Mengolah Pengalaman Sebagai Sumber Penulisan Puisi

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

ALHAMDULILLAH lahirnya rubrik puisi Mata Kata di http://www.pikiran-rakyat.com mendapat sambutan yang hangat dari berbagai pihak yang menyintai puisi sebagai bacaan yang menyegarkan di tengah-tengah hiruk-pikuk benturan nilai-nilai, berita politik, dan tingkah-laku para politisi yang kian genit dan tidak masuk akal, semisal ketika sidang paripurna, lebih asyik nonton video porno. Tautan juga kami sediakan untuk menyebarkan ke teman-teman lainnya melalui facebook.com/pikiran_rakyat.com dan juga twitter @pikiran_rakyat

Lepas dari soal itu, bagi para penyair yang ingin memublikasikan puisi-puisinya di halaman ini, bisa kirim sejumlah karyanya ke matakata@pikiran-rakyat.com. Sejumlah karya yang dikirim ke alamat tersebut, harus karya asli, bukan saduran atau terjemahan, tidak mengandung SARA, disertai foto, biodata, dan alamat yang jelas.

Dalam terbitan kali ini, redaksi menyajikan sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair L.K Ara (Aceh) dan Narudin (Subang). Masing-masing penyair menampilkan kemampuannya dalam menulis puisi dengan gaya ungkap yang berbeda. Puisi keduanya menawarkan renungan yang mendalam tentang hidup dan kehidupan, yang berdenyut diseputar dirinya. Tanpa adanya penghayatan yang mendalam terhadap apa yang dialami oleh kedua penyair tersebut, puisi yang indah ini bisa ditulis.

Pendeknya, penghayatan terhadap pengalaman, itulah kuncinya, yang menyebabkan puisi kedua penyair tersebut enak dibaca, yang ditulis dengan kalimat yang sederhana, namun kaya makna. Dalam enam puisi yang ditulis oleh kedua penyair tersebut di atas, tidak ada metafora maupun symbol yang aneh-aneh, sehingga kalimat puisi menjadi rumit adanya. Puisi tidak selalu harus ditulis dengan cara yang demikian, bisa dengan cara yang lain, yakni menampilkan kesederhanaan itu.

Almarhum penyair Rendra dalam percakapannya dengan penulis pada tahun 1999 lalu di rumah penyair Sitor Situmorang, Paris, Prancis, mengatakan, bahwa setiap puisi yang ditulis oleh seorang penyair pastilah punya gaya ungkap yang berbeda antara satu penyair dengan penyair lainnya. Untuk itu dalam cara bacanya, kita tidak bisa memaksakan car abaca tertentu tanpa kita mengetahui dengan pasti dalam gaya ungkap macam apa puisi itu ditulis oleh para penyairnya.

Berkaitan dengan itu, pada dasarnya menulis puisi adalah mengekspresikan sebentuk pengalaman dengan media kata-kata. Pengalaman yang diekspresikannya itu bisa berupa pengalaman hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan sesama, maupun dengan alam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menulis puisi adalah merupakan sebuah kegiatan rohani, yang mengekspresikan hubungan manusia dengan segala hal, baik secara fisik maupun metafisik.

Modal utama untuk mengerjakan kegiatan tersebut, selain memahami dan menguasai pengalaman yang kelak diolahnya, tentu saja penulis puisi harus pula mampu mengkreasi bahasa ungkap melalui kosa kata yang dipilih dan dipahaminya secara sungguh-sungguh dari sebuah bahasa yang dikuasainya pula, entah itu bahasa Sunda, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya di muka bumi.

Yang dimaksud dengan pengalaman dalam tulisan ini, adalah segala sesuatu hal yang dialami secara fisik maupun metafisik oleh penulis puisi. Misalnya, pada suatu hari saya ditinggal mati oleh nenek saya tercinta untuk selama-lamanya. Hubungan saya dengan nenek saya itu sangat dekat, karena sejak bayi hingga remaja saya berada dalam asuhannya. Selain itu, saya tahu betul tentang apa dan bagaimana kegiatan nenek saya dalam berkesenian, yang setiap saya hendak berangkat tidur selalu dilantunkan tembang Sunda Cianjuran, yang diakhiri dengan doa dan salawat kepada Nabi Muhammad saw.

