HUJAN HANYA TURUN SEBENTAR

Muhammad Rain

Hujan tinggal tetesan di bawah seng, mengetuk-ngetuk tanah penampungnya, terkena benda-benda yang mudah membuat bunyi makin nyaring. Iramanya bagai kesendirian seseorang di tengah malam. Menandakan kehadiran perulangan kehidupan. Air langit itu menyentuh perasaan rasa sunyi, seolah turut membasuh keringnya perasaan rindu seseorang tersebut. Rindu yang dirasakan tepat pada waktunya. Saat malam makin beranjak menua, desakan untuk bergerak makin perlahan. Sebuah waktu yang paling pas pula untuk menghitung-hitung pencaharian kehidupan selama ini.

Ia mulai berbaring lebih lapang, merebahkan badan dan hatinya bersatu dengan kasur dan selimut tebal yang hantarkan hangat ke seluruh kulit. Matanya belum memejam, cahaya lilin yang sedikit membantu penglihatannya itu bersenda gurau oleh kerubungan laron. Entah mengapa justru bayangan pergerakan binatang kecil itu kian lama kian mengikat matanya. Seperti orang-orang yang datang ke tempat sirkus di pasar malam, demi melupakan kejenuhan selama bekerja pada akhir minggu. Ia perhatikan bayangan terbang sang laron seolah begitu besar sebab dekat lidah api lilin terhampar seolah nyata di dinding kamar. Ketertarikan semakin menjadi, ia membayangkan dirinya semacam laron itu, merubungi cahaya, bagai seseorang hartawan yang dirubungi para peminat kemewahannya.

Hujan nyaris mengupas suhu menjadi makin dingin, setelah turun dengan lebat. Ia si lelaki yang setengah abad ini makin menjadi dalam kesendiriannya. Istrinya sedang keluar kota demi memenuhi undangan kerabat keluarga mereka. Ia sendiri memaksa ikut, meski tubuhnya belum sembuh benar dari demam yang sesungguhnya akibat flu biasa. Namun istrinya dengan sabar menasehatinya agar tidak perlu memaksakan diri untuk hadir dalam acara remeh tersebut, apalagi acara ini berlangsung di pihak keluarga istrinya, hanya suatu perhelatan sederhana di kota sebelah dalam merayakan keberhasilan salah satu kerabat mereka yang lulus sarjana dari universitas ternama di ibu kota Negara. Istrinya meyakinkan bahwa kepergiannya hanya dua hari saja, dan sambil memberi dukungan semangat agar suaminya ini rajin meminum obat. Cuaca sedang ekstrem, kadang panas menyengat kadang hujan turun meski sebentar namun cukup mengganggu bagi seseorang yang riskan menghadapi dingin dan panas yang lekas bergantian itu.

Rasa nyaman melingkupi pula hatinya, dalam kesendiriannya sambil menyimak tetesan berdentingan air hujan jatuh memberi irama tubuh dan jiwanya. Ia seolah memahami benar bahwa alam sedang menemaninya. Dalam kegelapan akibat mati lampu itu, lelaki itu memaksa membuka matanya, padahal kantuk sudah menyerbu, seperti serbuan laron tadi terhadap lilin. Rasa kantuk itu memberat terus apalagi akibat pengaruh obat yang dia minum, efek samping akibat tujuan obat itu sendiri agar peminumnya lekas merasa kantuk sehingga dapat beristirahat. Istirahat inilah pada dasarnya mampu memperbaiki lagi gangguan syaraf-syaraf di dalam tubuh yang terhambat akibat seringnya dipaksa bekerja. Alat-alat pokok dalam beragam jenis isi tubuh. Terutama dengan tidur, aliran peredaran darah dapat kembali lancar, pernafasan menjadi maksimal dan kegunaan tidur lainnya yang tentu saja tidak justru berlebihan istirahat, alias tukang tidur yang dapat membuat tubuh bagai lumpuh.

Sesudah dua jam matanya masih terus memaksa tidak terpejam, hujan datang lagi walau sebentar. Rumahnya yang tergolong mewah seakan tak mampu membantunya terhibur. Biasanya saat kesulitan tidur, ia akan menyetel channel televisi, mengambil siaran kesukaannya demi mencari penghiburan hatinya. Tetapi dua jam berlalu itu sungguh belum cukup bagi PLN untuk membuat banyak warga masyarakat dongkol. Ada juga alat penghasil energi listrik di gudang, tapi ia benar-benar malas untuk menghidupkan alat tersebut. Ia hanya berbaring saja, malas bergerak. Kenyamanan di dalam kamar itu selanjutnya tak bisa lagi diharapkan. Angin di luar rumah begitu deras menyelusup ke sebalik fentilasi jendela kamar, menyibakkan kain penutup jendela, mempermainkan dirinya seolah ingin mengatakan betapa tidak enaknya menjadi batu di atas kasur empuk itu. Tarian angin yang membawa pula gerimis seolah mencuci kaca jendela jernih di dinding kamar itu. Ia melihat saja, meski perlahan menyelusup juga keinginannya untuk bangkit, mendongak keluar jendela. Sekedar memastikan, mana lebih banyak angin dengan air hujan itu.

Ia memutuskan bangkit dan meraih senter tangan dekat kepala ranjang. Beberapa buku yang menumpuk dekat bantal ia rapikan. Ada sekitar lima buku tebal yang sudah ia sibak selama kepergian istrinya tersebut. Buku-buku itu perlahan disusunnya kembali di lemari kecil bersebelahan dengan jendela. Selanjutnya ia mendongakkan mata semacam menyelidik keluar jendela. Ia lihat jalanan depan rumahnya sepi lengang, padahal biasanya banyak tetangganya yang berkumpul di dekat persimpangan kompleks perumahan mewah itu, apalagi ketika malam minggu seperti ini. Mereka para tetangganya tergolong orang yang tidak sombong, meskipun karir rata-rata mereka sangat cemerlang. Anggapan bahwa pekerjaan dan jabatan hanyalah berlaku di kantor tempat mereka bekerja, mungkin itulah kesamaan visi dalam memandang setiap orang perlu dihargai dalam masyarakat. Tidak ada sedikitpun kesan antara para tetangga itu untuk sekedar menyombongkan diri membahas urusan kantor saat keadaan bersenda gurau di persimpangan kompleks itu. Sebuah kafe kecil yang juga menyediakan beragam makanan ringan telah mulai tutup. Persimpangan itu mulai sepi, alat penghasil listrik telah dimatikan, pemilik kafe sudah membereskan seluruh perlengkapan seperti kursi dan meja yang sudah diangkat keposisi menyudut. Sekilas sorotan lampu senter lelaki ini terlihat mengenai wajah pemilik kafe. Sontak mereka saling memberi kode, entah semacam sapaan selamat malam.

Lelaki tua ini tak sanggup berdiri terlalu lama di tepi jendela demi mendongak benda-benda yang ada di luar rumahnya. Perlahan ia menuju tepi kasur, ia duduk dan kakinya masih menyentuh lantai kamar. Dingin menyeruak lagi, ia meraih selimut dan tetap dalam gerakan perlahan menggeser posisi tubuhnya untuk memperoleh suhu kamar yang lebih hangat. Kedua telapak tangannya menggempal. Lalu tangan kanannya ia letakkan ke bagian leher dan keningnya, seolah hendak mengecek panas suhu tubuh dirinya sendiri. Ia belum merasa yakin demamnya telah jinak. Sebuah syal kesayangan yang selalu ia pakai ketika ia sakit kini ia raih kembali, tadinya ia buka demi mengurangi rasa panas akibat gulungan syal yang terlalu rapat. Syal itu pemberian istrinya saat merayakan ultah perkawinan mereka lima tahun lalu. Ia melihat syal itu bagai melihat bayangan istrinya. Demam kali ini makin menjadi rasanya, selain demam tubuhnya juga menyeruak pula perlahan berlusupan demam rindunya pada istrinya yang ia cintai itu. Apa yang dilakukan istrinya di saat itu juga, apakah istrinya itu merasakan perasaan rindu yang sama. Apakah di tempat keluarganya ia terperhatikan. Keluarga yang sesungguhnya jarang ia kunjungi, karena selama ini istrinya hanya menghabiskan banyak waktu demi merawat suaminya ini, menjaga dalam suka dukanya, menemani segala huru hara yang terkadang dialami oleh seorang lelaki menjelang tua.

