Ka-De-eR-Te

Nadjib Kartapati Z
http://www.suarakarya-online.com/

Baru saja pulang dari mengajar, di teras sudah ada dua polisi menunggu. Setelah mengucapkan selamat siang, polisi itu menunjukkan surat perintah.

Yang berwajib akan menyidikku dalam kasus KDRT, dan akulah tersangkanya. Sadarlah aku, posisiku terpojok di depan hukum. Istriku untuk kesekian kali membuatku kehilangan muka.

Memang kuakui, aku melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Yuni, istriku. Hukum tak akan membedakan mana kekerasan yang bermotif mendidik atau membuat jera dengan kekarasan yang berlatar belakang kebencian atau kejahatan.

Kawan! Aku ceritakan kenapa aku melakukan KDRT atas istriku, dengan harapan kalian mau sedikit saja sekali lagi sedikit saja memaklumiku.

Ketika aku menikahi Yuni, gajiku sebagai guru SMU boleh dibilang cukup longgar jika untuk kebutuhan pokok plus menabung alakadarnya.

Tapi Yuni, dalam waktu-waktu tertentu, masih mengeluh kurang. Tujuhbelas bulan setelah menikah lahirlah anak kami. Pada periode ini pun sebenarnya gajiku masih aman, dengan catatan: dikelola dengan manajeman yang baik dan wajar. Tapi, suatu hari, Yuni dengan wajah keruh berkata kepadaku, “Mas, uang kita sudah mulai habis lho. Padahal masih tanggal 20!”

Aku tertegun. Sengingatku bulan ini tak ada pengeluaran yang istimewa. Kuserukan agar Yuni sebisa mungkin mengirit sisa uang yang ada. Aku pun mencari sambilan lain secara serabutan, termasuk ngojek malam hari agar tak dilihat teman-teman seprofesi. Tapi, tiap tanggal 20 istriku masih selalu mengeluhkan. Aku merasa heran.
“Kamu tidak percaya? Kenyataannya uang kita memang habis, Mas,” katanya.

Solusi yang simpel setelah gagal cari objekan adalah ngutang sama teman. Istriku yang tahu kalau aku pantang ngutang, langsung menyindir, “Bukannya kamu pantang pinjam duit orang lain? Kamu bilang itu memalukan, kok kamu lakukan juga?”

Aku tidak menanggapi. Tapi, celakanya, Yuni menafsirkan bahwa kami boleh saja berhutang. Bulan berikutnya, tanpa seizinku, ia ngutang di warung Bu Mar berupa sekarung beras, beberapa kilogram gula pasir, dan satu dos mi instan. Ini benar-benar merobek harga diriku. Selama ini Bu Mar begitu menghormatiku. Di mana aku mesti sembunyikan muka? Aku marah besar.
“Emangnya kenapa, Mas? Tempo hari kamu juga ngutang?” bantah istriku.
“Kalau utang lihat dulu siapa yang mau kita utangi. Bu Mar begitu hormat sama kita, Yun. Aku malu jadinya!”

“Dia no problem, Mas. Dia bilang, kalau perlu apa-apa bisa ambil dulu di tokonya.” “Tidak! Jangan kamu ulangi! Kalau terpaksa utang, harus izin aku dulu!” Namun, bulan berikutnya, saat sisa gajiku sudah menipis, tanpa seizinku Yuni bon barang di toko Bah Blotong dengan jumlah yang lebih besar lagi. Ketika kumarahi, dia menjawab, “Aku bon bukan di Bu Mar lho, Mas. Buat apa kita malu sama Bah Blotong?”
“Jangan ambil utang tanpa seizinku! Paham? Awas kalau kamu ulangi!”
Atas ancamanku itu, Yuni jadi senewen. Ia meracau. Kami pun perang mulut dan berhamburanlah kata-kata yang tak pantas. Aku mulai tidak percaya pada manajemen istriku.

Maka kuusut bagaimana cara ia menggunakan uang. Ternyata dalam hal ini aku menangkap ketidakberesan dan menyimpulkan kalau ia terlalu boros.

Akibat bon istriku, gajiku bulan depan makin ramping. Manajemen pun aku ambil alih. Kuberi Yuni uang belanja per minggu. Ini lebih mudah kalkulasinya, toh menurut hitunganku jumlah gajiku masih cukup untuk menutup kebutuhan hidup tiap bulannya. Dan ternyata hal ini berjalan lancar. Bahkan masih ada sedikit sisa yang bisa ditabung.
Namun, yang kualami pada bulan-bulan berikutnya sungguh menyakitkan.

Istriku benar-benar mempermalukan aku habis-habisan. Beberapa teman baikku telah mengirim surat kepadaku, yang isinya menagih utang. Aku shock dibuatnya. Ternyata istriku telah meminjam uang pada mereka dengan mencatut namaku.
“Hancur harga diriku, Yun! Kamu sudah bikin malu aku!” ratapku. Yuni bungkam. Setelah kumarahi dan kupaksa angkat bicara, ia berkata, “Buat jajan.
Abis, sekarang aku nggak pegang duit lagi? Orang kan pengin beli ini-itu, Mas!”

Sebagai suami aku harus tahu ke mana larinya duit itu. Ternyata, ia suka foya-foya. Ia gemar pergi mentraktir kawan-kawannya di rumah makan dan membelikan mereka bunga atau buah-buahan.

Barulah kuketahui bahwa ternyata jumlah pakaian istriku juga bertambah tak sedikit. Bagaimana aku mencegahnya? Ketika hal ini kuadukan kepada orang tuanya alias mertuaku, mereka tidak terkejut sama sekali.

“Itulah sifat anakku,” ucap mertua perempuanku, tenang. “Dia hanya dua tahun kuliah juga karena sifatnya itu,” timpal mertua lelakiku, juga sama tenangnya.

Barulah kutahu bahwa Yuni mandeg kuliah karena orangtuanya tak sanggup lagi membiayai. Setiap kali terima kiriman uang bulanan, sepuluh hari kemudian sudah minta lagi. Konon uang itu untuk bersenang-senang bersama teman-temannya.

Kawan! Jangan salahkan kalau batas toleransiku makin menipis. Sebab, pada waktu-waktu berikutnya Yuni masih mengulangi perbuatan yang sama.

Aku marah. Terjadi perang mulut yang seru. Istriku meraung-raung hingga para tetangga berdatangan. Mereka jadi tahu duduk persoalannya, yaitu soal utang. Harga diriku hancur berantakan.

Tetangga maupun teman yang dulu menghormatiku, kini menatapku iba. Sekarang aku hanya menjadi objek pembicaraan mereka sehubungan dengan “penyakit” istriku.

Sering aku memergoki mereka membicarakan Yuni, dan mendadak terdiam ketika aku datang. Kalau dulu mereka memandangku sebagai guru yang punya wibawa, kini justru merasa kasihan. Ada di antara mereka yang tidak tega menagih uangnya.
“Saya mohon Saudara tidak tersinggung,” kata kepala sekolahku, suatu hari.
“Istri Saudara beberapa waktu lalu pinjam uang pada Pak Gono dan Pak Marulam. Ia bilang atas suruhan Saudara. Masalahnya, mereka sungkan nagih. Benar Saudara yang nyuruh?”
Rasanya aku ingin membeset wajahku sendiri. Jalan apa yang mesti kuambil untuk memberi istriku pelajaran?
Dengan menanggung segunung rasa malu kutemui Pak Gono dan Pak Marulam, kubayar semua utang istriku. Mereka menerima penuh rasa canggung.
Sekarang aku merasa tak punya lagi harga diri. Jelas aku tak sanggup hidup dalam lingkungan yang seperti ini.
Satu-satunya jalan, aku harus pindah untuk memperbarui lingkungan.
Keputusanku sudah bulat, dan aku pun mengajukan permohonan pindah.
“Di tempat baru nanti, awas kalau kamu sampai bikin ulah lagi! Kamu dengar?”
Istriku mengangguk, seolah-olah menyadari kekeliruannya.

Nasib baik masih sedikit memihakku. Permohonan pindah dikabulkan. Seperti yang kuprediksi, di tempat baru ini aku dan istriku dihormati oleh lingkungan, baik tetangga maupun teman-teman guru.

Dan aku sengaja membatasi pergaulan istriku dengan teman-temanku, dengan cara tidak mengajaknya menghadiri berbagai pertemuan.
Tapi, ternyata teman-teman baruku itulah yang sering bertandang ke rumahku untuk sekadar ngobrol.
Yuni kupercaya lagi pegang manajemen keluarga. Artinya, seluruh gajiku kuserahkan padanya. Tiga bulan pertama tak ada masalah.

Menginjak bulan keempat, ia mulai mengeluh uang habis sebelum akhir bulan. Bulan berikutnya, bahkan baru tanggal 15 sudah tak lagi pegang uang.

Aku menduga Yuni sudah punya teman akrab yang diajak jalan-jalan dan makan di restoran. Tak ada ampun, manajemen kuambil alih kembali.
“Mas, aku kemarin bon kue dan softdrink di warung sebelah,” kata Yuni satu hari.
Aku mengangguk memaklumi karena ia memang perlu cemilan. Maka segeralah aku bayar semua bon Yuni di warung sebelah.

Demikianlah, hampir tiap hari ia ambil cemilan di warung. Namun, barangkali saja ia mengira soal utang tak ada masalah lagi bagiku. Suatu hari, aku bertandang ke rumah Budi, sahabat baruku.
Saat aku sedang menunggunya mandi, di mejanya kutemukan selembar surat yang tertanda namaku.
Aku mau semaput rasanya. Isi surat itu: aku mohon utang karena lagi terdesak keuangan.
“Iya! Kemarin istrimu ke sini membawa surat itu,” kata Budi menjelaskan.

Saat itu juga uang Budi langsung kukembalikan. Lalu aku berpesan kepadanya agar tidak meladeni hal serupa di belakang hari. Sampai rumah aku tak bisa menahan amarah.

Tanganku nyaris kulayangkan untuk menampar wajah Yuni, tapi kuurungkan. “Kamu sudah berbuat kriminal,” raungku sambil membanting gelas sebagai pelampiasan.

“Memalsukan surat dan tanda tangan bisa dilaporkan ke polisi. Ngerti?” Untuk menjaga kemungkinan buruk berikutnya, aku hubungi semua temanku dan berpesan agar tidak memenuhi permintaan utang istriku.
Ini solusi yang rada edan, sebab karenanya semua temanku jadi tahu tentang “penyakit” Yuni.
Dengan ungkapan lain: aku telah membongkar borok sendiri. Cara itu terbukti ampuh membendung ulah Yuni.
Tapi, betapa terkejutnya aku karena Yuni sering keluyuran dengan pakaiannya yang serba baru. “Dari mana kamu dapat uang?” usutku.

Yuni bungkam. Meski kuancam akan kuhajar kalau tidak mengaku, ia justru menutup rapat mulutnya. Aku terpaksa harus menjadi intel untuk mengetahui semuanya.

Suatu hari, saat aku tidak mengajar, dari dalam rumah kudengar istriku rebut-ribut dengan seorang lelaki. Adu mulut itu makin lama makin keras. Aku keluar mengusutnya.

Astaga! Terbongkarlah modus operandi Yuni yang sungguh-sungguh mencengangkan. Kawan! Jangan tertawa mendengar cara istriku yang ganjil sekaligus tolol ini. Lelaki yang ribut tadi adalah tukang kredit.

Istriku mengambil barang rumah tangga yaitu termos, kompor, magic jer, rak piring, DVD, dan lain-lain dengan cara menyicil.

Barang-barang itu langsung ia jual tunai kepada tetangga atau kenalannya dengan harga miring. Bahkan ia melayani pesanan harga spesial bagi yang ingin beli tunai. Barang itu ia ambil dari tukang kredit. Artinya, rugi pun tak apa, yang penting mendapat uang cash.

Dari waktu ke waktu berdatangan tukang kredit menagih ke rumah. Aku terkulai lemas saat menjumlah semua utang istriku. Habislah sudah toleransiku.

Atas nama suami yang ingin mendidik dan berharap istrinya insyaf, kutampar wajah Yuni empat kali. Pada tamparan terakhirku ia terhuyung, dan pelipisnya pun kejeduk lemari hingga lebam.
Yuni menangis meraung-raung. “Aku tak bisa memaafkan perlakuanmu, Mas!” jeritnya dengan suara parau.
Ia lalu mengemasi pakaiannya dan membawa anaknya pergi dari rumah.

Dan aku segera menjual motorku, kendaraanku satu-satunya untuk pergi mengajar dengan harga cukup murah buat membayar utang-utang istriku kepada sejumlah tukang kredit itu.

Dalam hati aku berharap suatu hari Yuni pulang kembali, tapi yang kudapati kemudian justru polisi yang siap menyidikku sebagai tersangka KDRT.***