Puisi Douglas Malloch dan Taufiq Ismail

++ Puisi Douglas Malloch dan Taufik Ismail

Be the Best of Whatever You Are By Douglas Malloch If you can’t be a pine on the top of the hill, Be a scrub in the valley — but be The best little scrub by the side of the rill; Be a bush if you can’t be a tree. If you can’t be a bush be a bit of t…he grass, And some highway happier make; If you can’t be a muskie then just be a bass — But the liveliest bass in the lake! We can’t all be captains, we’ve got to be crew, There’s something for all of us here, There’s big work to do, and there’s lesser to do, And the task you must do is the near. If you can’t be a highway then just be a trail, If you can’t be the sun be a star; It isn’t by size that you win or you fail — Be the best of whatever you are!

Kerendahan Hati
Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau. Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya Jadilah saja jalan kecil, Tetapi jalan setapak yang Membawa orang ke mata air Tidaklah semua menjadi kapten tentu harus ada awak kapalnya…. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu Jadilah saja dirimu…. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Oleh: Antonius Made Tony Supriatma

Katrin Bandel: Taufiq Ismail diduga menjiplak puisi Douglas Malloch, penyair Amerika. Isi kedua puisi itu memang hampir sama – jelas tidak sah dan tidak etis kalau diakui sebagai karya sendiri. Judul puisi memang tidak sama, mungkin agar tidak mudah ketahuan. Ironisnya, judul puisi Taufiq justru: “Kerendahan hati”. Hahaha…

Thendra Malako Sutan: Benar2 hati yang rendah itu Taufiq Ismail. Pasti, waktu baca puisi itu doi menangis cap Hollywood, hehe

Ferry Fauzi Hermawan: halah

Firdaus Siagian: Terlihat lbh rendah hati lagi ketika Taufiq Ismail melarang acara bedah bukunya Asep Sambodja 😀

Edy Firmansyah: oh, ini to mafioso sastra yg membenci lekra itu. hati rendah bangetttt ya kyak judul puisinya.

Dwi Pranoto: ha..ha..ha.. Taufiq Ismail maling! eh, tapi kapan dua puisi itu dibikin nggak kecantum ya?

Katrin Bandel: Aku tidak tahu kapan kedua puisi itu ditulis. Yang jelas, Douglas Malloch hidup 1877 – 1938, jauh sebelum Taufiq mulai menulis…

Dwi Pranoto: berarti bener MALING!

Thendra Malako Sutan: Mungkin Malloch punya pintu ajaib kayak Doraemon, lalu plesir pergi ke masa depan, Nyasar di Bali dan doi membaca puisi Taufiq Ismail itu di sebuah kafe di Ubud. Doi sangat kagum dengan puisi Taufiq itu, bergegas pulang ke masa lalu, sampai lupa bayar bir di kafe Ubud itu. Malloch pun menulis puisi yang mirip dengan puisi Taufiq itu. Memang luar biasa Taufiq Ismail itu ya, hehe…

Dwi Cipta: Bagaimana Pak Taufik? Kok gak ada suaranya? Huahahaha. Paling enak kalau ada klarifikasi di FB ini dari TI yah?

Katrin Bandel: emang TI punya fb? yang jelas, dia bukan friendku…

Dwi Cipta: Wahahahaha. Kali aja dia punya. Dia juga friend-ku, Mbak Katrin. Memalukan mengambil karya orang lain dan mengakunya sebagai karya sendiri!

Halim HaDe: PUISI TAUFIK ITU BAGUS, WALAU MENJIPLAK.
JADI, SOALNYA, BUKAN JIPLAK MENJIPLAK,
TAPI BAGAIMANA BIKIN PUISI BAGUS….
DI NEGERI INI, GAK PENTING SOAL ASELI…
SEMUANYA BLASTERAN… 🙂

Dwi Cipta: Waah, tapi kalau ditolerir seperti itu ya kapan berkembangnya dunia sastra kita mas? Membikin puisi bagus memang kewajiban mereka yang terlibat dalam penulisan puisi. Soal blasteran, sepanjang itu hanya tampak dalam kesamaan gagasan gak apa-apa. Tapi kalau sampai mengambil sebagian besar dari puisi Malloch itu apa blasteran? Itu sih bukan blasteran, tapi terjemahan. Hahahahaha.

