DUNIA ANAK-ANAK DALAM KESENGSARAAN PANJANG

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Bibhutibhushan Banerji, Pater Pancali: Tembang Sepanjang Jalan, terj. Koesalah Soebagio Toer, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1996), 491 halaman.

India sungguh merupakan negeri yang amat kaya dengan tradisi kebudayaannya. Dalam sastra lisan, negeri berpenduduk hampir semiliar itu, pada abad ke-3 telah melahirkan Pancatantra karya seorang Brahmana India, yang kemudian menjadi sumber cerita-cerita binatang (fabel). Karya Valmiki, Ramayana dan Vyasa, Mahabharata, juga merupakan mahakarya yang berasal dari sana.

Dengan heterogenitas etnik, kepercayaan, dan bahasa, sejarah kesusastraan India bergulir melewati dua jalur besar tradisi penulisan. Sebagian ditulis dalam bahasa Inggris, dan sebagian lagi ditulis dalam bahasa daerah. Raja Ramohan Ray, perintis tradisi penulisan dalam bahasa Inggris, mengalirkan pengaruhnya pada generasi berikutnya. Muncullah sejumlah nama penting, di antaranya, Bal Gangadhar Tilak, Mahatma Gandhi, Jawarhal Nehru, Romesh Chunder Dutt, Mulk Raj Anand, dan R.K. Narayan.

Sastrawan India yang berangkat dari tradisi penulisan dalam bahasa daerah, niscaya luar biasa banyaknya. Yang terkenal ditu­lis dalam bahasa Bengali, Assam, Urdu, Punjabi, Gujarat, Marathi, Tamil, Hindi, dan entah bahasa apabila yang di India terdapat lebih dari 1600-an bahasa dan dialek. Betapapun dunia Barat lebih mengenal kesusastraan India lewat tradisi penulisan dalam bahasa Inggris, penghargaan Nobel kesusastraan justru diberikan pada penulis dari tradisi bahasa daerah. Dialah Rabindranath Tagore yang karya-karyanya ditulis dalam bahasa Bengali, dan diterjemahkannya sendiri ke dalam bahasa Inggris.

Selain Tagore, penulis Bengali lain yang karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah Saratchandra Chatterji dan Bibhutibhushan Banerji. Berbeda dengan Tagore yang romantik, dengan memadukan elan India Kuno dan semangat Barat modern serta Chatterji yang realis dengan ketajaman kritik sosialnya, Banerji, selain realis, terkesan amat bersahaja dengan religiusitas yang mendalam dan terselubung. Justru itu, ia berhasil menampilkan sebuah dunia yang sarat kebersahajaan dan kesederhanaan yang naif. Pater Pancali seolah membawa kita ke dalam panorama seperti itu.

Novel Pater Pancali terbit pertama kali sebagai cerbung di majalah Vichitra, 1928-1929. Ia terbit sebagai buku November 1929 dan sejak itu diterbitkan pula enam edisi novel itu. Banerji sebenarnya telah menulis 50 karya, di antaranya 17 novel dan 20 antologi cerpen. T.W. Clark yang menerjemahkan Pater Pancali ke dalam bahasa Inggris dan memberi kata pengantar, menempatkan novel itu sebagai adikarya Banerji yang mengangat reputasi pengarangnya sebagai “penulis prosa terbesar abad ke-20 dalam bahasa Bengali”.

***

Berbeda dengan novel mana pun, Pater Pancali menampilkan kisah dua anak manusia, Durga dan Apu, yang keduanya, sememangnya masih anak-anak. Kehidupan dunia kedua anak itulah yang membangun keseluruhan novel itu. Maka yang kita tangkap adalah bermacam-macam permainan mereka, imajinasi-imajinasi liar tumpang-tindih, kejengkelan, kegembiran, harapan dan berbagai tingkah laku yang bagi orang dewasa, terasa lucu, naif, dan absurd.

Di antara gambaran kehidupan dunia anak-anak itu, terselip pula kehidupan lain yang lebih asasi; ketidakmampuan manusia melepaskan dirinya dari masalah keberimanan. Untuk dapat menangkap persoalan itu, agak sulit, memang. Namun, pembagian Pater Pancali ke dalam dua bagian; Bibi yang Tua (hlm. 25–86) dan Anak-Anak Membuat Mainan Sendiri (hlm. 87–471) mengisyaratkan adanya dua dunia. Dan di situ, berlakulah karma.

Bagian pertama yang menggambarkan penderitaan sampai akhir Indir Thakrun dan ketidakpedulian Sharvajaya atas penderitaan itu adalah awal kehidupan Durga dan Apu. Bagian kedua, perjalanan kehidupan kedua anak itu, laksana sebuah karma yang harus diterima Sharvajaya. Ia pun, bersama suami dan kedua anaknya itu menjalani kesengsaraan yang panjang. Doa menjadi semacam permohonan yang tak berkesudahan. Untunglah Durga dan Apu mampu memercikkan kasih sayang tak berujung dan kenikmatan yang khas.

Dalam konteks itu, karma mungkin dapat ‘direvisi’ lewat doa dan kasih sayang. Betapapun Durga akhirnya meninggal, Apu masih mungkin dapat menatap kehidupan baru, karena Sharvajaya dan suaminya, membawa anak lelakinya, Apu, hijrah ke Benareh.

***

Novel yang menceritakan dunia anak-anak di tengah kehidupan masyarakat, novel ini sungguh mengagumkan. Deskripsi sosiologis kehidupan mereka, tak mengesankan rekayasa yang berlebihan; amat wajar dan bersahaja. Benerji sekadar memotret dan mengangkat hayalan-hayalan mereka yang naif. Justru di situ, novel ini menjadi begitu kaya. Boleh jadi inilah satu-satunya novel yang mengangkat dunia anak-anak secara luar biasa.

(Maman S. Mahayana, FSUI, Depok)