Di dalam kerinduannya yang semakin menjadi, ia mulai semakin tidak bisa tidur, lalu ia raih dengan segera telepon genggam di bawah bantal tidur. Sigap menekan nomor panggilan urutan perdana di bagian daftar nama. Nada sela dengan segera mewakili semacam aliran rindunya, menguat dan semakin mendebarkan hatinya dari urutan-urutan nada sela itu. Tepat pada bagian nada sela kelima komunikasi terjalin.

“Apa kabar kau istriku?” Seolah begitu canggung suara itu keluar dari mulut lelaki tua ini. Sebab padahal baru tadi sore mereka berdialog lewat telepon genggam ini.

“Kabarku baik sayang, koq belum tidur, obat sudah diminum?” Istrinya menjawab dan melayangkan tanya sekaligus.

“Sudah agak mendingan, kau jadi pulang besok khan? Entah mengapa rindu aku pada teh seduhanmu.. he..he..he..”, Ia membujuk lirih agar dipahami, agar dimengerti apa sebenarnya suaminya ini rindukan.

“Hay.. kenapa pandai pula engkau merayu begitu, bukankah kita tak pernah jauh, engkau tak pernah sebegitu pandai merayu, sebab aku ada selalu di sampingmu” Istrinya menjawab penuh paham, sebagai istri tentu dirinya tahu segala kemahuan suaminya.

“Sabar ya ayah, besok ibu pulang, tidurlah, peluk cium untuk suamiku ini…. Muach”. Istrinya sengaja menjawab ringan dipenuhi candaan mesra.

“Baik, aku akan tidur, sudah mulai tenang sebab suaramu, besok hati-hati di jalan ya bu, bawa istriku ini dengan selamat sampai rumah. Amin”. Suara suaminya ini mulai lebih tenang.

“Amin… sayang, sudah dulu, juga karena kita bagai lajang dara dahulu, macam anak-anak muda pacaran jaman sekarang pula, rindu misalkan sehari tak bertemu.. tidurlah, tidurlah tenang suamiku tersayang. Salam”. Istrinya menutup pembicaraan.

“salam. . . he..he..he.. jadi malu ayah, tapi sekaligus bahagia mendengar suaramu, selamat tidur juga. Salam”. Ia menutup komunikasi jarak jauh itu dengan lega.

Hujan di luar berhenti lagi, hujan memang turun sebentar, seperti turunnya perasaan-perasaan gelisah dalam hati seseorang yang disengat rindu. Lelaki tua itu mulai merebahkan tubuh dan hatinya kembali ke atas empuknya ranjang. Ranjang yang hanya ditemani sepasang bantal tanpa penghuninya, ia menepuk bantal tidur istrinya, seolah membayangkan kekasihnya yang setia itu sedang tidur di samping dirinya. Hari semakin dini, matanya sudah tak setegang tadi, sukar diajak mengatup. Kesendirian yang menyiksanya perlahan berangsur-angsur pergi, mengawan bersama mimpinya. Sungguh debar-debar rindu dalam dirinya terpelihara hingga esok hari.

***

Pagi sudah datang menyandarkan mukanya ke sela-sela jendela, membesuk basahnya dedaunan di taman rumah mewah lelaki tua itu. Sinarnya yang begitu perkasa seakan tak mampu menghalangi kebebasannya untuk menyelusup ke segala lini alam dunia. Kamar-kamar dibuka agar udara tergantikan. Jendela-jendela rumah dibersihkan oleh lelaki tua itu. Ia merasa begitu sehat hari ini, seolah inilah hari paling sehat selama ia merasa tubuh dirinya menua. Dibersihkannya perkarangan rumah yang tak begitu luas itu dengan penuh kelembutan. Disapunya lantai beranda dekat taman itu lalu dipel dengan pembersih lantai yang berisi cairan wangi apel yang menyegarkan hidung. Ia membenahi rumahnya yang ditempati berdua saja dengan istrinya itu. Bagai menyambut tamu kebesaran: istrinya, yang akan pulang hari itu juga.

