Catatan Kaki Tentang Lokal(itas)

Benny Arnas
http://www.lampungpost.com/

Menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Kerja mengarang yang sudah sampai pada titik ini akan menghasilkan karya yang kuat dalam menyajikan (sekaligus menggambarkan) setting, alur, dan (karakter) tokoh. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman estetis-psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra sama nilainya dengan memasuki taman bunga. Merasakan wangi bunga yang partikular. Aroma mawar, melati, anyelir…, mencuat dari dalamnya.

Melanie Budianta memberi batasan “lokalitas” sebagai sesuatu yang partikular (yang tertentu). Agus R. Sarjono melihat “lokalitas” sebagai penajaman perspektif. Lebih jauh ia menyatakan bahwa menjadi lokal, tak lain dan tak bukan, menjadi pribumi untuk tema-tema yang diangkat. Raudal Tanjung Banua menyatakan bahwa “lokalitas” adalah “iman” estetik dan tematik yang dikukuhi. Raudal menyoroti bagaimana kemampuan para pengarang mengeksplorasi tema dengan baik, dalam, kuat, dan memberikan “taste” tersendiri terhadap karyanya.

Dalam perkembangannya, “lokalitas dengan variannya” tak dapat secara otomatis disematkan pada pengarang. Ini bukan perkara inkonsistensi, namun lebih pada keinginan untuk melakukan eksplorasi. Baik itu eksplorasi tema, maupun gaya garapan. Walaupun begitu, pada pengarang-pengarang yang sudah kuat dan mapan kemampuan kesusastraannya, tema apa pun yang digarap, dapat kita kenali jejaknya. Hal inilah yang dikatakan Raudal Tanjung Banua sebagai “iman estetik”. Pengarang yang sudah ber-“iman” niscaya akan istikamah, konsisten melahirkan karya-karya yang memiliki kekuatan estetik yang partikular, memiliki “ciri khas”. Pengarang yang memiliki ciri khas dalam teknik garapan akan jauh lebih mudah menghasilkan karya-karya yang cenderung pada lokalitas. Karya-karyanya mampu menghadirkan kedekatan estetis-psikologis dengan pembaca. Hamsad Rangkuti, Raudal Tanjung Banua, Joni Ariadinata, Gus tf Sakai—sekadar menyebut beberapa nama—adalah pengarang-pengarang yang telah berada dalam taraf itu.

Hal lain yang dirasa menggelitik adalah tentang “tradisionalitas”. Bukan hanya karena ia kerap disamadengankan “lokalitas”, melainkan juga fakta bahwa ia seolah tak habis-habisnya dijadikan bahan cerita dalam kesusastraan Tanah Air, hingga melahirkan skeptisme: kedaerahan yang menyusup (bahkan mewarnai) sebagian karya-karya lokal, membuat (pembaca) bingung: ini sastra Indonesia atau sastra daerah? Lalu, untuk apa lokalitas (tradisionalitas) ditulis/dijadikan unsur cerita apabila citarasa lokalnya akan serta-merta hilang bila diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Inggris)?

Mari kita kembalikan pertanyaan-pertanyaan di atas pada geo-kultur Indonesia. Dengan kebhinnekaannya, sastra daerah adalah refleksi sastra Indonesia itu sendiri. Beragamnya nuansa kedaerahan yang muncul dalam karya sastra menunjukkan betapa bergeliatnya sastra Tanah Air. Betapa penggiat sastra negeri ini memiliki militansi dalam menampilkan otentitasnya, menampilkan identitasnya yang murni, paling tidak dari tema-tema genuine (asli daerah) yang mungkin saja hanya terdapat di daerah mereka. Misalnya, uang jumputan di Minangkabau, warahan di Lampung, senjang di Sumatera Selatan, atau koteka di Papua. Ya, dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa, dan perbedaan budaya, sangatlah wajar bila tradisionalitas selalu up date, selalu menarik untuk diketengahkan dalam karangan.

Bagaimana dengan alih-bahasa, yang memungkinkan hilangnya rasa lokal pada karya tradisionalitas?

Tentang ini, tak sepenuhnya dapat diiyakan. Beberapa karya Gbariel Garcia Marquez yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa Amerika Latinnya, atau masih terasa realisme-magisnya; atau karya-karya Akutagawa Ryunosuke ketika dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa Jepang-nya. Artinya, sangat tergantung pada—kemampuan dan sensitivitas—penerjemahnya.

Sejauh mana ia mampu mencari padanan kata yang mewakili rasa cerita yang diterjemahkan. Namun begitu, fakta yang harus lekas disadari adalah, ke-Indonesia-an kita sejatinya magnet; kecenderungan pembaca yang menyukai hal-hal yang belum mereka ketahui (termasuk apa-apa yang terjadi di daerah lain), telah membuat tema tradisionalitas sejatinya masih begitu menarik untuk diangkat dan digali. Hal lain yang perlu ditambahkan pula adalah, bila sebelum mengangkat tradisionalitas dalam karangan kita harus memikirkan “apakah rasa lokalnya masih akan ada atau hilang”, alangkah repotnya mengarang tradisionalitas itu! Kalaupun begitu, semoga ini bukan hipotesis bahwa mustahil mencapai lokalitas dari tradisionalitas. Ada-ada saja.

*) Pengarang, tinggal di Lubuklinggau