Surat Keramik

Herlino Soleman
Kompas, 2003/04/27

“Aku bosan menerima suratmu yang cuma bercerita tentang kerinduan, dambaan, dan kegersangan jiwamu di negeri perantauan!” tulis Isti, kekasihku, dalam surat yang terakhir kuterima. Ia lalu mengajukan permintaan agar aku menuliskan hal lain yang menarik untuk direnungkan. “Bahwa kau merindukanku, merindukan orangtua dan kerabat serta kampung halaman, itu hal yang pasti kau rasakan! Kalau mau kuungkapkan rinduku kepadamu, tak cukup satu-dua buku untuk menuliskannya. Continue reading “Surat Keramik”

Susuk Kekebalan

Han Gagas
Republika, 28 Maret 2010

Hatiku gamang saat kaki menjejak pematang dan menyusuri setapak. Gelap turun sempurna memerangkap semua rumah dan pepohonan. Bulan, walau separo, cahayanya berhasil membuat bayang-bayang pohon memanjang dan membesar, dan angin menjadikannya bergoyang-goyang. Di depan, nampak sebuah rumah limasan kabur disinari lampu senthir, membiaskan sinar suram. Lengang. Continue reading “Susuk Kekebalan”

Identitas dan Lokalitas

Asarpin

Ada fenomena menarik tentang identitas dan lokalitas belakangan ini. Ada tanda-tanda kebangkitan kembali identitas lokal di sejumlah negara Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri, terjadi proses penguatan identitas seiring dengan proses pembusukan modernitas.

Sejak reformasi hingga diterapkannya otonomi daerah, klaim-klaim tentang identitas, ras, dan prasangka etnis, kian menonjol. Di berbagai panggung dan karnaval politik, ada tanda-tanda menguatnya semangat kesukuan. Continue reading “Identitas dan Lokalitas”

Untuk Apa Memetakan Penyair Sumatera?

Udo Z. Karzi *
Cybersastra.net, 5 Sep 2003

Aku membaca esai Isbedy Stiawan Z.S., “Jakarta dan Tabung Orba” (Lampung Post, 3 Agustus 2003). Isbedy menyikapi acara Temu-Dialog Penyair se-Sumatera di Padang, Sumatera Barat, 8–13 Agustus 2003. Isinya sama seperti kebanyakan esai yang terbit di koran-koran: daftar sekian banyak nama penyair, media, dan institusi kepenyairan. Continue reading “Untuk Apa Memetakan Penyair Sumatera?”

Sastra Islam dan Kearifan Lokal

Sofie Dewayani*
Republika, 3 Agus 2008

SAAT menghadiri silaturahmi nasional Forum Lingkar Pena (FLP) di Depok, beberapa waktu lalu, saya tertegun oleh semangat yang meluap dari penjuru nusantara. Semangat ini diusung oleh sosok-sosok muda dengan mengarungi laut, bermalam di bus antar kota, hingga menaiki helikopter untuk mencapai kota besar terdekat. Tak tersembunyi oleh kantuk dan penat, energi maha dahsyat ini terpaut bukan oleh kepentingan politik atau uang, melainkan oleh keinginan berkarya dan mencipta. Continue reading “Sastra Islam dan Kearifan Lokal”

Bahasa »