Para tetangganya juga demikian, bedanya mereka membersihkan rumah bersama istri-istri mereka, dibantu anak-anaknya dalam gurau canda demi mengurangi rasa lelah saat bekerja. Lelaki itu ada juga sekali-sekali melirik ke arah tetangga seberang rumahnya itu. Tampak kebahagiaan tersirat dari wajah-wajah seri sekeluarga itu. Meskipun keadaan rumah cukup becek dan kotor berdebu akibat cuaca usai hujan tadi malam yang disertai angin cukup kencang. Di rumahnya sendiri daun-daunan di taman yang terhempas putus dari jemari rantingnya sangat banyak memenuhi pot-pot bunga. Dengan tangannya yang dibalut sarung itu perlahan disisihkan daunan kering itu. Ia rapikan dengan penuh penikmatan. Kesegaran dalam tubuhnya ternyata banyak disokong oleh kesegaran dalam jiwanya. Ia begitu menikmati pekerjaan paginya ini. Keringat sehat mulai menetes memenuhi kening dan leher. Ia kini merasa benar-benar segar.

Setelah selesai dengan halaman rumahnya yang kini sudah rapi itu, pekerjaan berikutnya dilakukannya di dapur. Ia menyeduh teh untuk dirinya sendiri dan meminumnya sekaligus bersama obat jenis vitamin saja setelah mengunyah sepotong roti. Ia tak meminum lagi obat demam dan flu itu, sebab telah yakin dirinya telah sehat. Lalu ia menuju kamar mandi membersihkan diri. Mandi perdana setelah dua hari berselang yang hanya membasuh badan dengan air hangat. Setelah berpakaian ia menuju beranda rumahnya dan membawa album foto keluarganya. Perlahan lebaran halaman kenangan itu dibukanya, ia hayati setiap wajah dan lintasan waktu yang terekam sebagai kisah hidupnya dari situ. Dirinya bagai seorang pengunjung bioskop yang tengah menghadirkan film lama dengan membuat hanyut larut dalam suasana tontonan memukau itu. Bedanya lelaki itu hanya tahu benar kisah dirinya belaka, tak ada orang lain yang paham secara rinci kawasan kenangannya itu. Dibukanya bagian foto perkawinan dia dan istrinya, puluhan tahun sudah waktu itu lewat. Namun seakan hari ini adalah hari permulaan kembali penyatuan dua berkasih ini. Ia sangat bersemangat demi merefleksikan perjalanan kehidupan yang dijalani bersama istrinya itu.

Waktu yang ditunggu telah tiba, sebagaimana biasanya jarak yang ditempuh dari kota tetangga itu berkisar tiga jam, maka seharusnya pukul sepuluh pagi istrinya sudah hadir di depan gerbang rumah mereka itu. Datang dengan senyum sapa yang sudah sangat dirindukan lelaki tua ini. Rindu yang muncul hanya oleh keterpisahan dua hari saja. Padahal mereka selalu bertemu, jarang sekali terpisah. Ke manapun selama ini selalu ia boyong istrinya ke mana pergi, begitu sebaliknya. Namun usia tak bisa berkata lebih dari yang sudah-sudah, badan keduanya sudah tampak tanda-tanda uzur. Mudah sakit hanya sebab perkara-perkara sepele. Makanya ia terpaksa menyepakati istrinya berangkat sendiri demi memenuhi undangan keluarga tersebut.

Setengah jam sudah lewat dari waktu yang istrinya janjikan, lelaki tua yang belum pikun itu tahu dengan yakin, mustilah ada sesuatu dahulu baru bisa ia yakini longgarnya kepulangan istrinya sampai setengah jam bahkan, apakah perjalanan pesawat yang ditumpanginya tertunda, apakah macet menyerang minggu pagi seperti ini. Tak mungkin rasanya, sebab bukan hari kerja. Biro-biro perjalanan yang menawarkan jasa penumpang mustilah sedikit longgar dari hari biasa. Apalagi ia yakin istrinya tidak salah memesan jadwal penerbangan. Bahkan ia sendiri yang memesan tiket pulang pergi dengan pembayaran online. Perempuan seperti istrinya tentu tak ingin berlama-lama di jalan. Apa yang mau dilihatnya. Apa pula yang mungkin dikehendakinya sehingga mundur dari niatan segera sampai ke rumah dari bandara. Ia memang sudah menawarkan untuk menjemput. Tapi istrinya menolak, biarlah dirinya tak merepotkan suaminya yang baru saja sembuh sakit

