Puisi-Puisi Tia Setiadi

http://www.suarakarya-online.com/
JERUK

Untuk memahami jiwa sebutir jeruk
kau perlu menyimak riwayatnya
mengikuti pengembaraannya
menyebrang benua demi benua,
melintas bangsa demi bangsa,
dengan puluhan kali bersulih nama,
Mula-mula orang india menyebutnya naranja
di abad lima belas,
kala para pelaut portugis
menaburkan benihnya ke seluruh buana,
ia pun dinamakan porthogal
dan sejak itu, seperti sepatah ayat,
nama jeruk menempuh rute
nasibnya sendiri-sendiri.
Tak ada satu pun bangsa di dunia
yang menolak jeruk.
Dialah utusan Tuhan yang paling bisa diterima
melebihi para nabi,
para santo dan para rasul
Jeruk tak membeda-bedakan
kasta dan usia: seorang anak ataupun
si tua renta sama-sama menikmatinya
penuh sukacita.
Dalam sebutir jeruk terkandung janji ribuan jeruk lainnya
jeruk-jeruk yang kelak akan menyedapkan setiap makanan menghiasi lanskap sebuah lukisan, menjadi pemanis segala pesta dan mengharumkan tubuh ranum seorang dara sehingga, seolah-olah,
tubuhnya sebutir jeruk yang tengah rekah.
Saat sedang berkelompok
atau sedang sendirian
jeruk tetap menakjubkan saat berkelompok,
ia bersinar bak lelampu keemasan
yang dinyalakan tangan-tangan lunak
para dewi saat sendirian,
ia tampak hening dan segar
laksana paras sang sakyamuni.
Jeruk: suatu berkah, sepatah ayat,
sebuah pesta yang bersahaja.

DUA JEJAK KAKI SYABISTARI
:Agus Manaji

Setiap pengembara
meninggalkan ribuan jejak kaki
di Jalan yang pernah dilintasi.
Tapi Syabistari cuma meninggalkan
dua jejak kaki: jejak pertama
melangkah menjauhi diri
jejak kedua melangkah mendekati Kekasih.
Dari jejak pertama tumbuhlah
kebun mawar rahasia,
mekar-mekar bunga,
rangkaian batu mulia
dan setetes air yang memanjang
jadi sungai Nil.
Dari jejak kedua tumbuhlah tahi lalat, rambut ikal, pipi tulip,
dan bulu-bulu halus yang mempercantik paras Sang Kekasih.
Di mihrab perjumpaan jejak pertama
dengan jejak kedua:ruh bercumbuan
dengan Ruh sembari saling menyanjung.

Desember 2010

WAJAH PENGHABISAN

Kamu bergegas datang
dengan wajah penghabisan
Memintaku memperlihatkan
bekas gigitanmu di pundak
Lalu membisikkan sesuatu,
semacam arah, tapi bukan alamat.
Kamu sembunyikan keperihan
di balik aksen batakmu
yang keras namun sunyi.
Juga sayu, sebenarnya.
Kemudian gerimis
dan senja turun terlalu lekas.
Kamu tampak gugup,
pura-pura merapikan rambut,
dan menjauh
ketika hendak kucium.
Tapi kulihat sisa kangen di juru matamu,
basah sekilas sebelum kamu berangkat,
tergesa, tanpa sempat melambai.
Saat itu ada 2 unggas melintas
dan seekor anjing pincang
berlindung di payung cemara kipas
Sedang agak di jauhan:
kamu dan gerimis kian mengecil
menuju ujung hari.
Dan tak akan pernah kembali.

Yogya, 5 november 2007.

Istilah pencarian yang masuk: