Cinta Menebar dalam Sajak-Sajak Budi P. Hatees*

Udo Z. Karzi **
cabiklunik.blogspot.com

TERUS terang, agak bingung juga ketika saya diminta membahas sajak-sajak Budi P. Hatees yang dibacakan dalam Bilik Jumpa Sastra malam ini, Jumat, 18 Agustus 2006. Lebih bingung lagi ketika saya menerima 30 sajak dalam manuskrip bertitel Mulak, Kumpulan Sedikit Puisi. Rencananya sih mau diterbitkan menjadi buku.

Saya punya waktu dua hari untuk sedikit mengapresiasinya. Ya, sekadar mengapresiasi. Sebab, hendak mengkritik rasanya saya tak punya perangkat (semacam teori sastra) memadai untuk itu. Saya harus membatasi diri. Tidak semua sajak dapat saya jelajah secara detil.

Maka, saya hanya ingin melihat sebuah sisi: “cinta” dalam sajak-sajak Budi P. Hatees dalam manuskrip ini. Soalnya sederhana, saya membaca begitu banyak cinta bertebaran dalam manuskrip ini, meski terkadang cinta itu terasa getir. Ya, cinta yang getir.

Maaf, kalau saya pun ingin berbagi rasa soal yang mungkin dianggap sudah basi ini. Tapi, tidak juga. Lihat saja bagaimana penyair masih gemar mengolah cinta dalam syair-syairnya. Tak terkecuali Budi. Tak beda, saya juga. Hahaha….

Cinta, ah….
* * *

Kita coba masuki cinta. Saya kutip utuh sajak Budi berikut ini.

cerita tentang perahu

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia menemukan bangkai
sebuah perahu, “ini perahu nuh,” katanya. berbulan-bulan
ia perbaiki perahu itu dan hartanya ludes ke situ.

orang-orang tertawa, anak-anak mengejeknya:
“gila! gila! gila! kapan kau berlayar?”
sambil melempari perahu dengan tahi

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia ingin marah
dan menghardik anak-anak itu. tapi ia ingat kepada nuh
sambil mengurut dada, ia berdoa:
“tuhan, beri hamba kesabaran nuh!”

tapi anak-anak lain datang dan merusak perahunya sambil
mengejek: “gila! gila! gila!”

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia tak lagi sabar
dan akhirnya marah. tiga anak-anak ditangkap dan dihajarnya,
orang-orang marah padanya, balik menghajarnya.

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia menemukan bangkai
perahu lain. “ini perahu nuh” katanya
suster rumah sakit jiwa menampar wajahnya dan berkata:
“tolol, ini kamaluanku.”

Cinta adalah sebuah kegilaan. Setidaknya, itu dapat ditangkap dari sajak ini. Entah bagaimana perahu Nuh — sebagaimana dikisahkan dalam cerita nabi-nabi — menjelma dalam kepala seseorang, entah siapa, dan bukan siapa-siapa. Anak-anak menyebutnya “gila”.

Tapi, itulah cinta. Dan, Budi pun mengakhiri puisi ini dengan humor pahit dan sedikit (tidak) jorok: “tolol, ini kemaluanku.”

Sajak ini seperti ingin menyodorkan sebuah nilai kebenaran, kejujuran, dan kesabaran dari sudut pandang lain berbeda sama sekali.

Membaca “Cerita tentang Perahu”, tidak bisa tidak kita segera terhubungkan dengan sebuah sajak Sapardi Djoko Damono ini:

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

(dari Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas, 1982).

Ada kemiripan sajak “Cerita tentang Perahu” dan “Perahu Kertas”. Tapi, jelas berbeda. Keduanya sajak dari penyair berbeda ini, boleh dibilang, liris-naratif. Keduanya menggunakan anak-anak (kanak-kanak) dalam menggarap sajak.

Namun, gaya repetisi yang digunakan Budi dalam sajaknya, tidak dilakukan Sapardi. “Perahu Kertas” mengalir begitu saja sampai kemudian mendengar Nur. Dan, barulah kita berpikir tentang sebuah peristiwa beratus-ratus tahun dulu berkali-kali dituturkan.

Entah, Budi hendak “menyindir” atau apa, sajak “Cerita tentang Perahu” berlainan sekali dengan sajak Sapardi itu. Barangkali saja Budi hendak mengkritik kaum agamawan menjadi “gila” justru karena ajaran agama itu sendiri. Entahlah…
* * *

Selanjutnya, Budi seperti mengajak saya kembali ke pekon (kampung halaman).

ke tapian nauli, ingatanku selalu kembali
mendengar deru angin berbaris menuruni lereng sibualbuali
menyimpan cerita tentang hutan yang asri dalam aromanya
dan meledakkanya menjadi gemericik air di air sungai
dimana kaperas menari begitu gemulai
di antara pasir, batu-batu besar, dan lumut pada batu-batu itu

semua itu seperti cerita inang-inang
selalu menyeru-nyeru datang:
“pulanglah, pulang,
amangku sayang!”

