Puisi: Strategi Perekaman Dalam Situasi Dadakan

Sabrank Suparno

“Banyak waktu untuk masalah kecil. Banyak waktu untuk masalah besar.
Sedikit waktu untuk masalah kecil. Sedikit waktu untuk masalah besar.”

Puisi adalah hasil sadapan peristiwa alam semesta, di mana permasalahan yang amat gigantik dirangkum dan diperas sedemikian rupa menjadi santan, hingga sedemikian ringkas, padat, kental dalam satu rasa dan makna. Dari seribu permasalahan misalnya, puisi bisa merekam efektif mendekati target nominal yang sulit dicerpenkan, apalagi dinovelkan. Itu sebab, puisi kerap sebagai jalur paling ramai dilintasi sastrawan pemula sebelum merambah ke wilayah yang lebih lebar cakupannya: cerpen, novel.

Sastra (puisi) seruas dengan hal tak terduga, lepas dari prediksi dan jangkauan macam apa pun, tiba-tiba ada, hadir, mengalir, nyata, kemudian hilang, senyap, muram, kelam dan remang. Keunikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik fenomena sastra? Sehingga sedemikian ‘membatmentul-nya’diayunkan keseimbangan sejarah.

Sebagaimana perjalanan sejarah, sastra tak luput dari pertarungan ‘trik-intrik’pengibaran bendera: sebutlah yang paling dikenal dengan aliran realis dan surealis, keduanya gigih menyiapkan jala untuk menjaring alasan mengenai siapa yang paling mendekati (limite) fungsi sastra ketika dihadapkan pada disiplin ilmu lain. Namun, terlepas dari pengibaran bendera dimaksut, sastra tetap lahir laksana gaung pertapa dari dalam goa, ia nyaring dari gesekan ‘sreekk’ tapak kaki perantau di bebatuan cadas, ‘nyess’ lesapan air di padang gersang, atau ‘creass’ dari clorotan jatuhnya meteor di angkasaraya.

Usahlah sastra dituntut berdisiplin dengan ilmu lain, sebab ia merupakan unsur kelembutan, serupa ‘sel lentik’ dalam berbagai keilmuan. Hanya saja, sejauh mana pengudalan sastra dilakukan secara singkronik dalam ilmu lain.

Kehilangan sastra dalam berbagai lini keilmuan, samahalnya melempar segumpal kerinduan jauh ke lorong hal paling sunyi. Keadaan demikain, disadari atau tidak, pada kadar dan kurun waktu tertentu akan terserap oleh daya gravitasi pertemuan atas berlangsungnya kelayakan sebuah ekstase. Kenyataannya, tidak ada yang terputus dalam sastra, seumpama snapsot, berdiri di tepian tebing dan beberapa detik kemudian terjungkal bersama lengkingan selamat tinggal dan terjerembab ke jurang kematian sejarah. Di mana pun, tidak ada pedang bersilang linier yang memenggal urat nadi sastra secara tragis dan menggelepar, yang terjadi adalah tangis siklikal jabang bayi sebagai pananda kelahiran sastra garda depan dari rahim senja artistik silam (Esai Nostalgia Pengantin Sastra).

Membaca buku Antologi Puisi ‘Mobilisasi Warung Kopi’ karya Aditya Ardi Nugroho (Genjus), mengingatkan saya ketika nyeruput segelas kopi di beberapa warung. Ada kata kunci di sana: namanya tetap sama, yaitu kopi, tetapi berbeda rasa. Di kawasan panas pantai Kuta (Bali), tidak senyamleng pegunungan Trunyan-Kintamani dan Bedugul. Atau di perbukitan Asta Tinggi (Sumenep), berbeda dengan sekitaran industri Krakatau Still (Merak). Bahkan di tanah kelahiran sendiri (Jombang), antara warkop Yudar (Nglele), Mak Siti (Ringin Contong), Mak Muhsini (Gebangmalang), berbeda dengan warkop P. Tris (depan kampus SKIP Jombang), warkop Assalamu’alaikaum (gerbang UNMUH Malang). Ada banyak faktor pembeda yang berkaitan dengan seduhan, kemurnian, campuran serta suasana. Di sini Genjus berperan dalam 96 tuangan puisinya yang dikemas hingga 106 halaman.

Sebagaimana Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum selaku pengantar buku ini, saya tersentak. Apa yang misterius dari sosok Genjus, mahasiswa jebolan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang, hingga kumpulan puisinya tidak bisa dibilang pemula. Genjus meyeduh kerja puitika sedemikian tulus dan ulet untuk di persembahkan ke pembaca. Kerja puitika dimaksut ialah bagaimana Genjus mencari atau mewadahi intuisi, menentukan stilistika, tema, pencitraan, serta meramu berbagai genre puisinya.

