Tentang Warisan Budaya Kita

Bre Redana
Kompas, 27 Des 2009

WAKTU bagi kami seperti tiada. Artinya, kami tidak terlibat atau ambil bagian dalam percepatan waktu di zaman ini yang dipacu secara luar biasa oleh teknologi informasi dari SMS, e-mail, Blackberry, bahkan koran dan televisi. Olah tubuh mengembalikan kami pada diri sendiri secara penuh.

Semua berlangsung begitu saja, mengalir bagai air. Tak ada niat untuk berefleksi tentang waktu, apalagi melakukan perlawanan budaya dengan gerakan perlambatan: in praise of slowness sebagai antitesis percepatan zaman ini. Tidak. Sama sekali tidak. Kami semata-mata mengikuti kegiatan retret Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih yang kali ini jadwalnya kebetulan jatuh di akhir tahun. Tatkala sebagian besar orang sibuk dengan rencana liburan dan perayaan—kita hidup di zaman karnaval dan perayaan—selama tiga hari tiga malam kami mengurung diri di pedepokan PGB Bangau Putih di kawasan berbukit-bukit dan bergunung-gunung di Tugu.

Agenda kegiatan hanya berpusat pada keinginan mengolah kesadaran lewat latihan dan latihan. Bangun subuh, sebagian teman sembahyang, dilanjutkan bersih-bersih lingkungan yang luas ini dengan membersihkan kamar, menyapu halaman, memasak air, dan lain-lain. Kegiatan sederhana itu membuat lingkungan seperti bersiap untuk suatu penyelenggaraan, yaitu penyelenggaraan latihan. Dari pukul 06.00 sampai pukul 08.00 kami mulai berlatih melenturkan tubuh, kadang dibantu dengan sejumlah peralatan, seperti batang bambu ataupun toya.

Pukul 08.00 kami semua menikmati makan pagi bersama-sama, minum teh panas, minum kopi, sebagian sambil merokok. Apa boleh buat, kebiasaan yang telah menjadi kewajaran, seperti merokok, tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mungkin itulah sebabnya makin dibutuhkan olah napas. Tetap merokok, tetapi giat olah napas (itu seloroh guru besar kami, Gunawan Rahardja, untuk kami para perokok). Latihan dilanjutkan lagi seusai makan pagi sampai sore menjelang malam, diseling makan siang. Malam hari seusai makan malam masih ada pengolahan lagi, sebelum waktu istirahat sekitar pukul 23.00, yang biasanya malah diisi dengan ngobrol dan main gitar sampai dini hari. Tak ada televisi, tak ada koran. Andaikan toh mau telepon, sepanjang hari nyatanya tak ada kesempatan untuk itu.

Itulah yang disebut sebagai suatu koinsidensi, suatu ketidak-sengajaan, bagaimana gegas dunia luar seperti terputus dari kami. Olah tubuh mengembalikan kami pada diri sendiri, seperti tema kali ini, ”Kewajiban, Kesadaran akan Keilmuan”.

Silat adalah aset kebudayaan kita yang luar biasa. Pada satu gerak paling sederhana sekali pun tersimpan berlapis-lapis pengertian, yang saking berlapisnya pengertiannya sampai seperti menyimpan misteri: yang lalu banyak orang awam mengartikan adanya suatu ”tenaga dalam”. Kami tidak pernah memikirkan itu. Bahkan, bagi sebagian dari kami silat barangkali adalah sesuatu yang sangat teoretik, sangat scientific. Tentu saja, bukan berarti bahwa karena dia bersifat teoretik, lalu dipikirkan, dilakukan satu per satu dan berurut dalam praktik. Kami mengikuti keteladanan guru besar dan para senior: pikiran, jiwa, kesadaran, menyatu dalam gerak seperti bayang-bayang.

Salah satu dewan guru, Irwan Rahardja, yang juga kakak kandung guru besar, adalah sosok yang sangat rasional (dan oleh beberapa kawan dikenal galak). Bagi dia, ada hukum alam yang tidak bisa ditawar. Misalnya soal geometri. Dia akan betulkan semua gerak murid dalam perspektif hukum yang mutlak seperti dalam fisika. Posisi, poros, persendian, dinamika gerak, ia tempatkan dalam perspektif geometri, yang pengertiannya kemudian ”… penggunaan persendian secara alami menjadi kokoh dalam bergerak, yang nantinya dapat membantu seseorang untuk menyalurkan tenaga dan kekuatan sesuai kebutuhannya secara wajar.”

Itulah keteraturan alam, di mana kita harus tahu diri, tunduk atas hukum alam, sebagaimana ilmu, yang selalu ditekankan oleh guru, berasal dari alam dan harus dikembalikan kepada alam.

Sparring atau latihan secara berpasang-pasangan yang di PGB Bangau Putih disebut tui cu adalah ujung untuk mempraktikkan semua yang telah dipelajari dan dipraktikkan. Latihan olah tubuh adalah latihan mengenai keteraturan, disiplin, sementara tui cu, perkelahian, adalah kondisi di mana hal-hal dari luar kita berintervensi dalam suatu ketidak-teraturan atau chaos.

Hanya saja, bagi yang percaya pada hukum alam tadi, tetap akan percaya bahwa seluruh kehidupan ini memiliki pattern atau pola, memiliki motif, memiliki desain. Pattern dan desain dalam silat sulit diterangkan, tapi bisa dijalani, itulah kata-kata Irwan Rahardja. Ketidak-teraturan dan keteraturan adalah yin dan yang, itulah kenyataan dunia.

Tidak ada gerak yang salah, sejauh itu disadari. Kesadaran adalah dasar segala-galanya. Sejak mendiang suhu Subur Rahardja yang menjadi guru sejumlah tokoh di Indonesia, termasuk ikon kebudayaan Indonesia, Rendra, kesadaran ini menjadi imperatif. Rendra yang kini juga telah almarhum pernah merumuskan dalam sajaknya: ”Kesadaran adalah bumi, kesadaran adalah matahari, keberanian menjadi cakrawala…”.

Senja di hari terakhir kegiatan telah tiba. Itu artinya kami semua yang berkumpul di situ dari berbagai penjuru—dari Bogor, Jakarta, Yogyakarta, Bali, Jerman, Amerika, Italia, Spanyol, Austria, dan lain-lain—harus berpisah. Pergantian tahun di depan mata. Kami saling merasa kehilangan. Kegiatan ini bagi kami tidak hanya kegiatan olah tubuh secara intensif dari pagi sampai malam, tetapi juga seperti tarekat. Apa itu tarekat, seorang teman dari Italia bertanya artinya. Ini penjelasan spontan saja dalam silat yang barangkali juga tidak terlalu tepat: ”spiritual brotherhood”.

Kita sering bicara mengenai kekayaan budaya kita. Menjadi tugas kita masing-masing tidak hanya untuk menjaganya, tetapi juga mengaktualkannya. Masih banyak yang bisa kita lakukan, untuk merekatkan diri kita satu sama lain, dalam suatu kebersamaan, menghadapi dunia yang kian tercabik-cabik.
***

http://cabiklunik.blogspot.com/2009/12/refleksi-tentang-warisan-budaya-kita.html