Jimat Para Koruptor vs Jimat Teroris

M.D. Atmaja

Membicarakan masalah jimat, tidak semerta-merta membubuhi diri dengan pikiran kolot, atau rasa yang menolak logika. Masyarakat Indonesia, dimulai dalam tradisi animisme yang mana menempatkan posisi jimat dalam struktur sakral yang diminati. Jimat sebagai sesuatu yang logis bagi mereka yang mempercayai, namun kita tidak akan membicarakan mengenai ungkapan “jimat” yang sebenarnya. Akantetapi, lebih pada nilai keampuhan yang dibawa, ditunjukkan pada kita semua.

Menjadi manusia Indonesia, kita akan berhadapan dengan berbagai persoalan yang terkadang sudah menjadi hal yang biasa, karena memang terlalu banyaknya masalah itu. Saya ingin sekali membicarakan mengenai, keampuhan jimat para koruptor. Keampuuhan yang sampai detik ini telah terbukti. Bukankah demikian?

Membicarakan keampuhan dari suatu jimat, harus kita perbandingkan dengan jimat-jimat lain. Dalam kesempatan ini, saya akan membandingkan dua sorotan publik terbesar, yaitu Golongan Koruptor (GK) dan Golongan Tertuduh Teroris (GTT), yang mana masing-masing dari golongan tersebut memiliki jimat (keampuhan) tersendiri.

Dalam suatu prediksi, berdasarkan realitas yang ada kita bisa menarik kesimpulan dengan cepat, bahwa jimat Golongan Koruptor memiliki nilai keampuhan yang lebih baik, ketimbang Jimat dari mereka (golongan yang dituduh teroris). Bagaimana nilai keampuhan itu?

Sekarang kita lihat saja sendiri, bagaimana kiprah pasukan kebanggaan kita, maksud saya adalah Densus Anti Teror 88 yang dengan sigap menangkapi sepasukan teroris di Indonesia. Mulai dari Bom Marriot 1 sampai 2, ke Bom Bali, dan kita menuju pada krasak-krusuk Bom Buku. Densus 88 berhasil menggiring para yang tercurigai untuk mendekam di penjara atau ditembak mati. Bahkan, kenyataan yang membanggakan, Densus 88 juga berhasil menjatuhkan salah satu otak terorisme Impor Indonesia.

Dari sini, kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana jimat (keampuhan) para teroris yang langsung patah saat berhadapan dengan Densus Anti Teror 88. Kenyataan yang membuat lega bagi orang-orang yang yakin kalau kehadiran terorisme sebagai suatu ancaman. Dan karena itu pula, jimat para tertuduh terorisme ini tidaklah seberapa ampuh ketimbang eksekutor mereka (Densus 88).

Lalu bagaimana dengan jimat Golongan Koruptor? Ini menjadi lain soal dan kalau dibahas secara menyeluruh bisa menjadi suatu studi kasus yang panjang dan mungkin saja akan menjadi studi kasus yang tidak pernah selesai. Koruptor lebih licin ketimbang teroris. Dari sekian banyaknya kasus besar mengenai korupsi, sampai hari ini persidangannya masih belum selesai, pun kadang timbul tenggelam dihempaskan gelombang isu terhangat.

Koruptor seperti keadaan yang sulit untuk diprediksi dan dipahami. Terkadang menjebak para pengamat untuk jengah kemudian bertanya, “Terus, kasus yang kemarin bagaimana perkembangannya?” Kita juga pernah melewati, semoga saja tidak lupa, kalau para eksekutor korupsi pernah disandungkan. Mereka (KPK maksud saya) berusaha keras membredel koruptor, namun perlahan-lahan mereka sendiri yang terlucuti. Koruptor kelas kakap jarang yang tersentuh dan selesai, justru anggota KPK itu sendiri tersandung berbagai masalah yang mengibiri kejantanan mereka.

Dua perbandingan ini, kita bisa melihat bagaimana keunggulan dari jimat Golongan Koruptor ketimbang jimat Golongan Tertuduh Teroris. Saya mulai mencermati, kalau jimat para koruptor ini bukan suatu barang, tapi MANTRA RELASI, JARINGAN KEKUASAAN, Dan Mantra seperti ini dianggap lebih ampuh ketimbang doa-doa sakral manusia dulu, bagi mereka yang yakin. Dari ketiga aspek yang kita bahasa, Jimat adalah Paling Indonesia, Koruptor juga Paling Indonesia, Teroris pun demikian.

StudioSDS – 11 Mei 2011