Kepada Perempuanku

Sri Jayantini
http://www.balipost.co.id/

Suatu waktu,
Kau akan tahu mengapa aku
Tak berhak atas namamu
Bahkan sepenuhnya
samudera ”meskipun”
Kutitip di kapal-kapal nelayan
Dalam pelayaran
Tetap bisu

Mengapa tak kusebut diriku
untuk dirimu
Bahwa kita akan jadi
selengkap spektrum matahari

Itu ketetapan
Akar-akar bakau,
tunas hijau daun teh
Pohon bungur berbunga ungu
Ikan oranye di dalam plastik
Indah berkaidah milik casuarina

Bahkan selai coklat
buat roti sarapan pagi
Telah
Kusebut semua
dalam prosa-prosaku

Tetap tulisan
Mengapa kulukis diriku
untuk dirimu

Suatu waktu
Kau tak tahu mengapa aku
Tak membiarkanmu berada
Dalam sejarah yang sama
karena tiada hakmu
untuk memberi nama
meski cekam itu kita peram
dengan rotasi bulan,

sembilan putaran
waktu adalah gerak jarum
dengan detik menjelma menit
menit mengabdi pada jam
Hanya ketulusan yang menyertai diri
Sampai di laut nanti
Bahwa kita adalah mozaik

Menjadi noktah bintang
penyempurna langit
”Kita berkapal di laut mana, Ibu?”

Bila itu tanyamu suatu waktu
”Kita boleh
punya kebenaran sendiri, anakku.”

Jawabku
dengan sepenuhnya samudera ”tetapi”

Pada akhirnya
Kau akan dibuat mengerti
Setelah memilih sendiri lalu berdiri
Walau tiada hakmu
Atas darah dan nama

mengapa tak kusebut diriku
Untuk dirimu.