Pengalaman-pengalaman semacam itu menggumpal dalam dada saya, apalagi ketika saya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana jasad nenek saya dikuburkan di pemakaman umum di Sukaradja, Tasikmalaya pada tahun 1976 lalu. Peristiwa tersebut tentunya tidak hanya menimbulkan rasa duka yang demikian dalam di dada saya, akan tetapi juga menimbulkan rasa sunyi, sepi, dan perasaan lengang, yang bercampur-aduk dengan kerinduan yang tiada henti mendera batin saya. Berkait dengan itu, lantas saya menulis sebuah puisi, di bawah ini, yang saya olah dari pengalaman tersebut.

DI PEMAKAMAN
– mengenang Oneng Rohana

di bawah langit Sukaraja yang membentang
ada gerimis dan rumputan sujud pada keheningan
ada jasadmu ditimbun tanah basah
seiring mawar doa yang mekar di kalbuku

ada kenangan menjaringku saat melati kutabur.
ada tembang cianjuran menggema dalam pengupinganku
yang kau perdengarkan
menjelang malam bersekutu dengan sunyi,

dan bulan hanya tampak
bayang-bayangnya saja. Kini dalam laguan
lembut angin pagi

saat matahari bergeser sedetik: aku tahu
semua itu: betapa keabadian hidup
hanya milikNya saja

19761

Mari kita bongkar bagaimana pengalaman yang saya olah itu dioperasikan dalam puisi tersebut. Saya mengamati dengan cermat alam sekitar yang ditulis dalam larik demi larik puisi di atas. Misalnya, saat saya memperhatikan proses penguburan jasad nenek saya tercinta, ketika itu turun gerimis. Apa yang dimaksud dengan gerimis dalam puisi tersebut tidak hanya merujuk pada gerimis yang turun dari langit sana, akan tetapi bisa juga berupa air mata yang menitik perlahan. Saat penguburan terjadi, di dalam benak saya bermunculan kenangan demi kenangan yang pernah saya alami bersama nenek saya tercinta. Atas kejadian itu saya kemudian menyadari bahwa manusia itu fana adanya, dan hanya Allah SWT yang abadi.

Bahan-bahan dasar penulisan puisi di atas, bukan hanya diambil dan diolah dari pengalaman fisik bagaimana saya menyaksikan secara langsung tentang proses penguburan nenek saya tercinta, akan tetapi pengalaman itu diolah dan dipadukannya dengan sejumlah kenangan yang bermunculan kembali dalam hati dan benak saya. Ini artinya, ketika puisi tersebut ditulis, perhatian saya tidak hanya tertuju pada lingkungan teks secara fisik (kuburan) , akan tetapi tertuju pula pada lingkungan teks yang non fisik (kenangan).

Dengan demikian maka jelas bahwa menulis puisi tidak bisa ditulis dari sesuatu yang tidak kita alami secara fisik maupun metafisik. Jika hal itu dipaksakan, maka hasilnya adalah sebuah puisi hampa makna dan hampa rasa. Orang Jawa bilang tanpa greget. Apa yang dimaksud dengan greget tentu saja bukan hanya soal rasa, akan tetapi menyangkut pula soal kualitas penghayatan terhadap objek puisi yang tengah ditulisnya itu.

Berkait dengan itu, menulis puisi pada satu sisi, sebagaimana dikatakan penyair Rendra dalam percakapannya dengan saya, maupun dengan almarhum penyair Wing Kardjo, bisa dikatakan sebagai luapan dari perasaan-perasaan yang kuat: yang asalnya bersumber dari emosi yang dikumpulkan dalam keadaan tenang-sunyi di dasar hati maupun di dasar pikiran.

Emosi itu kemudian direnungkan, hingga muncul sejenis reaksi yang berangsur-angsur membuat ketenang-sunyian itu menghilang, mengendap di dasar kalbu –untuk kemudian diekspresikan, setelah saya benar-benar mengenal dan memahami salah satu bentuk dari sekian bentuk pengalaman yang saya alamin secara konkrit maupun metafisik tadi.

Tanpa adanya pengalaman yang mengguncang hati dan pikiran seorang penyair sehingga ia ingin menulisnya, maka sungguh mustahil sebuah puisi bisa ditulis. Lebih jauh, Rendra mengatakan dalam percakapan dengan saya dalam sebuah kesempatan di Leiden, bahwa akar dari penciptaan puisi selain memahami bentuk-bentuk pengalaman adalah mengenal emosi dalam tingkat kesadaran yang tinggi. Dalam konteks yang demikian itu, maka apa yang disebut pengalaman tidak hanya berupa sumber inspirasi, akan tetapi juga berupa sumber ilmu pengetahuan, baik bagi si penulisnya maupun bagi orang yang membaca puisi-puisinya.

