia, Kuala Lumpur sebelum sampai di Madras, India.

Di kota yang kini bernama Chennai itu, mereka dipaksa bekerja keras menghibur orang-orang Inggris yang haus akan hiburan. Menyanyi dan menari dan bermain drama dalam pengawasan yang ketat dari pemimpin rombongan. Sementara di sekitar mereka terjadi bencana epidemi korea. Kisah pun kemudian bergulir dengan aksi pemogokan yang menghantar mereka kepada sidang pengadilan Tinggi di Madras.

Kedua tokoh dalam novel India Dark yang diluncurkan di perhelatan Ubud Writers & Readers Festival 2010, selanjutnya disingkat UWRF, itu adalah fiksi belaka. Tetapi pengarangnya Kristy Murray berangkat dari sebuah fakta tersembunyi selama sekitar dua abad tentang nasib anak-anak pada rombongan kesenian dari negaranya yang berlayar hingga ke India pada akhir 1909.

Ia pertama kali mendapatkan cerita itu ketika sedang melakukan penelitian mengenai teater anak-anak untuk mengembangkan karakter tokoh dalam bukunya Children of The Wind. Saat bertemu dengan Peter Freund, seorang sejarawan teater di Ballarat, dia disodori sebuah esai berjudul Children Half Price – An account of the demise of Pollard’s Lilliputian Opera Company. “Dia menantang saya untuk membuat cerita mengenai anak-anak itu,” kata wanita kelahiran Melbourne, Australia, 21 November 1960.

Tapi baru pada 2006, Kristy benar-benar tergoda oleh tawaran itu. Setelah membaca ulang ia memutuskan untuk melakukan riset mendalam. Ia mulai dengan membuka dokumen sejarah di Perpustakaan Negara Bagian Victoria. Di situ dia mendapatkan fakta yang mengejutkan bahwa rombongan kesenian anak-anak adalah hal yang biasa sejak 1800-an. Mereka memenuhi kebutuhan para pejabat daerah koloni akan hiburan yang berbau Eropa.

Setelah itu, ia mengunjungi semua kota yang disinggahi oleh rombongan itu termasuk Surabaya dan Jakarta, meski kota itu hanya satu malam disinggahi Lilliputian Opera. Menariknya, untuk mendapat gambaran utuh mengenai kota itu, ia menjadikan karya-karya Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Buru sebagai acuan. “Sekarang saya menjadi penggemar fanatik Pram,” ujarnya. Pram, menurut dia, berhasil menggambarkan keberadaan kota-kota itu di masa kolonial.

Kota yang tak ketinggalan didalaminya tentu saja adalah Chennai. Dibantu oleh sejawaran lokal S. Muthiah, ia berhasil mendatangi semua situs penting yang menunjukkan keberadaan pertunjukan anak-anak. Kristy bahkan berhasil mengakses catatan pengadilan asli di Pengadilan Tinggi Madras.

Buku lain yang tak kalah menarik dari ajang UWRF adalah karya novelis Palestina Suad Amiry, Nothing to Lose But Your Life. Buku ini bercerita mengenai kehidupan nyata tokoh bernama Murad, seorang pemuda yang ditemuinya sebagai penggarap taman di rumahnya. Dari Murad, Suad Amiry memperoleh cerita mengenai nasib para pekerja Palestina di Israel.

Amiry lalu nekat mencoba untuk mengikuti perjalanan para pekerja yang seluruhnya laki-laki. Di situ dia yang menyamar sebagai seorang pria merasakan ketatnya penjagaan di pos-pos polisi Israel yang jumlahnya mencapai ratusan. Dari desa Murad ke kawasan industri Petah Tikva di Israel, yang jaraknya hanya sekitar 35 kilometer dan sebenarnya hanya butuh waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan bus, mereka harus menempuhnya selama 18 jam.

Pengalaman paling mengesankan adalah ketika sebuah jip tentara Israel mengejar mereka. Setelah sempat bersembunyi, akhirnya mereka memutuskan untuk menerobos masuk ke perbatasan. Murad menyatakan, jip itu pun akhirnya tidak akan mampu mengangkut mereka semua. Akhirnya, dari 24 orang yang nekat yang menerobos ada juga empat orang yang lolos termasuk Amiry. “Itu benar-benar menegangkan,” kata Amiry yang sejatinya berprofesi sebagai seorang arsitek itu.

Bagi Amiry, bukunya itu sebenarnya merupakan kelanjutan dari upayanya untuk melihat konflik Israel dan Palestina sebagai masalah sehari-hari. Bagaimana orang-orang kecil harus menanggung risiko atas perang yang tak berkesudahan. Dia juga melihat, betapa para pekerja Palestina sangat menikmatinya hari-harinya saat bekerja di Israel . Dia menegaskan, konflik sejatinya tidak boleh dilihat di tataran politik dan agama karena bisa jadi bertentangan dengan kenyataan sehari-hari.

Amiry membantah keras anggapan umum, termasuk dari muslim di Indonesia, bahwa konflik Israel dan Palestina adalah pertentangan antara Islam dan Yahudi. Menurut dia, akar masalahnya adalah perampasan tanah oleh Israel. “ Agama Yahudi mungkin menjadi korban karena digunakan untuk melabeli kepentigan itu,” ujarnya. Sebagai warga Palestina, dia menolak mengulangi kesalahan Israel yang menunggangi agama untuk kepentingan politik.

Begirulah. Ada pula buku yang menarik dan kontroversial karya Ali Eteraz: Children of Dust. Dalam buku itu Eteraz menceritakan dirinya sendiri yang lahir dari keluarga muslim Pakistan. Setelah menjalani kehidupan kanak-kanak di madrasah yang sangat ketat, ia kemudian tumbuh dan dibesarkan di Amerika Serikat seiring dengan kepindahan keluarganya ke Negeri Abang Sam.

Pada 1999, ia kembali ke Pakistan untuk bertemu teman-temannya, serta harapan akan mendapatkan identitas dirinya. Namun yang ditemuinya kemudian adalah anak-anak muda yang penuh dengan kemarahan dan retorika militan khas kaum Taliban. “Saya pun kemudian dicurigai sebagai agen CIA,” ujarnya mengenai pengalaman yang paling unik di buku itu.

Eteraz akhirnya kembali ke Amerika dengan gambaran yang hancur mengenai kampung halamannya. Kini dia terus mencari jalan tengah untuk menemukan Islam, tapi sekaligus identitasnya sebagai seorang Amerika.