Agama dan Heterofobia

Muslim Basyar *
http://www.lampungpost.com/

Fenomena kekerasan dan aksi teror bom yang kerap mengatasnamakan Islam, seperti gerakan Negara Islam Indonesia (NII), sesungguhnya kian memperkuat stigma dalam masyarakat mengenai agama ini. Pasalnya, agama yang mengklaim dirinya sebagai pembawa keselamatan, ternyata tidak mampu membumikan konsep tersebut dengan baik; tapi malah menunjukkan keberingasannya dengan aksi terorisme.

Setidaknya itulah pokok pikiran yang bisa kita tangkap dari tulisan Didik Kusno Aji, Ujian Keberagamaan Kita (Lampung Post, 29 April 2011). Aksi kekerasan yang kerap mengorbankan saudara seiman, lanjut Didik, sama sekali tidak bisa dibenarkan. Apalagi hanya disebabkan oleh perbedaan dalam memahami ajaran agama. Padahal, semua pemikiran tentang agama yang diproduksi oleh nalar manusia hanyalah bersifat relatif, karena kita juga tidak tahu apa sebenarnya kehendak Tuhan.

Jika ditelisik lebih jauh, kelompok keagamaan yang acap memuja kekerasan di atas memiliki genealogi gerakan kepada kaum khawarij. Dalam sejarah dikatakan Khawarij merupakan kelompok umat Islam yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib setelah berperang melawan Mu’awiyah bin Abu Sofyan pada Perang Sifin. Menurut mereka, baik pengikut Ali (Syi’ah) maupun Muawiyah (Murji’ah), telah menjadi kafir karena membuat hukum baru berupa perjanjian damai yang tidak mengacu kepada Alquran dan Sunah, yaitu tahkim.

Pandangan dan gerakan yang diusung Khawarij ini sangatlah berparalel dengan (atau lebih tepatnya diikuti oleh) beberapa gerakan keagamaan di Indonesia yang acap melakukan kekerasan.

Mereka menganggap bahwa Islam sebagai sistem ajaran tak pernah memberikan ruang berijtihad serta menghendaki untuk menebas siapa saja yang berbeda paham. Ironisnya, mereka mengklaim dirinya sebagai orang-orang yang paling berhak berbicara atas nama Tuhan!

Di sisi lain, ada telaah cukup berbeda dari Bassam Tibi (1998). Ia mensinyalir bahwa timbulnya gerakan tersebut bukan hanya disebabkan oleh perbedaan dalam memahami agama; tapi juga sebagai respons atas masalah-masalah globalisasi dan kegamangan dalam melakoni hidup (baca: kemiskinan). Kelompok ini adalah orang-orang yang muak dan tidak mau dipusingkan dengan istilah-istilah asing, seperti demokrasi, pluralisme, toleransi, liberalisasi, atau bahkan sekularisasi; karena menganggap hal ini tak ada padanannya dalam Islam.

Pada aras ini, muncul beberapa pertanyaan yang cukup menggelitik naluri kemanusiaan dan keberagamaan kita: Apa penyebab lahirnya sentimen kolektif manusia? Kenapa kelompok yang satu dapat membenci kelompok lain yang berbeda paham? Kenapa manusia rela memerangi saudaranya sendiri bahkan atas nama Tuhan?

Timbulnya gejala heterofobia (ketakutan terhadap yang lain, yang berbeda paham) dalam diri umat beragama, karena ketidakmampuan memahami agama secara kaffah; bisalah kita tunjuk sebagai penyebab utamanya. Sebab, memaknai agama secara harfiah-letaralistik tidak akan mampu membawa mereka kepada esensi ajaran yang sesungguhnya. Justru, yang terjadi, tumbuhnya sentimen dan perasaan tidak senang kepada mereka yang melakukan pemaknaan secara berbeda. Tragisnya, paham tersebut malah dianggap kafir dan sesat.

Kemudian, adanya kegamangan dalam diri manusia karena mempertahankan argumen keagamaannya, menyebabkan timbulnya pemikiran untuk membatasi kontak sosial dengan “yang lain”. Dan heterofobia, adalah salah satu faktor yang membidani lahirnya sentimen itu. Maka, munculnya kekerasan massa, tidak hanya terkait erat dengan konteks sosial, tapi juga konteks kedirian para pelaku kekerasan itu sendiri. Karena psikologis seseorang akan sedikit terganggu ketika ia menemukan “kelainan” di luar dirinya (F. Budi Hardiman, 2011).

Sebenarnya, kita patut bersyukur bahwa gairah beragama di Indonesia kini kian meningkat. Ini bisa kita lihat dari kian maraknya pengajian di tempat-tempat ibadah, makin banyaknya lembaga yang mengelola zakat, dan antusiasme umat Islam untuk berziarah ke Tanah Suci. Akan tetapi, gairah ini ternyata tidak dibarengi dengan penanaman sikap inklusif dalam diri setiap umat beragama.

Justru, yang terjadi adalah kajian-kajian yang bersifat keagamaan acap dijadikan media bagi penanaman rasa kebencian dan kemurkaan bagi kelompok lain. Dan bagi mereka yang memiliki orientasi pemahaman keagamaan yang berbeda, tidak akan pernah lepas dari sasaran kebencian itu.

Selain itu, bekunya penafsiran akibat tertutupnya pintu ijtihad juga bisa berdampak besar bagi pemikiran dan tindakan umat Islam. Menurut Ziaduddin Sardar (1992), cendekiawan asal Iran, semua itu akan melahirkan tiga bencana metafisik, yaitu naiknya syariat pada level sakral (Ilahi); menghilangnya peran aktif (agency) kaum mukmin; dan penyamaan Islam dengan negara.

Bersandar pada diskursus di atas, fenomena keberagamaan di Indonesia kini bisa dikatakan tengah berada di persimpangan jalan. Sebagai kekuatan pengubah sejarah dan pencipta peradaban, umat beragama sedang mengalami pergolakan internal yang diakibatkan oleh perbedaan pemahaman keagamaan yang tidak terpelihara dengan baik. Pada gilirannya, sebagai (besar?) umat beragama (baca: Islam) kerap merasakan “ketakutan” ketika disandingkan dengan kelompok lain yang berbeda paham.

*) Mahasiswa Pascasarjana IAIN Raden Intan Lampung