Pemimpin Multibudaya

Zulkarnain Zubairi
http://www.lampungpost.com/

ANTROPOLOG Cylde Khuckpohn memperingatkan kita setiap jalan kehidupan yang berbeda memiliki asumsi tentang tujuan keberadaan manusia, tentang apa yang diharapkan dari orang lain dan dari Tuhan, dan tentang apa yang menjadi kejayaan dan kegagalan. Aspek budaya terbuka (overt) dan tertutup (covert) menunjukkan bahwa banyak kegiatan sehari-hari kita dipengaruhi oleh pola dan tema yang asli (genuine) dan maknanya kurang kita sadari.

Penyebab gegar budaya, di antaranya adalah perilaku rasional, irasional, dan nonrasional. Perilaku rasional dalam suatu budaya didasarkan atas apa yang dianggap masuk akal oleh suatu kelompok dalam mencapai tujuan–tujuan atau kepentingannya. Perilaku irasional menyimpang dari norma-norma menyimpang yang diterima suatu kelompok masyarakat (etnis, agama, partai, OKP, dll).

Kelompok budaya yang berperilaku irasional biasanya bertindak tanpa logika dan dimungkinkan sebagian besar oleh suatu respons emosional, sedangkan perilaku nonrasional tidak berdasarkan logika dan tidak bertentangan dengan pertimbangan masuk akal dan semata-mata dipengaruhi oleh budaya atau subkultur seseorang.

Faktor penting lainnya pemicu gegar budaya manakala kita tidak memahaminya adalah tradisi. Tradisi melengkapi masyarakat dengan suatu tatanan mental yang berpengaruh kuat atas sistem moral untuk menilai apa yang dianggap benar atau salah, baik atau buruk, menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Suatu budaya diekspresikan dalam tradisi. Tradisi yang memberikan para anggotanya suatu rasa memiliki dalam suatu keunikan budaya. Tradisi juga dimiliki oleh suatu organisasi sipil, militer, agama dan suatu kelompok masyarakat (perhatikan ucapara keprotokolan mereka).

Tradisi, walaupun merupakan norma dan prosedur yang harus ditaati bersama, juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, pengetahuan, dan teknologi menuju terciptanya budaya global. Perbedaan-perbedaan budaya dengan segala keunikannya merupakan pemicu “benturan budaya” bila manajer kosmopolitan yang multikultural tidak mampu mencermati perubahan zaman.

Mereka harus mampu menghargai dan mampu berkomunikasi dengan kelompok budaya yang ada dalam wewenang manajerialnya. Tidak memaksakan sikap-sikap (attitudes) dan pendekatan-pendekatan budaya yang dimilikinya terhadap orang lain. Sikap menghargai budaya orang lain yang beda merupakan syarat kepemimpinan multibudaya. Sikap ini mutlak dimiliki bila tidak ingin disebut pemimpin etnosentrisme.