Menelusuri Terowongan

Djunaedi Tjunti Agus
http://www.suarakarya-online.com/

ENTAH mengapa wajah-wajah orang yang pernah saya kenal hari-hari terakhir satu demi satu melintas dalam pikiran. Sederetan wajah-teman, senior, guru, dosen-muncul silih berganti. Wajah orang-orang yang pernah jadi tetangga di rumah kontrakan yang pernah kami tempati dan anak-anak mereka pun kerap mengisi pikiran. Bagaimana bentuk wajah atau sosok mereka saat ini? Mungkinkah saya masih bisa mengenali mereka? Di mana mereka sekarang?

Saya sulit mengingat nama lengkap teman-teman semasa SD, tapi ingat nama Nuraini, teman semasa SMP, juga Azizah. Saya masih hafal nama dua teman yang memiliki nama sama, Nurlis, yang oleh guru wali kelas cukup ditambahkan huruf A dan B untuk membedakannya. Saya masih bisa membayangkan sosok Pak Rachman, wakil kepala sekolah, yang selalu berambut cepak bak anggota Marinir dan guru matematika Ibu Nurjanah yang galak. Saya juga masih ingat Pak Muchtaruddin, kepala sekolah ketika saya di SLTA, serta M Donald dan Ridwan, teman akrab saya di sekolah itu. Juga saya masih sangat hafal wajah Nina, Ipos, Emy, anak tetangga di sebelah rumah kos yang pernah saya tempati. Saya juga masih dapat membayangkan wajah Pak Freddy, salah seorang dosen kami, serta teman-teman kuliah seperti Amos, Leo, Hardimen. Di mana mereka sekarang?

Di hari lain saya memainkan tuts komputer, mencoba mengumpulkan nama-nama teman seprofesi yang pernah saya kenal, namun akhir-akhir ini sudah tak saling bertemu karena kami sama-sama tidak lagi tugas lapangan. Esoknya, iseng-iseng beberapa nama senior dan teman lama itu saya tulis di status Facebook saya, diikuti pertanyaan dimanakah mereka sekarang? Tanpa disangka, satu-dua teman merespons. Tapi alangkah kagetnya, beberapa nama yang saya tulis ternyata telah almarhum.
“Dia telah berpulang, kembali menemui Sang Khaliq,” tulis seorang rekan, merespon status saya.

Sejak hari itu, kegiatan sampingan saya berubah, mengumpulkan nama-nama orang yang pernah saya kenal, terutama yang telah berpulang. Untuk tahap pertama ini, fokus saya pada teman-teman seprofesi dari berbagai perusahaan berbeda.

“Ada apa denganmu, kawan? Kenapa tiba-tiba saja mengumpulkan nama-nama senior dan rekan kita yang sudah tiada? Kenapa tidak mencari senior dan teman yang masih ada?” tulis seorang kawan.

Tapi, toh dia juga memberikan masukan tentang nama-nama senior dan rekan lain yang juga telah tiada. Hari-hari berikutnya, teman-teman lain juga memberikan data. Sederetan nama senior dan sahabat kami yang masih ada, serta mereka yang lebih dulu kembali ke haribaan-Nya pun saya terima.

“Kawan, mudah-mudahan saya tidak segera masuk dalam daftar teman-teman yang telah pergi yang Anda susun. Saya berharap masih bisa hidup, sehat, sejahtera, kalau bisa makmur, 50 tahun lagi,” tulis sahabat kental saya, Bung Rahim, yang masih tetap aktif berkomunikasi.

“Saya juga berharap serupa. Soalnya, anak-anak saya masih kecil. Bagaimana mereka nanti, sekolah mereka, makan mereka. Bagaimana ibunya?” tulis sahabat yang lain mengomentari kegiatan saya lewat Facebook.

Saya jadi sering merenung sejak memiliki kesibukan mencari tahu tentang keadaan teman-teman yang sudah lama berpisah. Satu-dua teman muncul di layar komputer saya, menyapa, memberikan info lewat Facebook. Kami kembali berhubungan satu dengan lainnya, meski dari jarak jauh. Hari demi hari nama-nama yang saya tulis terus bertambah. Ada saja teman-teman yang memberi masukan.

Kadang saya tersenyum sendiri membaca komentar teman, tapi tak jarang mengerutkan kening mendapat kabar tentang kemalangan yang dialami seorang kawan. Tapi, kerap juga bangga mengetahui kisah sukses sahabat. Sepertinya waktu kembali surut ke masa lalu, kami bisa berkumpul, saling berceloteh, bercanda meski itu hanya lewat Facebook. Sekali-sekali beberapa di antara kami sepakat bertemu, berkumpul untuk bernostalgia sambil makan siang atau makan malam.

