Perempuan dan Imaji Sensual

Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

BENARKAH bayangan sensual berada di dalam kepala? Ia tak lain khayalan menggairahkan yang dikonstruksi “pikiran jorok” lelaki? Jadi, pada suatu adegan dalam serial sinetron Montir-montir Cantik, misalnya, bintang seks Sarah Azhari pun menantang lelaki yang “terangsang” oleh penampilannya, “Yang porno itu pakaian saya atau pikiran Anda?” Continue reading “Perempuan dan Imaji Sensual”

Hadi dan Mursidah

Mahmud Jauhari Ali
Banjarmasin Post, 5 Okt 2008

Namaku adalah Misran Yahadi. Aku biasa dipanggil oleh orang-orang yang mengenalku dengan nama Hadi. Usiaku sudah lebih dua puluh enam tahun. Tiga bulan yang lalu aku menikahi seorang wanita bernama Mursidah. Dia seorang wanita yang baik hati. Aku menikahinya bukan hanya karena parasnya yang manis, tetapi juga ia seoarang wanita solehah yang membuat hatiku merasa tentram bersamanya. Pertama kali aku mengenalnya saat aku menghadiri pesta pernikahan temanku di kota lain yang cukup jauh dari kotaku. Saat itu dia mendapat tugas memberikan pelayanan kepada para tamu undangan yang hendak makan di pesta itu. Aku termasuk salah satu tamu yang mendapat pelayanannya. Continue reading “Hadi dan Mursidah”

BERKESENIAN HANYA DENGAN KATA-KATA

Muhammad Rain *

Kurun waktu kini, banyak hal yang menggelisahkan kehidupan kita, harga cabai, sesaknya antrian BBM subsidi, ketakutan ledakan kompor gas, kegelisahan yang kadang tanpa kita sadari seperti api dalam sekam. Saat seperti ini puisi lahir sebagai salah satu alat, kreasi dan cara berkesenian yang hanya mengandalkan kata-kata. Menarik memang menanggapi banyak soal yang muncul justru hanya lewat kata-kata. Peristiwa sehari-haripun tak luput dicerita-kisahkan dalam karya sastra jenis ini. Continue reading “BERKESENIAN HANYA DENGAN KATA-KATA”

Menelusuri Kebobrokan Politis dalam Novel Glonggong

Donatus Nador
Seputar Indonesia, 19/08/2007

JUNAEDI Setiyono meluncurkan karya novel bertajuk Glonggong. Dalam karya perdananya ini, dia mengangkat persoalan-persoalan eksistensial manusia; masalah kultur, sosial, politik, ekonomi, dan religius.

Novel setebal 294 tersebut mengisahkan Danukusuma kecil yang gemar bermain gonggong––pedang-pedangan terbuat dari tangkai daun (pelepah) pepaya yang hingga menyerupai pedang. Karena kegemarannya itulah, Danukusuma mendapat nama julukan Glonggong. Continue reading “Menelusuri Kebobrokan Politis dalam Novel Glonggong”

Bahasa »