Teks

Asarpin

Teks itu kata yang terdiri dari empat huruf. Sangat singkat. Walau demikian, kata ini kerapkali disalahmengerti atau sering membingungkan. Kalau tak membuka kamus maka sulit untuk memahami dengan baik apa yang disebut teks. Kalau ada seorang penulis mengatakan kembali kepada teks, atau jangan terlampau taat pada teks. Apa gerangan yang dimaksud?

Apa yang disebut teks dalam bahasa Indonesia dengan kata texere dalam bahasa Latin sering tak persis sama. Dalam bahasa Latin—sebagaimana dalam Kamus Latin-Indonesia karangan P.Th.I Verhoeven dan Marcus Carvallo—teks berarti tindakan menafsirkan itu sendiri, yaitu “menenun, menganyam, menyusun, menceritakan, membangun”.

Tentu saja ada sesuatu yang dirujuk maka ada kata kembali atau jangan terlampau taat. Apa yang dirujuk adalah sesuatu yang tertulis, yang berhubungan dengan wacana tertulis. Jadi setiap teks adalah sesuatu yang tertulis. Kata-kata lisan tidak disebut teks. Naskah proklamasi disebut teks proklamasi karena tertulis.

Istilah lain dari teks adalah bacaan, lektur, pustaka, wacana, manuskrip, naskah, skrip, tulisan. Orang disebut berpikiran skripturalis karena orang tersebut ingin kembali kepada teks. Ia meletakkan teks suci sebagai pusat gravitasi bagi seluruh kehidupan. Baginya teks adalah segala-galanya. Tak ada peluang untuk mengusir teks apalagi sampai menganut kepercayaan inter-tekstualitas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III, teks , di samping sebagai wacana tertulis, didefinisikan sebagai: (a) naskah yang berupa kata-kata asli dari pengarang, (b) teks adalah kutipan dari kitab suci untuk pangkal ajaran atau alas an, (c) bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, berpidato, dan sebagainya.

Ulil Abshar-Abdalla pernah mengutip secarik kalimat Nasr Hamid Abu Zaid dalam bahasa Arab, bahwa peradaban Islam dan Arab sesungguhnya adalah peradaban yang berpusing-pusing sekitar “teks”. Kedudukan teks begitu sentralnya, sehingga teks menjadi semacam paradigm atau cetakan yang mengkerangkakan hampir seluruh kehidupan umat Islam dalam seluruh bentangan sejarahnya. Ulil cemas dengan kenyataan ini dan menwarkan semacam relatifitas. Apa yang disebut Teks Agung (Alquran dan Sunnah) tidak bisa dipisahkan dari konteks politik dibentuknya kedua teks itu.

Jadi, kebenaran teks Alquran dan Sunnah itu menjadi kebenaran relatif mengingat sudah ada upaya mengkerangkakan teks itu sebelum disusun atau dibakukan. Ujung-ujungnya tak ada lagi klaim tentang wacana keaslian terhadap dua teks itu. Dan ini berarti tak ada lagi yang pasti, selesai dan tuntas. Jika masih ada yang berpikir macam ini, mereka inilah yang orang yang terperangkap bibliolatri alias penyembahan Bibel atau pengagungan kitab suci secara berlebihan.

Dengan mengikuti cara berpikir macam itu, maka semua teks—termasuk Alquran dan Sunnah yang sudah selesai dibukukan—berada dalam proses pembentukan yang tak selesai, terus-menerus sampai terkikis keyakinan kita akan teks agung itu. Dan keyakinan menjadi musuh abadi bagi pencarian, proses, dan pemikiran. Sesuatu yang sudah tersirat dalam Alquran, seperti pembagian warisan 2:1 yang tersurat dalam dalam Alquran (QS 11:4) bisa ditempatkan sebagai proses untuk dikaji dan dipikirkan kembali sehingga makin jauh dari teks. Munawair Sjadzali menganggap pembagian 2:1 (dimana anak laki-laki mendapat dua kali lebih dari pembagian yang diperoleh anak perempuan) tidak adil.

Kalau anjuran Ulil agar tak cepat-cepat kembali ke teks dengan alasan bahwa sudah tersurat dalam Alquran, maka yang terjadi adalah penjarakan, pertanyaan, waspada, sangsi, dan bisa jadi curiga pada teks. Maka peluang untuk melakukan ijtihad terbuka lebar. Lalu bermunculanlah gugatan atas sejumlah teks tersurat yang sudah baku dan pasti itu. Dan yang kebenaran betul-betul menjadi relatif.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/