* * *

“Inikah tanda-tanda akhir perjalanan?”
Kadang tebersit pertanyaan yang saya khawatirkan itu. Terus terang, seperti teman-teman, saya juga tidak siap, setidaknya belum siap dipanggil Yang Mahakuasa. Saya belum yakin istri dan anak-anak siap menerima kenyataannya. Meski pada berbagai kesempatan, kepada mereka selalu saya tekankan, hidup di dunia hanya sementara. Jika Allah menghendaki, siapa pun tak bisa minta penundaan. Langkah, rezeki, pertemuan, maut, Allah yang menentukan.

“Ah, kerinduan terhadap masa silam itu biasa. Itu tanda-tanda kita masih normal,” kata Yayan, sahabat satu profesi dari perusahaan berbeda yang masih kerap bertemu.

Kami memang tumbuh dan berkembang bersama. Dulu, sebagai remaja yang sedang bergairah, kami yang bekerja dalam dunia pemasaran bagi perusahaan masing-masing kerap jalan bareng dalam tugas ke berbagai daerah dan mancanegara.

Hampir seluruh Nusantara sudah kami kunjungi dan lebih dari separo dunia sudah kami datangi. Dalam waktu yang tak jauh berbeda pula, kami mendapatkan pendamping masing-masing. Dan, kini anak-anak kami hampir seusia pula. Karena itu, wajar kami memiliki kekhawatiran yang sama.

“Terus terang, saya belum siap, meski sesungguhnya saya menyadari dari sisi usia saya sudah memasuki masa senja,” kata Yayan.

Kini kami sama-sama manajer di perusahaan berbeda. Tapi, sebagai manajer di perusahaan milik pribumi yang masih berkembang, gaji kami pas-pasan. Tidak seperti di perusahaan lain umumnya, kami sama-sama tidak mendapat kendaraan perusahaan, masih kerap naik sepeda motor, kecuali sekali-dua kali naik mobil pribadi di bulan muda. Kami juga sama-sama masih kerap mengutang untuk membiayai kebutuhan rumah tangga, kebutuhan sekolah anak-anak. Tapi, kami tetap bangga. Apalagi dibanding beberapa kenalan yang sempat meroket, namun akhirnya berakhir di penjara karena korupsi.

Sebagai orang timur, meski hidup tak pernah lepas dari utang, saya masih merasa beruntung. Beruntung karena tidak diuber-uber aparat karena korupsi, beruntung karena berutangnya bukan kepada rentenir, bebas dari kejaran debt collector. Saya merasa lebih beruntung lagi karena memiliki istri pengertian, serta anak-anak yang tidak banyak tuntutan.

“Nikmati saja apa yang kita punya. Allah itu Maha Tahu,” kata istri saya, Nia, suatu ketika, pada saat kami bicara soal harga-harga kebutuhan pokok terus melambung, kebutuhan anak-anak makin meningkat, karena sudah berada di bangku kuliah.

“Buat apa kaya jika sakit-sakitan. Untuk apa banyak harta jika tak kenal saudara, kerabat, dan tetangga?” kata Nia lagi.

“Ya, ya. Kita harus mensyukuri apa yang kita miliki. Buat apa kaya jika diraih lewat korupsi? Untuk apa kaya apabila diraih dengan jalan yang salah,” kata saya.

Ya, saya bahagia, meski sebagai seorang yang berjabatan manajer masih harus mencuci karpet sendiri, mencuci mobil, dan sepeda motor sendiri.

Saya-bersama istri dan anak-anak-menjelang memasuki usia pensiun seperti sekarang merasa sudah lebih dari cukup. Meski terkadang gamang juga jika memikirkan apa modal menghadapi pensiun. Hanya satu kekhawatiran, seperti banyak teman-teman lainnya, saya belum siap mati. Saya ingin melihat seluruh anak-anak kami mapan. Ingin melihat cucu beranjak dewasa. Selebihnya tak ada yang dikhawatirkan. Meski hidup Senin-Kemis, saya dan istri sudah merasa bahagia. Tak ada satu pun yang dapat memisahkan kami.

* * *

Ketika saya duduk di teras, tiba-tiba saja seorang wanita berdiri di depan pintu pagar. Dia mengucapkan salam. Saya kaget karena sosok itu adalah wanita yang baru saja melintas di kepala saya. Mantan pacar. Meski wajahnya telah memperlihatkan gurat-gurat termakan usia, saya masih dapat mengenali. Senyumnya itu masih sangat menawan. Itu yang saya sukai dan tak akan pernah saya lupakan.