(“Mulak”, Budi P. Hatees)

Bukan mengada-ada jika ingatan saya segera terseret ke pekon tempat saya dilahirkan di Bukit Barisan Selatan, di Kaki Gunung Pesagi itu. Walau tak sama persir, saya merasakan suasana yang mirip sebagaimana digambarkan Budi dalam sajak ini.
Saya juga punya sajak serupa (sori, saya numpang sosialisasi!). Saya kutipkan.

bagaimana bisa aku lupa ketika dingin, embun, dan gerimis pagi memanjakan tubuhku yang letih. kehangatan kopi kentalmu membangunkan semangat menuju ladang, sawah, dan kebun kehidupan. jalan setapak berliku-liku yang basah kehujanan semalam menguatkan langkah kaki petani-petani menyongsong matahari. palawija, padi, dan kayu manis adalah anugerah dari kesuburan tanah di balik bukit.

berdiri di ketinggian sekara jaya, aku menyaksikan awan-awan tersangkut di bukit bukit. desir angin, gemericik air, dan desau ilalang membisikkan gelora cinta liwa kota berbunga ke telingaku. lembah-ngarai dan telaga ham tebiu semakin mendalamkan makna kehadiranmu dalam setiap denyut zaman.

(“Bagaimana Mungkin Aku Lupa”, Udo Z. Karzi)

Lahir di sebuah daerah yang – saya sebut saja — indah permai di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 3 Juni 1972, Budi banyak “menganyam” kekayaan alam itu bagi idiom-idiom dalam sajak-sajaknya. Selain sajak di atas, beberapa idiom alam dilekatkan pada puisinya, seperti angin tembaga, langit yang beku, hujan segera turun, sebatang sungai, pasir, ombak, laut, daun-daun, kopi, lada, dan seterusnya.

Budi juga bertutur tentang dirinya (aku liris), laki-laki dan atau kelelakian, perempuan dan atau keperempuanan, kakak, istri, anak, pacar, sebuah tempat-sebuah waktu, dan atau banyak tempat-banyak waktu.
* * *

Barangkali, menarik juga menyimak imajinasi Budi P. Hatees mengenai Lampung, lebih tepatnya Bandar Lampung. Setidaknya, empat puisi dalam manuskrip ini: “Kota ini Mengutuk Siapa Saja”, “Seandainya”, “Lampung”, dan “Gedung-Gedung di Kota”; dapat kita tandai sebagai “pandangannya” tentang Lampung atau Bandar Lampung, sebuah daerah asing yang kemudian menjadi tempatnya bermukin sejak sembilan tahun lalu.

Saya tak mengerti mengapa Budi berkata:

dikutuk di kota ini, tinggal sendiri
memanjakan kekufuran, mengabaikan kematian

(“Kota Ini Mengutuk Siapa Saja”, Budi P. Hatees)

Bandar Lampungkah yang dimaksud? Entahlah. Tapi, jangan-jangan semua kota telah mengutuk kita. Tak hanya Budi.

Soal kemelut politik di Lampung, yang tak juga usai boleh jadi, inilah yang hendak dipotret Budi:

sudah! sudah! sudah kataku!
sudah lama ruang ini didekap gelap
hingga kita selalu meraba dan saling menabrak
kita selalu mengaduh oleh rasa sakit yang sama
nyeri yang tak terawat

(“Lampung”, Budi P. Hatees)

Sudahlah, ini semua soal cinta. Rindu-dendam, konflik-integrasi, perang-damai, dan seterusnya adalah kata lain dari “cinta”. Cinta adalah …. Dia menjadi sumber energi yang tak habis untuk menggali kreativitas. Dia tak pernah menjadi basi. Budi bertutur tentang apa saja, tentang siapa saja — tentu, banyak hal yang luput dari amatan saya — muaranya sama: cinta.

Pat Kai, tokoh manusia babi dalam cerita serial televisi “Kera Sakti” (baca: Udo Z. Karzi, “Begitulah Cinta” dalam Etos Kita, Moralitas Kaum Intelektual, 2002), memang berkata: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir….” Tapi, tetap saja cinta membuat hidup terasa lebih hidup. Dan, Budi tahu persis bagaimana mengolah cinta itu.

———
* Esai untuk diskusi sajak-sajak Budi P. Hatees yang dibacakan dalam Bilik Jumpa Sastra yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Jumat, 18 Agustus 2006

** Udo Z. Karzi, pengasuh Klinik Sastra Bintang Pelajar Harian Umum Lampung Post. Menulis sajak, cerpen, dan esai di berbagai media sejak 1987. Buku puisi dwibahasanya: Momentum (2002). Cerpen dan sajak lainnya terhimpun dalam berbagai antologi bersama.
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/08/esai-cinta-menebar-dalam-sajak-sajak.html