Pagi menjelang siang itu, langit Mei menunjukkan tanda yang agak berbeda. Biasanya saat malam barulah datang gumpalan awan menutupi bulan. Namun hari ini awan bergumpal lebih awal, menghalangi keperkasaan matahari yang sudah terik sejak pagi. Lelaki itu khawatir hujan turun dan mempersulit jalannya transportasi yang ditumpangi oleh istrinya. Misalkan istrinya itu masih di dalam pesawat, maka awan pekat itu pasti sedikit banyak mempengaruhi proses pendaratannya jika belum terlihat landasan turun dengan yakin secara teknis oleh pilot pengendalinya. Pesawat itu akan berputar-putar terus bagai seekor elang perkasa yang hendak mencengkram mangsanya di daratan. Berputar-putar pesawat itu dan menambah kesempatan para penumpang untuk belajar lebih sabar.

Atau bisa saja taksi yang membawa istrinya setelah turun dari bandara malah mengelilingi kota mereka. Mengajak bercanda berlebihan demi menambah lompatan angka kelipatan rupiah, akibat jarak yang rutenya makin diperpanjang. Istrinya jarang berpergian, lelaki ini makin gelisah dan tiba-tiba merasa begitu tolol membiarkan segala jebakan kegelisahan itu semua muncul setelah ia begitu nekad dahulunya membiarkan sang istri tercinta berangkat sendirian. Memang di awal keberangkatan istrinya ditemani salah satu keluarga jauh yang tinggal sekota dengan mereka, namun soal kepulangan sudah dipastikan bahwa istrinya ini akan pulang sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan muncul bagai kelipatan awan yang merubung langit semakin menipiskan cahaya. Lelaki itu menengadah dalam doanya, semoga hujan belum jatuh. Nah tepat sebelum ia mengamini doanya sendiri, hujan turun langsung menyerbu dengan lebat. Ia terkaget dan tersedak oleh doanya sendiri, sungguh alangkah berlawanan dengan keinginannya. Ia membereskan kursi beranda, merapikan vas bunga, menyimpan album foto kembali ke dalam rak lemari di dalam rumah. Ia menutup pintu rumah dan menyalakan televisi. Untuk setidaknya mengetahui keadaan cuaca, atau berita lokal lainnya dari televisi lokal yang sesungguhnya paling ia sukai dari pilihan channel lainnya. Ia menyimak dengan teliti berita demi berita yang disampaikan menjelang siang.

Semakin tak sabar dalam menanti kepulangan istrinya, ia raih telepon genggam di saku bajunya. Lalu dengan lincah dan sigap menghubungi nomor istrinya. Nada sela menyeruak begitu lama, telepon genggam istrinya itu aktif, dengan begitu ia yakin istrinya tidak sedang di langit bersama deru kapal terbang yang membawa badannya juga puluhan penumpang lainnya. Ia terus menunggu adanya jawaban dari seberang. Lalu dimatikan dan dihubunginya berulang kali nomor telepon genggam istrinya tersebut. Masih belum ada yang menjawab. Hati semakin gelisah, pikiran tak tentu arah. Lalu ia putuskan menghubungi keluarga tempat ia menginap di kota yang dikunjungi istrinya tersebut. Sebuah suara muncul di dalam speaker dengar.

“Ya.. hallo, siapa ini?” Suara perempuan ini sepertinya sangat dikenali.

“Hallo, ini saya suami Marlina, benarkah Marlina jadi berangkat, sudah sampai di mana sekarang?” Lelaki tua itu mendesak dalam pertanyaan yang segera minta jawaban. Karena makin tak sabar ia melanjutkan bertanya.

“Di sana hujan juga ya, cuaca tak bersahabat seperti di sini, apa sudah dihubungi Marlina, apa katanya, bagaimana perjalanannya?” Ia bertanya terus tanpa memberi sela kepada orang di seberang sana.

