Sastrawan Jerman Bedah Fakta Lain Runtuhnya Tembok Berlin

Rofiqi Hasan
http://www.tempointeraktif.com/

Sejarah senantiasa menyimpan teka-teki yang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Karena sulitnya menemukan kebenaran para pemegang kuasa masa lalu acapkali menciptakan versi tunggal akan sejarah yang didasari atas kepentingan pribadi. Novel sebagai karya sastra bisa menjadi alternatif untuk mengungkapkan apa yang tersembunyi itu.

Melalui karya sastra terbarunya, Rabet, Jatuhnya Jerman Timur, Martin Jankowski, penulis terkini Jerman, mengurai versinya tentang fakta dibalik menyatunya Jerman Timur dan Jerman Barat. “Banyak orang mengetahui tentang runtuhnya Tembok Berlin, namun hanya sedikit yang tahu awal revolusi damai itu tidaklah berlangsung di Berlin, melainkan di sebuah kota bernama Leipzig,” tutur Martin, dalam sebuah perbincangan dengan wartawan di Bali kemarin..

Ia berada di Bali untuk mempromosikan novelnya itu dengan menggelar diskusi di Fakultas Sastra Universitas Udayana pada Jumat lalu. Martin adalah seorang penulis lirik lagu pada gerakan bawah tanah kaum oposisi. Ia pernah terlibat langsung dalam ‘Demonstrasi Senin’, sebuah pelayanan setiap hari senin di gereja Protestan, yang ketika itu Gereja Nikolai merupakan gereja paling terkenal di kota Leipzig.

“Demostrasi itu dimulai dari ibadah hari Senin. Mulanya hanya sedikit orang yang berpartisipasi, namun di penghujung tahun 1989, setiap minggunya terhitung hampir 100.000 orang yang datang,” katanya. “Dengan slogan “Kami adalah Rakyat”, mereka memprotes sistem politik di Jerman Timur dan menginginkan adanya sistem pemerintahan baru yang damai,” tambah Martin, yang pernah meraih penghargaan Sastra dan Filsafat tahunan Jerman 1998.

Maria Matildis Banda, pembedah novel yang sudah diterjemahkan ke dalam 12 bahasa itu, mengungkapkan bahwa ada banyak hal yang perlu dicermati lebih jauh tentang bagaimana karya sastra (novel) dapat menceritakan bagian-bagian yang hilang dari sejarah. Ada banyak hal yang dengan mudah dicatat sejarah namun lebih banyak dan lebih dalam lagi hal-hal yang sejarah tidak sanggup mencatatnya. Sejarawan dan sastrawan memiliki tanggung jawab sama, meski alurnya berbeda.

“Ciri universal karya sastra terbaca dalam novel ini. Bukan siapa penulisnya atau darimana dia berasal, tetapi makna apa yang ingin disampaikan dan bagaimana makna itu disampaikan,” ujarnya.

Menurut Maria, ada bagian yang sama dari bangsa-bangsa, apapun latar belakangnya, di jagat raya ini, baik harga diri dan martabat yang mesti dijunjung tinggi bangsa lain. Ada bagian yang sama dari setiap manusia, darimana pun dia berasal, hasrat tentang cinta dan rindu, hasrat akan kehampaan, dan rasa kehilangan, dan hasrat untuk berpeluk dan memeluk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi.

Peluncuran buku dan diskusi di Denpasar, Bali, dibuka oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A. Acara itu dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari guru dan siswa SMA, mahasiswa beberapa universitas di Bali, termasuk mahasiswi dari Universitas Guangxi, Cina, dan juga sastrawan Bali. Acara itu terselenggara atas kerja sama antara Komunitas Sahaja dengan Fakultas Sastra Universitas Udayana serta Bentara Budaya Bali.

12 Desember 2010