Alloh: Cahaya di Atas Cahaya

(Catatan pengajian Padhang mBulan tanggal 19 Pebruari 2011)
Sabrank Suparno

Alloh? Sepertinya kita sudah mengenal, entah berapa prosen perangkat informasi tentang Dia yang pernah kita terima. Atau, sesungguhnya kita adalah bagian dari susunan ‘tubuh’Nya dalam struktur berjenjang makro kosmos, namun karena kita tidak terima untuk mengakui bahwa kita bagian terkecil dariNya dan kita berhasrat menggebu menarik Dia ke dalam bagian kita, segala kesuksesan, segala apa yang kita miliki, membuat kita enggan mengakui bahwa sebetulnya kita sudah berada di dalamNya.

Dengan menafsirkanNya dimungkinkan ada alasan untuk kemudian ‘mengenal’, entah dengan cara ‘berenang’ atau ‘tenggelam’ dalam ke Maha Luas-tak terbatasnya Alloh. Keduanya sama-sama berada dalam keluasan, namun tenggelam dikendalikan oleh air dengan sempurna, tetapi berenang dikendalikan oleh diri sendiri. Pada batasan : siapa yang mengenali dirinya, maka ia akan tau Tuhannya, melahirkan pemahaman: orang yang tidak mengetahui jika Tuhan itu ada dan nyata, mereka tergolong orang kufur. Demikian juga jika seseorang kok berkata bahwa ia melihat Tuhan dengan nyata, maka ia juga orang munafik. Tuhan bukan jagat raya ini, semesta raya hanyalah bagian kecil dari cipratan kreatifitas penciptaanNya.

Ngrasani Alloh lebih jauh, sesungguhnya adalah hal yang tidak bertatakrama dalam laku kehidupan. Sebab, bagaimana pun juga kita hanyalah ‘hamba’ yang dicipta, diadakan, ditundukkan, disetir, dijuragani, ditenggelamkan dalam lakon teater besar alam semesta. Maka diperlukan batas kewajaran ketika kita hendak membincangkan GustiAlloh, bahwa yang kita ulas hanyalah sebatas pemahaman kita tentang Dia, dan bukan Dia yang sesungguhnya. Artinya, pendekatan apapun baik secara analogi-filologis dll hanya ibarat sebuah plangboard di perempatan jalan yang menunjuk arah sebuah kota. Meskipun tulisan dalam plangboard itu kita pegang, kita elus-elus, bahkan kita jilat sekali pun, tetap itu bukanlah kota yang dimaksud, sedang kota yang dimaksut masihlah sangat jauh. Plangboard hanyalah susunan informasi mengenai arah sebuah kota yang hendak kita tuju.

Alloh yang kita ucapkan tiap hari, kita tulis dengan jelas “ALLOH”, bukanlah Alloh yang sesungguhnya. Yang kita ucapkan dan yang kita tulis mengenai Alloh adalah informasi tentang Alloh jika kita hendak mendatangi wilayahnya lebih dekat.

Sekedar mempermudah cara bertatakrama, coba kita kaji ulang tulisan Emha Ainun Najib yang dimuat koran SINDO, Jum’at, 21/09/2007 berikut: Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan teve Ramadan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan bermacam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal “agama” lain, ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi.

Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam. Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanya Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Alloh.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangan nya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu.

Kalau ada teman melakukan perjuangan “islamisasi”, “dakwah Islam”, “syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan “Negara Islam Indonesia”-yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Supaya mendekati metodologi empiris dan terhindar dari ‘fikirkan ciptaanKu dan jangan membahas zat-Ku, kita bisa mengganti kata ‘Islam’ pada kalimat tercetak miring di atas dengan kata ‘Alloh’.

***

Sepanjang Pengajian Padhang mBulan, metode yang disampaikan Cak Nun adalah penyediaan bahan mentah dan bukan wacana ‘jadi’. Menyodorkan bahan jadi yang tinggal telan, terkesan membodohi atau mendikte ke-simpul-an pengetahuan secara detail. Dengan harapan, siapa pun berhak merumuskan batasan berdasarkan kadar atau perangkat cara pandang yang mereka pahami.