“Hallo… hallo… koq diam saja, ada apa, katakan pada saya ada apa sehingga Marlina belum sampai ke mari, ia baik-baik saja khan?” si tua ini mendadak pikun sebab mengharap jawaban tanpa menunggu si yang diminta menjawab dapat memulai barang sehuruf saja bunyi jawabannya.

Suara menggantung, lelaki tua ini menghening, mengatur nafasnya yang kian sesak dalam deru kekhawatiran, rambutnya acakan, keringatnya membasahi kerah baju yang dikenainya. Alis matanya naik turun seperti seorang terdakwa yang sedang dihadapkan dalam suatu sidang pengadilan yang tahu benar dirinya tidak bersalah, namun ditanyai berulang kali semacam mendoktrin agar mengakui perbuatan yang tidak dibuatnya. Perlahan nafasnya coba ia kuasai, meski dengus udara lewat hidungnya cukup mengantarkan desau suara ke pendengar di seberang.

Ia melanjutkan bertanya dengan lebih perlahan dan sabar.

“Hallo.. maaf, saya begitu mendesak dalam bertanya, saya sedang sangat khawatir dengan istri saya itu.. maaf.” Permintaan maafnya semacam menunjukkan kesadaran di balik tekanan jiwanya yang mulai reda.

Lalu perlahan suara di seberang mulai menguatkan sebuah jawaban yang runtut yang ditujukan beruntun tadi.

“Hallo, Marsinah tidak jadi berangkat, penerbangan ditunda akibat cuaca buruk, ia sehat, telepon genggamnya di dalam kamar, dicas akibat habis baterai, ia sudah mencoba menghubungi berulang kali ke sana, tapi tak bisa masuk, mungkin karena telepon suaminya dipakai untuk menghubungi kemari, ini Marsinah Yah.. ini istrimu, ini suaranya, ini cintamu, ini milikmu, ini…” Istrinya yang sedari tadi sudah menahan geram sesegukan menahan air matanya yang makin sembab demi menunggu menjawab segala riuh khawatir suami tercintanya ini akhirnya balik menyerang komunikasi tapi bukan pertanyaan yang panjang namun jawaban yang sungguh panjang dan dalam.

Kedua orang itu saling meluahkan rasa, begitulah segala makin menjadi terang. Langit di luar kembali terang, hujan turun hanya sebentar, tidak sampai membuat basah tanah dan bahkan membuat air tergenang, apalagi menghadiahkan kesabaran banjir yang memberangus rumah dan bangunan kota. Seakan kehadiran hujan itu hanya semacam pemilik taman yang menyiram kering bunga dan pohonan, begitu perkasanya pemilik taman dunia itu, membasuh hati segala yang berdebu atas kecintaan dan kerinduan demi basahnya kasih sayang.

Hujan hanya turun sebentar, bagai air mata sepasang suami istri ini, mereka yang lara dan suka di dalam percintaan sepanjang usia menuju senja, mereka yang tak lepas terbukanya dalam mengarungi rumah tangga, mereka yang begitu sederhana bahkan mudah larut dalam cuaca akibat perpisahan badan oleh jarak yang meski sebentar, mereka yang sederhana bergiat saling menjaga kasih sayang, mereka yang juga diasuh oleh anak-anak hujan kiriman malaikat yang diperintah menurunkan hujan, dan tentu meski tak terjabar lengkap, malaikat itu pula yang memiliki kuasa atas perintah tuhannya untuk menghentikan hujan sederas dan selebat apa pun yang sedang turun itu. Sebuah kekuasaan kecil saja itu, sebuah cinta kecil saja itu namun betapa kasih sayang dan rasa cinta itu amat memedihkan hati jika terpaksa berpisah atau dipisahkan.

Langsa-Indonesia, 8 Mei 2011.
Muhammad Rain; bernama asli Muhammad, dilahirkan di Peureulak, Aceh Timur pada tanggal 14 September 1981. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan, tahun 2004. Sekarang sebagai staf guru di SMAN 4 Langsa sekaligus dosen di beberapa PTN dan PTS di daerah Langsa maupun Aceh Timur.