Sastra, Sains, dan Spirit Jaman

Imam Nawawi *
Minggu Pagi, 8 April 2011

Sastra diasumsikan ruang luas bagi permainan imajinasi kreatif, hamparan tak bertepi bagi loncatan-loncatan kreatifitas yang bersemangat. Sastra selalu bebas dari batasan-batasan rasionalitas dan kebenaran logis, selain logikanya sendiri.

Berkebalikan dengan sastra adalah sains. Sains sangat kaku dan terkekang dalam garis rasionalitas dan kebenaran ilmiah. Imajinasi tidak menemukan tempat nyaman dalam dunia sains. Imajinasi berada satu jengkal di depan rasionalitas, dan sekaligus pemicu semangat bagi sains untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Hubungan sastra dan sains adalah hubungan yang simbiosis, magnetis, dan satu sama lain saling mendorong kepada bentuk yang revolutif. Sastra menawarkan segala harapan dan cita-cita, menyuguhkan satu paket kemungkinan-kemungkinan, dan kemudian adalah tugas sains untuk merealisasikan semua itu.

Sastra yang acuh tak acuh pada hasil kerja sains sama halnya dengan seseorang yang tak mau berguru dalam mencari ilmu; sama halnya dengan siswa SD yang berdebat dengan seorang profesor. Dengan pengertian lain, sastra akan bergerak dan hidup dalam sebuah dunia yang lebih rendah nilainya dibanding kebenaran dunia ilmiah yang dikandung sains.

Begitu halnya dengan sains yang tak mau melirik sastra—sastra yang sudah melampaui sains. Sains akan menjadi satu paket konsep dan wujud konkrinya yang beku, stagnan, dan tak bergerak progresif. Penemuan dan pengembangan baru dalam dunia sains tidak akan pernah terwujud tanpa didahului oleh harapan-harapan akan kemungkinan-kemungkinan baru untuk mewujudkan efisiensi hidup manusia. Harapan akan kemungkinan seperti itulah yang mesti dilirik sains dalam kado persembahan sastra. Albert Einstein (1879-1955) mengatakan, Imagination is more important than knowledge.

Xiao Feng, seorang ilmuan China dalam bukunya The Scientific Spirit And Humanistic Spirit’, The Chinese People’s, 1994, mengatakan, spirit sains dapat berkolaborasi dengan ilmu-ilmu sosial-humaniora, dan sastra termasuk di dalamnya.

Mengapa harus merujuk pada sains? Inilah yang perlu ditangkap oleh sastra, bahwa spirit jaman kontemporer adalah semangat sains dan teknologi. Ruh sains dan teknologi merasuk dalam setiap peradaban dunia maju. Kemajuan suatu bangsa diukur dari penguasaannya terhadap sains dan teknologi. Sebaliknya, keterbelakangan suatu bangsa ditandai minimnya pengetahuan dan penguasaan akan sains dan teknologi.

Sepanjang sejarah manusia sains dan teknologi adalah alat utama dan terutama dalam pengembangan peradaban. Satu emperium besar, kekaisaran, kekhalifahan, dan sejenisnya mampu membangun peradaban dunia tidak lepas dari penguasaannya atas sains teknologi yang kokoh dan mapan, misalnya, dalam kasus pengembagan alat-alat militer. Peradaban Babilonia, Sungai Nil, Romawi, Persia, dan semacamnya tidak lepas dari penguasaan mereka atas sains teknologi yang lebih maju dibanding bangsa-bangsa lain.

Spirit jaman tidak selalu konstan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Ia bisa tampil dalam ragam wajah dan varian. Akan tetapi, spirit jaman selalu ditandai dengan kontribusinya untuk pengembangan peradaban dan kebudayaan. Spirit jaman menurut Hegel adalah roh absolut yang mengerakkan dunia dan kehidupan.

Sastra dan sains hanyalah sebatas instrumen dan bukan tujuan akhir dari eksistensi dirinya sendiri. Sekalipun sering muncul wacana art for art namun ia sama halnya membunuh sastra secara pelan-pelan dan halus. “Seni untuk seni” tiada lain sebuah upaya menjauhkan sastra dari realitas dan spirit jaman, dimana keduanya adalah kehidupan riil manusia itu sendiri.

Mengingat eksistensi dan tugasnya sebagai istrument, maka sastra dan sains harus bekerjasama dan saling melengkapi satu sama lain untuk menjaring spirit jaman. Sains berperan sebagai ibu yang melahirkan dan menjawab setiap kebutuhan manusia, dan sastra sebagai bapak yang menanamkan benih harapan dan cita-cita yang melampaui hasil kerja sains selama ini. Sains bertugas di ranah konkrit dan sastra berjuang di wilayah yang abstrak penuh kemungkinan-kemungkinan.

Wacara korelasi sastra, sains, dan spirit jaman adalah wacana baru yang lahir dari renungan mendalam atas kemajuan Dunia Barat; dunia pertama, dunia maju. Setidaknya dua tahun terakhir (2010-2011) buku-buku sastra adalah buku-buku bestseller yang menempati ranking pertama. Ini sebuah pertanda Dunia Barat telah lebih dahulu memperoleh pencerahan dan kesadaran bahwa sastra merupakan barang berharga yang tinggi nilainya.

Film-film produk hollywood adalah bukti lain persenyawaan dan hubungan intim antara imajinasi sastra dan kemajuan sains dan teknologi Barat. Sangat sulit bahkan jarang kita temukan nuansa cengeng dan konyol dari seluruh film produk hollywood, berbeda apabila kita kritis menganalisis film-film produk nasional. Hubungan intim yang begitu mesra antara sastra dan sains-teknologi sangat jarang ditemukan dalam film-film produksi dunia ketiga; dunia berkembang, mungkin Indonesia masuk di dalam kategorinya.

Karena itulah, wacana korelasi sastra, sains dan spirit jaman harus menjadi pertimbangan mendasar bagi produksi karya-karya sastra ke depan, dan dibantu oleh kepedulian kalangan ilmuan untuk mengapresiasi karya sastra yang memenuhi standard layak “pakai.” Hemat penulis, tidak ada salahnya kita memulai gerakan baru yang betul-betul revolutif dari spirit lokal menuju spirit global, dari sastra yang mengusung interpretasi personal menuju interpretasi masyarakat dunia. Yaitu, spirit jaman yang mengutamakan kemajuan sains dan teknologi.
***

*) Imam Nawawi, lahir di Sumenep 1989. Sempat belajar di beberapa pondok pesantren seperti PP. Assubki Mandala Sumenep, PP. Nasyatul Muta’allimin Gapura Timur Sumenep, PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, PP. Hasyim Asy’ari Bantul Yogyakarta, PK. Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta, PP. Kaliopak Bantul Yogyakarta, dan PP. Al-Qodir Sleman Yogyakarta. Kini sedang menempuh pendidikan jenjang S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.