“Apa sebabnya pengalaman bisa menjelma jadi sumber pengetahuan? Karena apa yang ditulis oleh seorang penyair sudah tentu ia tidak begitu saja menuliskan apa yang dialaminya, tanpa ada penghayatan dan proses pendalaman terhadap pengalaman itu sendiri. Dalam proses yang demikian itu, selalu ada yang direnungkan dari apa yang tengah dihadapinya saat itu. Renungan-renungan yang kelak muncul dalam puisinya itu ada kalanya mengandung nilai-nilai filosofis, yang pada satu sisi hal tersebut bisa lahir secara spontan,” jelas Rendra, yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh teater modern di Indonesia, yang mengguncang negeri ini pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an lewat pentas teater mini kata, yang diberi judul Bip-Bop. (Soni Farid Maulana/”PRLM”)***

Sajak-sajak L.K. Ara
JEMBATAN GANTUNG

Anak kecil itu nampak termenung
Ia sendiri di sudut rumah
Tas sekolah sudah rapi
Tapi tak jadi pergi

Mengapa tak pergi sekolah
Tanya seseorang
Ia menggeleng
Ketika didesak
Anak itu terisak
Bersuara putus-putus
‘Jembatan gantung putus’

Orang pun maklum
Banjir bandang sudah meradang
Menghempas desa mereka
Dan menghanyutkan jembatan gantung
Satu-satunya alat penghubung

Kini anak kecil itu sedang menulis surat
Ditujukan kepada Presiden dan Gubernur
Memberi tahu tentang desanya yang hancur

Banda Aceh, 14 / 3/ 2011

HAPUS DEBU DARI MATAMU
– untuk CDI

beritahu debu
jangan hinggap di matamu
agar warna biru
terpelihara seperti dulu

kini walau matamu tak biru
tak apa
asal tetap bercahaya
hapus debu itu
agar yang dilihat nampak nyata
karena hatimu putih
seperti yang kau pinta

bertahanlah pada nurani
agar tetap memancarkan cahaya
dia boleh seperti surya
atau bulan
yang selalu memberi binar cahaya
meski dalam kegelapan

Banda Aceh, 29/3/2011

GUNUNG DIAM

gunung-gunung akan diam
sampai di pucuk pucuk
memendam rindu rindu
seperti pucuk kopi menyimpan cinta
seperti pucuk teh yang menyimpan embun
begitu gunung Pereben
yang menyendiri dipinggir danau itu
diam hanya memandang ke danau
kalau-kalau wajahmu
muncul seteduh paras danau

Banda Aceh, 17 Maret 2011.

L.K. Ara, lahir di Takengon, Aceh, 12 November 1937. Pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar UmumAngin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969), Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (BP, 1986), Dalam Mawar (BP, 1988), Perjalanan Arafah (1994), Si Karmin jadi Ulama, Cerita Rakyatdari Aceh I, (Grasindo, 1995), Cerita Rakyat Aceh II, (Grasindo, 1995), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN, 1995), Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung), Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (l997), Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), Langit Senja Negeri Timah (YN 2004), Pangkal Pinang BerpantunPantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004), Pucuk Pauh (ed YN 2004) Syair TsunamiPuisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006), Tanah Gayo Dalam Puisi ( YMA, 2006), Kemilau Bener Meriah (YMA, 2006), Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006), Sastra Aceh (Pena, 2008), Antologi Syair Gayo (Pena, 2008), Ensiklopedi Aceh I (ed YMAJ, 2008), Malim Dewa dan Cerita Lainnya (ed. YMAJ, 2009), Ensiklopedi Aceh II (ed. YMAJ, 2009). Puisinya dapat juga ditemukan dalam: Tonggak (1995), Horison Sastra Indonesia 1 (2002), dan Sajadah Kata (Syaamil, 2003).
Penghargaan: Memperoleh Hadiah Seni dari Pemda Aceh (2009).
Perjalanan: Menunaikan ibadah haji ke Mekkah (1993), Mengikuti Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatera Barat (1997), Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003), Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004).Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007), Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta (2008), Seminar Perpustakaan di Bandung (2009). Website: http://lkara2000.blogspot.com/

(Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Puataka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan penyair Tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Menulis puisi, cerita anak-anak dan artikel seni dan sastra. Dipublikasikan di koran dan majalah di Indonesia, Malaysia dan Brunai. Karyanya yang sudah terbit antara lain: (ed. DKKP, YN, 2004), (Balai Pustaka 2006),

Sajak-sajak Narudin
Percakapan Ke-0

Di ruang ini, aku menunggu diriku yang belum kembali;
di ruang itu, kau menunggu dirimu yang telah kembali.
Di waktu ini, aku menghitung waktu sebelum lahir dan setelah mati;
di waktu itu, kau menghitung dirimu, aku diriku, adakah sakit yang abadi?