Meski tak mengharapkan kedatangannya, saya dengan berat hati membukakan pintu pagar. Saya persilakan dia duduk di salah satu kursi di hadapan kursi teras yang saya duduki tadi. Dalam pikiran saya langsung terlintas, apa maunya perempuan ini?
“Kenapa Anda terlihat heran?” katanya.
“Saya tak percaya, tiba-tiba saja Anda bisa berada di sini. Ada urusan apa? Apa saya mimpi?
Tiba-tiba ada suara langkah dari ruang dalam. Itu pasti istri saya.
“Siapa, Pa?”
Saya gugup. Sementara Rosi yang duduk di hadapan saya hanya tersenyum, tak peduli.

“Ini ada orang mau nawarin… Barangkali Mama berminat?” kata saya sekenanya. Saya makin gelisah. Inikah akhir dari keutuhan keluarga saya?
Seperti biasa, istri pun mendatangi saya. Dia langsung menjulurkan tangan kepada Rosi sambil tersenyum.
Saya berharap keluar dari kesulitan. Tapi, nyatanya tidak.
“Saya bukan menawarkan apa-apa. Bukan sales. Saya ini teman lama Bapak. Kami dulu pacaran,” katanya enteng.

Saya kaget luar biasa, layaknya baru mendengar suara petir. Saya menoleh kepada istri saya, Nia. Mukanya sontak berubah. Wajahnya memerah, marah. Dia bagai terpaku berdiri, dingin. Senyumnya pun hilang.

“Uh, dasar laki-laki. Rupanya selama ini Papa masih berhubungan dengan mantan pacar. Maksudnya apa? Kalau kalian mau menikah, silakan, ceraikan saja saya,” katanya sambil mengangkat dagu, angkuh. Tak biasanya istri saya begini. Biasanya, kalau cemburu, dia langsung lari ke tempat tidur, lalu menangis. Tapi kali ini berbeda.
“Tidak,” kata saya.

“Saya tidak akan menceraikan Mama. Tidak akan meninggalkan anak-anak. Kita tidak boleh berpisah, meski apa pun yang terjadi. Itu sumpah dan janji kita.”
“Itu tak berlaku lagi. Papa ternyata tak setia.”

“Kalau kamu tak mau pisah dengan dia, lebih baik bunuh diri saja. Ucapan sama pernah kamu katakan ketika kita masih pacaran. Tapi nyatanya gombal. Ini kebetulan saya bawa pisau, silakan,” kata Rosi.
Tanpa menunggu, pisau saya rebut. Tangan langsung mengayun, pisau pun tertancap dalam di ulu hati.
Tak ada teriakan. Istri pergi begitu saja, masuk ke ruang dalam. Rosi tersenyum, menyeringai puas.

Tubuh saya tiba-tiba saja terangkat, melayang menelusuri sebuah terowongan menuju langit, terbang sambil telentang, berputar bagai kapas menuju cahaya di ujung lorong. Tiada daya atau kemampuan untuk menghentikannya. Namun, tiba-tiba angin kencang menerpa dari atas. Tubuh saya kehilangan keseimbangan, berubah berat. Tak lagi mampu melayang.

Tubuh yang tak berdaya menghunjam deras menuju lantai. Tak ada yang bisa digapai. Terowongan yang licin tak mampu menghentikan lajunya jasad. Saya berteriak, tapi suara tak keluar. Tak ada siapa pun yang berupaya membantu.
Tubuh terhempas keras di lantai yang basah. Darah mengalir deras.
“Masih hidupkah saya?”
Saya coba meraba-raba di ruang gelap ke kiri dan ke kanan.
“Papa, Papaaa. Kenapa?” sayup-sayup terdengar suara istri saya.
Dalam kondisi setengah sadar saya coba membuka mata. Lamat-lamat terlihat langit-langit kamar tidur kami.
“Astaghfirullah. Ampuni hambamu ini, ya Rabb. Jangan pisahkan kami,” bisik saya.

“Papa mimpi seram lagi, ya? Makanya sebelum tidur berdoa dulu. Kemudian lewat tengah malam shalat Tahajud. Ayo, Pa, bangun. Sudah subuh,” kata istri saya sambil melap keringat yang membasahi dahi dan leher saya.

“Papa nggak sakit, kan?” Nia pun mencium pipi kanan dan kiri saya. Air mata saya pun mengalir.***

* Jakarta, April 2011
SK: Sabtu, 23 April 2011