Dowong: Kampung Halaman Dunia

(Catatan super sepeleh, super ringan, super ceketer dari penulis)

Sabrank Suparno

Saat Carlos Miquel Fonseca Horta (seniman asal Portugal) sms kalau dia hendak datang ke rumah di Dowong-Plosokerep, kecamatan Sumobito-Jombang, saya bilang ke ibu, “akan ada tamu, turis. Nanti suguhannya (jamuan) kita membikin jajan ndeso saja: gentilut, jemblem, utem-utem, brubi, gethuk. Makan pun kita sediakan nasi jagung, supaya ia merasakan jenis makanan ndeso.”

Dua hari sebelum kedatangan dia, saya mendatangi Pak Lurah untuk menyetempelkan undangan yang akan saya sebar ke remaja desa. Sengaja, sehubungan kedatangan tamu dari luar negeri, saya mengundang remaja desa untuk berkumpul, berdiskusi, agar remaja terbiasa bertemu dan berbincang dengan bule. Surat pun ditandatangani oleh Pak Abdul Kotib, kepala desa saya. Sehubungan dengan peringatan Isro’-Mi’raj, saya mengemas acara itu dalam tajuk; Diskusi Perjalanan Budaya, tepatnya tanggal 12 Juli 2009.

Tangal 11 Juli, Miquel sms kalau akan berangkat dari tempatnya jam 2 dinihari. Saya pikir, ia sedang berangkat dari rumah I Ketut Bambo di JL. Soka Denpasar Timur, tempat ia belajar gamelan, ternyata ia berangkat dari Yogya, serayanya ia mampir dulu ke kampus ISI sebelum ke Jombang. Artinya, kalau berangkat dari Yogya jam 2 pagi, tentu jam 8 sudah sampai di Peterongan-Jombang, padahal sepagi itu, saya masih nyitak boto.

Tepat jam 8 pagi, ia sms kalau sudah sampai di Peterongan yang sms itu tidak langsung masuk ke hp saya, dan baru masuk satu jam kemudian. Terang saja ia lama duduk santai di pasar Peterongan yang pasti dikerubuti orang serta ditawari naik becak hendak kemana. Setelah ia membaca sms alamat saya, barulah ia bertanya kepada orang kalau hendak ke desa Dowong-Plosokerep. Setelah ditunjukkan arah jalannya, Miquel malah berjalan kaki menuju kampung Dowong, ia tidak mengendarai becak. Otomatis sepanjang perjalanan, ia diberondong pertanyaan orang, hendak ke mana? Bagi masyarakat Yogya, apalagi Bali, turis masuk kampung sudah lumrah, tetapi bagi warga sekitar desa saya, hal itu tentu aneh, apalagi yang ia mencari desa terkecil, terpencil di kawasan sekitar. Saya pun segera menjemputnya pada paruh perjalanan dengan motor, dan ia sampai di rumah saya tepat jam 09:30 WIB.

Selama di rumah itulah kami berdiskusi berbagai hal. Ia bercerita banyak tentang negerinya Portugis selama krisis finansial global melanda eropa. Perekonomian rakyat Portugal berada pada taraf memprihatinkan. Ia menilai, penyebab utamanya ialah bahwa negerinya tidak memiliki sumber daya yang kuat sebagai penopang ketahanan negara, terutama bidang pangan. Sektor pertanian tidak digarap secara serius oleh pemerintah yang sedang berkuasa. Justru yang dijadikan kekuatan ekonomi lokal ialah produksi perkebunan anggur sebagai suplai terbesar pabrik minuman keras. Sedang Portugal sendiri tercatat sebagai pengeksport terbesar produk minuman keras pada negara-negara musim dingin eropa sekitar.

Adalah hal utama yang menjadi penyebab keprihatinan (sebut: krisis) di negaranya, yakni jatuh tempo penagihan hutang dari Bank Dunia. Miquel menjelaskan bahwa selama ini Portugal dan negara eropa lainnya membangun kemegahan negaranya: sarana dan prasarana-gedung-gedung pencakar langit, bisnis intertaitment, dana penggaet bilateral dengan Asia Tenggara adalah ‘uang hutang’ dari IMF. Ketika modal utangan tersebut ditagih, eropa tidak bisa mengembalikan kecuali menjual barang yang sudah dibangunnya.

