Purworejo, Purwa Rinduku

M.D. Atmaja

SEJAUH tapak kaki menyusuri jalan, sampailah juga dimana harus berhenti untuk menatap jauhnya perjalanan yang harus ditempuh, pun jauhnya perjalanan yang telah terlewati. Menghadir begitu saja, dalam iringan desau risau yang masih belum terjawab. Melaju kencang menyusupi galau pikiran yang belum usai. Dan sampailah, di tanah seberang dari kampung halaman. Purworejo, merebakkan rindu pada mimpi indah hari depan yang dipenuhi manisnya candu rindu. Mimpi yang berkendara angin, untuk diburu dalam mimpi dan sadar. Mimpi yang harus diburu dengan tubuh dan arwah.

Tanah ini seringkali aku lewati, bersama laju hasrat. Membawaku dalam perbatasan, antara asal muasal dengan kerinduan. Membawaku untuk lebih jauh lagi melangkah mencapai mimpi yang terindukan, dan purba-nya hidup yang seringkali terhempas jauh dari perhatian.

Perjalanan hidup menawarkan berbagai candu, pengharapan, cinta kasih, pun juga mimpi yang mengusik sisi damai untuk terus tersudut. Sadar atau tidak, seringkali diri ini menginvasi kedamaian untuk digempur dan menghilang. Digempur untuk menghancur lebur tak tersisa. Ternyata, aku sendiri yang membunuh kedamaian itu. Aku masih saja tidak perduli, berpura buta dan terus berlari mengejar mimpi, menghunus pedang dendam, memuaskan segala macam rasa yang telah tertahan.

Aku bertemu dengan banyak persimpang, juga menemukan banyak orang. Saling berjajar dalam senyum, juga banyak yang menatap bengis penuh benci. Ah, aku tidak terusik dengan itu. Terlalu dalam menikmati diri, menikmati sunyi. Di sini, Purworejo aku menemukan banyak hal yang selama ini aku lupakan. Seorang yang pernah menjalani sisi gelap hidup, kini berpijak di tanah abadi dalam rangka membaktikan sisa hidup untuk manusia dan Tuhannya. Dari orang itu juga aku memahami diri, sampai akhirnya bertemu dengan “Semar Gugat” yang menunjukkan kekuatan rakyat kecil untuk merubah dunia.

Pernah aku tawarkan “Semar Boyong” untuk menyelamatkan negara yang penuh intrik dalam kamuflase tidak selesai. Ungkapnya, “Semar Boyong” terlalu banyak peperangan, siapa lagi yang harus menderita? Rakyat kecil juga. Lantas? Pikirku saat itu. Jalan keluarnya adalah dengan membangun kesadaran rakyat, bahwa mereka memiliki kekuatan Semar dalam kejelataannya untuk melakukan pembangunan kayangan. Rakyat kecil yang memprotes kesewenangan kekuasaan dan membangunnya dengan suara hati nurani rakyat (hanura).

Bisakah? Rakyat harus bergerak dalam kesedarannya. Bahwa mereka tidak hanya berlaku sebagai objek, lebih lagi sebagai subjek yang memegang peran penting dalam sistem kosmos (pemerintahan) dalam rangka mencapai kehidupan yang manusiawi dan berketuhanan yang maha esa. “Semar Boyong” menawarkan kekerasan dan perebutan meskipun memiliki tujuan yang baik, menyelesaikan intrik (penyakit) negara. Namun, “Semar Gugat” lebih memiliki esensi yang nyata untuk menempatkan rakyat sebagai subjek perubahan.

Di tanah ini juga, dalam semerbak harum rokok Klembak Menyan, aku menemukan banyak hal. Cara menjalani hidup, pun cara mencapai apa yang ada di dalam dada. Mimpi itu harus dicapai, begitu beliau mengungkapkan, bahwa jalan untuk menuju ke sana dibutuhkan tiga hal yang paling penting, yaitu sabar, yakin dan usaha. Sabar dan yakin saling berdampingan beserta dengan usaha itu. Aspek mendasar yang menjadi ruh bagi perjuangan yang belum terselesaikan. Sudahkah aku memiliki itu? Ah, ternyata mencapai kesabaran itu yang paling susah dalam kehidupan. Mencapai sabar harus terlebih dahulu merengkuh dan menyetubuhi keyakinan lalu baru muncul apa yang disebut kesabaran.

Aku menertawakan diri sendiri. Menyetubuhi yakin untuk melahirkan kesabaran tidak semudah yang dibayangkan. Terlalu pelik, terlalu banyak yang membuat manusia tidak yakin.

Tapi, perlahan-lahan aku mencapainya juga. Kesabaran itu, meski terkadang bergetar digoyang angin saat menunggu “Gung” bunyi Gong tidak juga terdengar. Dengan berbekal tiga aspek pencapaian mimpi itu, saya memulai perburuan. Menggapai resah untuk dibenamkan dalam ketenangan, kalau dunia ini tidak bisa aku buru materinya, akan aku buru ruhnya untuk menguasai materi. Ruh itu asal muasal dari materi, dan kini perjalananku memburu ruh untuk memukul “Gong” yang menjadi hasil dari puncak pencapaian.

Itulah hidupku, tidak pernah selesai untuk menggapai puncak-puncak resah untuk disetubuhi dan menjadi abadi. Bahkan sesuatu yang remeh-temah, namun bukankah orang yang pandai menyelesaikan masalah besar sebenarnya tidak pandai untuk mencermati yang remeh-temeh dan meleburkannya?

Itulah, asal muasal dari kekuatan rinduku. Dalam perjalanan melahirkan kerinduan, melahirkan sepi untuk menjadi belati: entah untuk bunuh diri atau untuk menikam setan diri.

[Catatan Perjalanan] StudioSDS Banjarnegara, Akhir April 2011