Halim HaDe: DI NEGERI INI, UKURANNYA KARYA.
NEGERI PEMBEO.

Halim HaDe: MENDINGAN SIKAT DIA SOAL PDS JASSIN ITU.

Dwi Cipta: Karya apaan? Itu bukan karyanya, tapi diaku sebagai karyanya. Mau jadi beo silahkan, tapi jelasin dulu darimana suara-suaranya itu didapatkan, jangan jadi beo nggak ngasih tahu darimana nyanyiannya itu berasal. Hahahaha.

Dwi Cipta: Disikat pake bir? Dia gak mau bir mas. Hahahaha.

Halim HaDe: ENTE INI GIMANE SEEH. APA YANG GAK DILAKUKAN
OLEH TAUFIK. MENFITNAH SAJA DIKLERJANNYA, MENISTA KEMANUSIAAN SAJA DILAKUKANNYA…

Halim HaDe: NANTI ENTE MASUK KE DALAM DEBAT SOAL ASELI N JIPLAKAN, SEMENTARA SOAL N TEMA UTAMA, HILANG…..

Halim HaDe: makanya belajar melihat skala prioritas.
jangan asal …………

Dwi Cipta: Soal dan tema gimana maksudnya?

Dwi Pranoto: Bener persoalan PDS H.B. Jassin itu persoalan utama. Tapi persoalan maling ini bukan juga hal remeh. Maksudnya, persoalan PDS dan penjiplakan ini menunjukan siapa itu Taufiq: Penjaga moral yang bejat dan si rendah hati yang penipu.

Ahda Imran: Akan lbh bagus kalo kedua puisi ini juga disebutkan sumber dan tahun terbitnya

Mirza Ahmadhevicko: walah. kembali menyoal TI dlm kasus yg berbeda. penting diketahui oleh semua pengagumnya, supaya jelas siapa dia.

Ahda Imran: Ups, rupanya pertanyaanku sudah ada pada comment Katrin, Thx..

Hosea Pierre: rondeau.

Irwan Bajang: Halim HaDe kan kalok mitnah n hasut nggak haram bagi penyair bertopi TauFuckIsmail itu, kalo minum beer baru harom katanya.. gitu lo. Maling puisi mungkin bagi doi juga nggak harom, karena nggak ada hadistnya.. hehehehe.. yg harom kan lekra bagi si doi 🙂

Irwan Bajang: Thendra Malako Sutan pasti di kafe wayan yang mahal itu ya, sekalian lihat monyet ubud yang unyu2 kayak si TauFuck 🙂

Heri Latief: penjplak = MUNAFIQUN!

Devi Setiawan: pantesan taufik ismail mengidap paranoid berpuluh tahun thdp segala yg berbau Lekra, takut ketahuan boroknya!

Doni Suseno: waduh, temuan penting ini 🙂

Thendra Malako Sutan: Irwan Bajang, coba kita bertanya pada monyet yang bergoyang 🙂

Halim Hade: @Dwicipta, puisi taufik itu bisa ‘dibenarkan’ oleh para ahli menurut teorinya……..tinggal mau debat teori atau soal yang utama…..
MISALNYA, SOAL ANCAMAN TAUFIK UNTUK MENYERBU……ITU LEBIH PENTING……
TAPI, AKU BISA MAKLUM KEPADA PAR…A PENYAIR N PENULIS YANG LEBIH SENANG BERKUTAT DI DALAM AKUARIUM….