Keadaan tersebut berbeda dengan Dowong (Indonesia-Asia), yang masih bisa makan dari hasil pertanian selama terjadi krisis. Pada tingkat kebutuhan dasar yang paling urgen, manusia tidak membutuhkan apapun kecuali makanan yang jelas-jelas diproduksi oleh petani. Sama halnya pertanianlah yang sesungguhnya menjadi penyangga keberlangsungan hidup di muka bumi. Berpolitik, berkesenian, berjingkrak-jingkrak macam apapun, pada akhirnya akan lapar, selanjutnya mencari makanan. Dengan basis ekonomi pertanian yang kuat, sesungguhnya Indonesia tidak berpengaruh sedikit pun saindainya terjadi embargo atas eropa. Bahkan sebaliknya, eropalah yang sangat bergantung kepada Indonesia dengan berbagai sistemnya.

Menyadari bahwa sistem yang diterapkan seluruh dunia pasti berakibat krisis, kami menilai diperlukannya jalinan regional atau bilateral yang efektif menyelamatkan anak cucu dunia mendatang. Tetapi rumusannya tidak jauh dari pengandaian Miquel, yakni ingin seperti Dowong yang ibarat kampung halaman dunia, dimana untuk menghidupi dirinya, tidak perlu harus merantau, urbanisasi seperti yang dilakukan warga Portugal ke negara-negara lain. Cukup dengan memberdayakan daerah sebagai mesin kekuatan lokal.

Menunggu jam 7 malam saat berlangsungnya diskusi, seperti teman sedesa atau teman dari kota mana pun, Miquel saya ajak ke warungnya Yu Darmani. Selain gondam bertemu dan berbincang dengan turis, lumayan, dalam sekali seumur hidup warung Yu Darmani pernah didatangi turis.

Begitu pula saat dirumah, banyak warga yang merangsek masuk untuk bersalaman. Yu Saropa misalnya, “kok ada cowok tapi cantik, ia dari jauh ta?” Ibu menjawab “tetangganya Ronaldo pemain sepakbola itu lho!”. Miquel juga bertamu ke beberapa tetangga. Sengaja saya membiarkan mereka berakrabria sesuai dengan cara yang tak kalah menariknya dengan akting film si ‘Bule Masuk Kampung’.

Setelah isya’, acara diskusi mulai digelar di musholah Dowong. Selain lebih kurang 100 remaja, hadir juga seluruh warga desa sambil membawa aneka jajan ndeso. Setelah dibuka oleh tokoh warga Dowong, waktu diberikan ke saya yang mereka anggap tau seluk-beluk prosesi acara. Sebelum diskusi saya pandu, saya membuka dengan bermonolog dengan judul: Jombang dan Peta Kebangkitan Zaman. Sengaja saya memakai metode monolog, dan bukan berceramah. Sementara Miquel berbicara seputar kekuatan ekonomi lokal ala pertanian dan menggambarkan kilas balik kerapuhan negerinya akibat tidak tersusun seperti pertanian di desa sini (Indonesia).

Diskusi terjadi gejolak perdebatan panas ketika seorang remaja bertanya kepada Miquel perihal apa agamanya? Dan Miquel menyatakan bahwa dirinya atheis. Untuk meredam perdebatan dan meluruskan cara pandang peserta, akhirnya saya melempar satu pertanyaan kepada Miquel; “Miquel, anda menyatakan sebagai orang atheis, anda pilih mana jika dunia ini damai, rukun, guyub, bersahaja, ataukah dunia ini rusak dengan peperangan?” Dengan tegas Miquel menjawab “ouw, jelas suka yang damai.” Jawaban Miquel inilah yang saya ambil sabagai tonggak pelurus cara berfikir. “Ya sudah, urusan anda selesai, mau atheis kek, apa kek, kalau anda ingin dunia ini damai, itu artinya engkau lebih agamis daripada kaum agamis yang bertikai.” Hehe, lumayan, dielektika ceketer tersebut mampu menohok kesadaran dasar cara berfikir otentik.

Sayangnya seksi pendokumentasian foto yang saya percayakan kepada Hanik (remaja desa yang kuliah di jurusan Ekonomi STKIP), memorinya terhapus gara-gara kodaknya dipinjam teman sekampus.

*) Penulis lahir di Jombang 24 Maret 1975. Redaktur Bulletin Lincak Sastra.