A-b-a-d-i?

Apa maksud ruangku di sini (pun di sana?), dan waktuku di sana-sini?
Adakah Sesuatu di luar semesta alam yang tak terikat “waktu” dan “ruang” ini?
Apakah Yang menyiksa di keabadian (kelak, pasti) merasa menyesali?

Biarlah si burung hantu buta itu mencari hati dalam gelap tak terperi,
biarlah si burung hantu buta itu mengebumikan sunyi yang ter-cederai!

Siapa di antara kita, burung yang bicara ter-lantang, dan pandai terbang?
Sayap ini masih bagai punuk unta di dada, kelak bukan atas kehendak dirinya melayang?

“Tapi, ke mana? Di mana? Kapan?” gelisahmu meremang.
“Apa pula hakikat waktu dan ruang, hai kau, Sayang!”

Bisakah kuhapus si waktu dan si ruang itu dengan setetes air mata berlinang?
Atau tubuh dan ruh, mesti salah satu dibuang?
Di ketinggian, bukan, si burung hantu buta menemukan Bayang cemerlang?
Lalu, ke mana segala kenangan manis ini hendak mengendap, Tersayang?
Di dalam getir kematian atau ketiadaan yang berulang?

Mengitari seluruh galaksi alam ini, tamasya buta: semesta batin nan luas benarkah terlampaui?
Menerka kenapa siang tetap menyilaukan, dan malam terus menghangati. Nanti begini?

Keluhmu, “Hentikan semua permainan ini!”
“Ada-kah permainan yang selalu menyenangkan hati?”

Segera, pergilah,
aku tetap di sini:
giliran siapakah?
Tak usah ditafakuri.

Percakapan Ke-1

Telah sekian lamanya aku menginjaki wajah bumi yang tetap tabah, berpandangan dengan langit biru.

Terseliplah tanya, “Ada apa di balik biru langit?” Rupanya, bukan aku yang melangkah; Tuhan melangkahkan kakiku.

“Gelak tawa tak henti-hentinya dalam hidupmu ialah kematian hidupmu. Saat tawamu menjadi tanah,
engkau akan tahu bahwa tangisan itu lebih indah.”

“Jangan engkau temui cinta saat hatimu tak khusyuk sebab cinta seperti itu ialah kebencian yang menipu.”

“Jangan tergiur dengan sesuatu yang baru di muka bumi, sesuatu yang engkau sendiri susah hati meliriknya. Ingatlah
selalu kesaksian fitrah diri tatkala bumi belum terjamah, dan langit begitu merekah.”

Percakapan Ke-8

Sebelum sekuntum bunga melati jatuh
dari satu tangkai, menyentuh kulit bumi,
sekian juta jiwa di seluruh
jagat raya, mati, membawa sebuah arti.

Depok, 11 April 2011

NARUDIN lahir di Subang, 15 Oktober 1982. Lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada 2006. Pernah mengajar di Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA), Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta, ARS International School, dan UPI Bandung. Sejak SMU, drama-drama berbahasa Inggrisnya kerap kali meraih beberapa penghargaan tingkat Jawa Barat. Pada 2007, tercatat menjadi salah satu pemenang Duta Bahasa Jawa Barat di Balai Bahasa Bandung.

Tulisannya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat di media massa dan majalah seperti Majalah Sastra Horison, Majalah Qalam, Koran Seputar Indonesia, Koran Sinar Harapan, Percikaniman.org, sastradigital.webs.com, dan lain-lain. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi buku Ziarah Kata 44 Penyair. Ia tercatat bergiat di Majelis Sastra Bandung. Kini sambil menulis dan menerjemah, ia mengajar.

1 Soni Farid Maulana, Pemetik Bintang (Penerbit Buku Kiblat Utama, 2008:14)