Pada pertemuan Padhang mBulan tanggal 19 pebruari 2011 lalu, Cak Nun melempar pertanyaan khusus untuk mendiskusikan beberapa hal semisal: Apakah Alloh itu cahaya? Sumber cahaya? Cahaya murni? Ataukah energi yang dihasilkan oleh cahaya setelah melalui proses susunan informasi sehingga terbentuklah wujud Alloh? Cak Nun mengurai beberapa tawaran rumus selanjutnya bahwa kapasitas cahaya murni berbeda dengan cahaya yang dihasilkan setelah melalui proses kimiawi (informasi). Yang artinya, segala sesuatu yang sudah terpengaruhi susunan informasi yang kemudian membentuk ‘wujud’, bukan lagi disebut cahaya murni.

Sementara Noe (vokalis Letto: Sabrang) yang ketepatan hadir dalam pertemuan itu mempunyai rumusan pemikiran bahwa: massa cahaya mengandung energi padatan (kapasitas kuantum) paling rendah, mendekati nol. Noe kemudian menarik analogi tentang ‘cahaya di atas cahaya’ dengan merefleksikan tafsir yang di sampaikan oleh Cak Fuad mengenai adanya nabi sesudah Nabi Muhammad. Menurut Noe, nabi yang kebenarannya pada posisi tertinggi ialah benda yang terbentuk dari energi murni. Sedangkan nabi (benda) yang terbentuk berdasarkan susunan energi (informasi) tidak murni (dipengaruhi sekian ambisi pribadi / golongan) adalah nabi palsu.

Cak Fuad kemudian mengkolaborasi penafsiran pemikiran Noe dengan menceritakan perihal Ibnu Sina yang dengan segala kapabilitas ketokohannya. Suatu hari di tanya muridnya, “Ibnu Sina, kenapa engkau tidak mengaku sebagai nabi? Aku yakin semua orang akan percaya dengan kapasitas keilmuanmu yang seperti ini.” Ibnu Sina tidak menjawab. Ketika dini hari menjelang subuh, si murid dibangunkan oleh Ibnu Sina untuk disuruh mengambilkan air minum. Karena si murit masih mengantuk berat, si murit beralasan “jangan minum air putih jam segini, tidak baik untuk kesehatan.” Ibnu Sina kemudian mengatakan “kenapa aku tidak menjawab ketika kau menyuruhku mengaku sabagai nabi, bangun dan dengar suara adzan subuh! Jam segini nama Muhammad sudah dikumandangkan, disebut-sebut orang tanpa henti, sementara aku menyuruhmu mengambilkan air minum saja kau tidak bersedia, jadi aku ini jauh dibanding kemurnian cahaya yang dimiliki Nabi Muhammad.

Cak Nun kemudian menyeret kursor dari dragbar ‘cahaya di atas cahaya’ ke beberapa aplikasi kontekstual semisal kemurnian awal mendirikan partai, masih lebih tinggi nilainya. Namun setelah disusun berbagai perangkat informasi (tidak murni) sebagai tim sukses kandidat presiden, tender berbagai proyek pengadaan dan pengakuan imag partainya sendiri dan apalagi menafikan kepentingan rakyat, cahaya partainya meredup, menurun dari tangga strata cahaya di atas cahaya.

Pengembangan atau penurunan kualitas cahaya di atas cahaya juga bergantung pada proses toriqot (sistem) yang dilaluinya, sebab kesalahan pada sebuah sistem, energi yang dihasilkan dari cahaya akan bernilai negatife (nar /api) yang disebut setan. Simpelnya, setan ialah ketika manusia (benda) tidak mampu mengontrol kemurnian sistem pada dirinya, maka akan menjadi bias reaksi (kimia) negatif yang disebut setan.

Cak Nun mencontohkan perihal kemurnian tanah. Karena kesalahan pada sistem pengolahan yang melibatkan ‘pupuk setan’, yakni pupuk yang tidak bersistem pada kebutuhan petani, melainkan proyek kapitalisme pertanian, berakibat pada ketidaksuburan tanah pada masa berikutnya. Ketidaksuburan tanah inilah yang disebut imbas dari reaksi negatif kimiawi cahaya.