Ada sekitar 20 jenis lirik puisi Genjus jika ditinjau dari 35 jenis lirik yang dikategorikan oleh Sutejo dan Sugianto dosen STKIP Ponorogo (Apreseasi Puisi, Pustaka Felicha, 2010). Banyaknya jenis lirik dalam buku ini, penulis sengaja menjebol sekat-sekat aliran dari gawang perpuisian yang kian rusuh dengan pertentangan. Bagi Genjus, pertengkaran kubu yang terus menerus, tak ubahnya orang yang bersikukuh berebut ‘benar’ dan ‘tua’ hingga eyel-eyelan sampai mengeluarkan KTP. Lucu.

Mantabnya, semua jenis puisi Genjus berdisiplin dengan A. Teeuw yang mengikat puisi tidak lepas dari kode bahasa, kode sastra dan kode budaya.

Puisi berjenis Hukla yang enak dipanggungkan, dapat kita temukan pada Surat Kaleng (hal.85), Sri Nangis Lagi (hal.86), Orang-Orang Panggung (hal.105). Puisi ini setara dengan Kembalikan Indonesia Padaku (MAJO, Taufik Ismail). Ratapan batin Genjus, terekam dalam warna elegis / karena aku hanya tembakau murahan / digulung dalam papir lusuh, beringsut, baunya kecut (Bersetubuh Siksa). Sedang yang paling privacy disembunyikan dalam puisi kamar / hening cipta / mati rasa (Yang Maha Sepi,hal.24) persis dengan puisi M. Fauzi Madura /di Sinai, ayat ayat itu mentasbih perjumpaan kita / rindu yang lahir berabad, berbetahbetah di ujung batumu (Horison, April 2006). Ada pun jenis lirik yang lain tersebar dan larat di sepanjang lanskap buku ini, semisal: Prismatis (Titik Habis, hal. 81), Diafan (Sri Nangis Lagi), Dramatis (Global Warning, hal. 91), Didaktis (Jagal Raya), Humoris (Gegar Otak), Romantis (Dia Wanita Militan), Metafisikal (Reaktor), Ode (Ibu, Ode Buat Aku), Kontemporer (Sepenggal Gerimis Untukmu), Naratif (Karnaval), Parodi (Kremasi Puisi).

Kejanggalan beberapa puisi dalam buku ini, seperti cerminan usia penulis yang masih dituntut sublimitasi karya, di mana hal yang adonis sekali pun tidak harus diungkap secara vulgar. Dalam Ode Buat Aku, penulis bertingkah narsis dengan mempahlawankan dirinya, tidak seperti Ode Buat Gus Durnya D. Zawawi Imron. Pengaruh usia juga terlihat dari lemahnya puisi bernada Parnasian yang menggarap puisi atas pertimbangan ilmu dan peningkatan ekonomi. Demikian juga tanda Platonik yang memasuki wilayah Tuhan dengan sangat mesra seperti Hamid Jabbar dalam judul puisinya Ke Puncak Diam / setiap langkah adalah darah / mengucap kejadian pasrah / yang bersipongah ngngngnggg / dari lengang ke lengang ngngg / ke dalam jeram / alirkan salam ke puncak diam.

Kepedulian buku ‘Mobilisasi Warung Kopi’ terhadap ketimpangan sosial, dapat dianalisa dari perbandingan puisi Satire yang mendominasi keseluruhan tema hingga 62 % dibanding puisi lainnya yang berjenis romantis, elegis, epigram, liris dll. Satire bukan puisi bisu yang tak andil merubah rezim Suharto hingga pergolakan Nazaruddin di tubuh Partai Demokrat. Di sini Genjus menempatkan barisan bersama Rendra dan Wiji Tukul yang menyorong puisinya ke mobilisasi pemberontakan dengan pamflet (Peniup Peluit, Harakiri, Haru Biru Air Matamu, Kesaksian Cacing, Surat Kaleng, Sebatang Paradoks). Meski pun masih mengekor, akan berbeda suguhannya jika Genjus menggeser bentuk budaya puisinya dari puisi Rendra. Sebab kebudayaan sebagaimana kekekalan energi tidak akan hilang dari naluri manusia, tetapi bisa berubah bentuk (Setya Yuwana Sudikan, makalah seminar di STKIP Ngawi 18 Januari 2011).

Buku ini penting bagi pembelajar sastra. Pembaca dapat mengutip bagaimana cara penulisnya merefleksi kejadian sesaat menjadi rekaman abadi secara baik dan benar. Sikap brilian penyair ialah ketepatan menguasai situasi dalam perubahan dadakan: Sesaat yang mempertaruhkan nilai. Itulah Genjus dengan karyanya.

*). Sabrank Suparno. Esais Jombang. Bergiat di Lincak Sastra Dowong. Tim pengelola media web: www.Sastra Indonesia.com.
*) Makalah bedah buku Antologi Puisi Mobilisasi Warung Kopi, karya Genjus, di HMP Bahtra Indonesia STKIP PGRI Jombang, pada 18 Juni 2011.