Halim HaDe: @Irwan Bajang @dWICIPTA, kenapa dua bulan, sekitar itu, yang lalu, kau tak omong apapun soal puisi itu, ketika di pubklikasi oleh muhidin, dan kenapa sekarang barU… yang menarik dari kasus puisi itu, setelah 2-3 bulan dilaNSIR TAK RAME…, DAN SETELAH KASUS pds JASSIN. KENAPA MENGINCAR TAUFIK MELALUI PUISI ITU, DAN KENAPA TIDAK MEMBONGKARNYA DARI SURAT-TULISAN MARTIN ALAEIDA

Halim HaDe: @Dwiiicipta, sepertinya keblinger, tanya soal bagaimana perkembangan sastera. emangnya perkembangan sastera ditentukan oleh aseli n jiplakannya taufik ismail? kalou memang mau bicara soal sastera…

Asep Sambodja: bung halim hade: semoga acara di solo hari ini bisa berjalan lancar.

Halim Hade: @Asep, apapun mesti jalan…

Katrin Bandel: @Mas Halim: Aku sepakat bahwa kita jangan kehilangan fokus – jangan sampai seluruh perhatian kita terarah pada persoalan jiplakan ini, sehingga kasus pelarangan acara di PDS HB Jassin luput dari perhatian. Tapi sejauh ini aku tidak melihat… hal itu terjadi. Bagiku sudah sewajarnya kalau di saat seorang tokoh sedang menjadi sorotan spt yang sedang terjadi pada TI saat ini, kita menjadi lebih jeli melihat tokoh itu dari berbagai sisi, termasuk membongkar kasus-kasus lama yang mungkin sebelumnya tak sempat kita perhatikan. Apa salahnya kalau di saat kita marah karena TI melarang acara diskusi dalam rangka mengenang kawan kita Asep Sambodja, kita sekaligus menggugat TI secara lebih menyeluruh? TI yang sok moralis, anti-komunis, anti-pornografi, anti-rokok, pecandu funding AS, suka pamer2 air mata saat baca puisi, … dan ternyata juga tukang jiplak.

Katrin Bandel: Aku sendiri tahu persoalan jiplakan puisi itu baru sekarang. Kalau memang berita soal kasus itu sudah beredar 2 bulan lalu, apa boleh buat, kebetulan tak sampai padaku. Jadi apa salahnya ikut bersuara sekarang…

Iwan Kurniawan: Ngomong-ngomong, siapa nih orang yang begitu teliti menemukan persamaan kedua puisi ini pertama kali. ada yang tahu?

Irwan Bajang: Aku nggak tau sebelumnya kalau ada tuduhan plagiat atas TI sebelum baca link ini. Dan mengenai #koinsastra, pelarangan diskusi di pds serta gugatan atas plagiat yg dilakukan oleh TI rasanya masih satu rangkaian.

Fuad Riyadi: “Seorang penulis,penyair, peneliti, seniman, akademisi, budayawan sudah semestinya tidak tergesa-gesa menyimpulkan satu masalah dan senantiasa memberikan contoh sikap santun-berbudaya, apalagi di arena terbuka,” begitulah kira-kira harapan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Thendra Malako Sutan: “Bahkan, ketika ditanyakan soal proses kreatif bagaimana puisinya, Kerendahan Hati, ditulis, ia berkali-kali menolak memaparkannya. Lagi-lagi Taufik, dengan nada bicaranya yang tergesa, mengelak dan beralasan hendak mempelajari puisinya terlebih dahulu.”

Jacinda Roselle: satu hal yg disayangkan… ternyata aku hanyalah anak yg malas baca buku… aku jarang baca buku2 puisi. Lebih sering mencari sesuatu yg menarik minat, yg kontroversi… ato lebih tepatnya, pilih – pilih bacaan… jadinya, tak akan per… nah tahu… mungkin bisa jadi ada plagiat – plagiat lainnya, dan mungkin salah satunya aku 🙂 hmmm…
But, thank info nya… paling tidak jadi sedikit tahu…

Sumber: http://www.facebook.com/katrinbandel/posts/189158947794969
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150137428734508