***

Menerjemahkan pembahasan cahaya di atas cahaya dalam kaitannya dengan sejarah yang pernah dan sedang berlangsung, Sabrang Noe Letto menceritakan perihal tidak digunakannya sistem listrik AC yang ditawarkan oleh Tengsla. Sistem listrik AC adalah sistem penyalaan lampu tanpa memakai jaringan kabel. Model listrik AC kinerjanya mirip dengan perangkat tower signal HP.

Tengsla ditolak oleh sistem korporasi perdagangan dunia. Dengan alasan kapitalisme global, ilmuwan lebih memilih Thomas Alfa Edison dengan sistem DCnya. Listrik tanpa kabel sama artinya mengurangi produk yang mengeksploitasi tembaga. Sedangkan proyek manufaktur tembaga berjalinan erat dengan bahan-bahan sumber energi lain semisal minyak ataupun bahan baku karet yang pasti ditangani beberapa orang pemilik modal. Keadaan semacam ini hanya akan meguntungkan negara-negara kapitalis. Sementara negara-negara miskin hanya akan dikeruk dengan hasil yang tidak seimbang. Sedang di sisi lain, para pakar sudah menganalisa tentang terjadinya krisis energi sekitar 12 tahun lagi.

Di Indonesia, dengan praktek birokrasi yang korup, dimana seluruh pejabat teras hingga RT hanya berfungsi menjadi polesai perputaran keuangan dunia, sepakat ngutil berbagai tender berbarengan asal tidak nyolok ketahuan, dimana institusi dan kelembagaan bergeser fungsi menjadi praktek kapitalisasi, sama artinya menjalankan konsep cahaya di bawah cahaya. Apalagi ketika cahaya keilmuan hendak meletik, pemerintah segera mengkufurinya dengan menutup segala jaringan yang akan dirambah. Kasus penemuan mesin tenaga uap yang ditemukan warga Nganjuk, andai dikembangkan akan melahirkan mesin tanpa bahan bakar bensin, sudah pasti akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun keberkahan ilmu itu tidak disukuri oleh pemerintah dan pemilik modal di Indonesia dan malah sibuk berebut perihal copyraight yang notabene hanya persoalan segelintir orang.

Lain tentang penemuan mesin uap, Pak Haryo yang hadir sebagai tamu di pengajian Padhang mBulan pada Sabtu 19 Pebruari lalu, Pak Haryo juga membawa informasi dan bukti atas eksperimentasinya mengenai listrik bersistem AC. Namun dalam ‘sistem kegelapan’ negara Indonesia, orang seperti Pak Haryo akan dilenyapkan atau sekedar dituding sebagai ‘pencuri karyanya sendiri’ seperti yang pernah dialami oleh Pak Joko Nganjuk.

Segala fenomena yang terjadi di Indonesia yang menyangkut penemuan- penemuan baru, menandakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling siap untuk memimpin dunia di masa datang. Ketika negara-negara Barat terancam krisis energi, Indonesia sudah siap dengan teknologi tanpa jaringan energi yang begitu ribet seperti sekarang. Pak Joko dan Pak Haryo hanyalah tanda bahwa pletikan cahaya di atas cahaya akan selalu memuai dari sekedar kadar cahaya di Indonesia sekarang ini.

***

Untuk menyongsong cahaya yang lebih atas dapat diawali dengan mengandalkan (kemurnian) kwalitas diri sendiri dahulu sebelum melebar ke skala bernegara. Individu bisa menempuh cara dengan mengintenskan kesadaran bahwa setiap energi yang dilakukannya kapan pun, dimana pun, siapa pun, sekecil pun, adalah jaringan energi mega-global alam semesta, energi yang terhubung dengan rotasi-revolusi antar planet sampai ke satu detak jantung, satu hemoglobin peredaran darah dan seterusnya.

Individu harus memecahkan rumus utama perihal pencipta dan dicipta. Keduanya adalah perebutan dualisme, dimana individu mengatakan ‘Aku’ dan Dia berkata ‘Aku’. Karena tujuan yang ditempuh adalah Aku, maka dualitas ini harus dihancurkan, mengalah salah satu. Dan karena ‘Dia’ tidak bisa dihancurkan, maka individu harus melebur menjadi Dia Yang Maha Kekal.

*) Penulis: Sabrank Suparno. Lahir di Jombang 24 Maret 1975. Redaktur Bulletin Lincak Sastra.