Buka Puasa Pertama

Sutan Iwan Soekri Munaf
http://www.sinarharapan.co.id/

Bi Iyem membaca catatannya. Tertulis di sana, kolang-kaling 1 kg, pisang kapok kuning satu sisir cukup besar, gula jawa 1 kg dan beberapa catatan lainnya. Dia ingat sekali pesan Nyonya Besar, bahwa hari ini pertama puasa.

?Kita harus siapkan bukaan. Tuan Besar dan Tuan Roni suka sekali berbuka puasa menyantap kolak. Bayangkan, Tuan Besar pulang dari kantor, langsung menunggu waktu berbuka bersama Tuan Roni, sambil menghirup aroma kolak. Hmmm?.Jadi kita harus sediakan kolak yang enak,? terngiang kembali pesan Nyonya Besar.

Setelah membaca catatannya, dia menuju penjual masing-masing dagangan itu. Langkahnya gontai, karena lelah . Sahur hari pertama tadi nyaris terlambat, sehingga dia hanya sempat makan sesuap dan seteguk teh manis.

*

Minah bergegas. Wajahnya ceria. Dalam pikirannya sudah terbayang, dia harus ke Parjo sang penjual kolang-kaling, kemudian ke Mas To yang menjual berbagai pisang, dan Mak Ipah yang menjual gula jawa.

?Biarpun aku belanjanya masing-masing hanya 1 ons, namun buka puasa hari pertama ini akan meriah. Bang Ipul pasti senang sekali, selepas menarik angkot, menunggu waktu berbuka bersama Ridwan. Menghirup aroma kolak, tentu mereka akan sabar menunggu bedug bertalu,? kata hati Minah sambil menuju tempat Parjo di pasar.

*

Matahari merangkak ke puncak.

Wajah Roni terlihat lemas. Sedangkan Ridwan masih sibuk mengetik.

Tak berapa lama, terdengar adzan dzuhur.

?Ayo, kita shalat,? ajak Ridwan seraya men-shut-down laptop itu.

?Hari masih panas. Kamu duluan saja. Aku menyusul,? jawab Roni.

?Hehehe? Kalau tugas kita ini bisa ditangguhkan. Nanti atau besok bisa kita kerjakan, Ron. Shalat jangan ditangguhkan. Nanti kita akan menjadi orang merugi,? ungkap Ridwan sambil menutup laptop.

?Hehehe, Wan. Kamu sudah seperti Ustad Usman saja,? jawab Roni dengan setengah malas bangkit.

?Kok lemas sekali, Ron??

?Aku telat sahur. Makannya sedikit. Jadi lapar deh.?

*

Dari lantai 7 gedung perkantoran di Jalan Sudirman ini, Rudi menatap ke arah Kebayoran. Hari masih siang. Tiap sebentar di melirik ke jam tangannya. Jarum detik itu bergeraknya lamban sekali. Perutnya keroncongan sekali.

Padahal ruangan ini ber-AC. Keroncongannya masih terasa. ?Aku masih dapat puasakah, jika berada di tengah jalan itu?? tanyanya dalam keroncongan.

Cuma tekadnya ingin puasanya tamat pada tahun ini.

?Walau tadi telat sahurnya, aku berjuang menyelesaikannya,? katanya dalam hati di antara keroncongan yang amat sangat.

Ketika kecamuk perutnya terasa itu, terdengar ketukan pintu.

?Ya, masuk.?

Yanti masuk.

?Ada apa, Yan??

?Dewan Direksi sudah menunggu, Pak.?

?Oh, ya? Rapat hari ini jadi juga?? tanya Rudi.

?Kan Pak Rudi yang menentukan hari dan jamnya??

?Ya. Ya. Aku lupa. Aku sebentar lagi ke ruang rapat,? kata Rudi.

*

Panas mendera tengah hari, apalagi di belakang kemudi angkot yang tak ber-AC, membuat kerongkongan kering. Tambah lagi Jalan Otista macet, karena ulah sejumlah kawan Ipul yang mencari muatan. Namun Ipul tetap sabar menjalankan kendaraannya.

?Kranji, Pak?? tanya Ipul pada seseorang yang baru saja menyeberang jalan.

Orang itu menggelengkan kepalanya.

Penumpangnya kurang empat orang lagi. Ipul tak mengikuti jejak temannya mencari muatan. Dia segera keluar dari kemacetan di luar Terminal Kampung Melayu.

Begitu lepas dari kemacetan, laju angkotnya mulai agak kencang, terasa juga angin masuk, sehingga menurunkan temperatur. Sedikit segar rasanya.

?Mudah-mudahan sebelum jam empat sudah terkumpul setoran dan ada lebih kubawa pulang,? pikirnya dalam hati.

*

?Bagaimana, Yem? Sudah selesai? Kok aromanya belum terasa??

?Belum, Nyonya. Sebentar lagi…..?

?Santannya cukup? Gula jawanya cukup? Kolang-kalingnya ada dibelah dua? Pisangnya dibagi tiga menyamping irisannya?? tanya Ani, sang Nyonya Besar, bertubi-tubi pada Iyem.

?Ya, Nyonya,? jawab Iyem sambil terus mengaduk-aduk masakannya, tanpa memperhatikan Nyonya Besarnya yang hanya berdiri depan pintu dapur dan kemudian pergi menuju ruang tengah untuk melanjutkan menonton sinetron.

*

Minah menata meja kayu yang dibelinya 15 tahun lalu di Jalan Inspeksi Kalimalang, bersama Bang Ipul. Meja kecil namun cukup pas di ruangan kecil di kontrakan kecil ini.

Kolak yang baru masak, aromanya bertebaran.

?Mak, kolaknya enak nih….,? kata Ridwan seraya berpaling ke arah meja.

?Sudah. Nantikan saja bedug sambil menonton kultum,? jawab Minah seraya tersenyum.

*

Menghadap ke meja lonjong, keluarga Rudi sudah duduk di masing-masing kursi. Bi Iyem menonton TV di dapur menunggu bedug.

?Lama sekali hari bergerak, ya Papi,? kata Ani memecah kebisuan.

?Ya. Aku nyaris tak konsentrasi dalam rapat tadi,? papar Rudi.

?Iya, Mami. Lemas sekali tubuh ini, karena telat sahur,? ungkap Roni yang matanya tak lepas dari pesawat TV menunggu waktu.

?Ya. Ya. Besok tak akan telat, agar puasa kita kuat,? jawab Ani.

Tak berapa lama antaranya, terdengar bedug. Roni, Rudi dan Ani segera menyeruput kolak. Suara azan magrib tak lagi terperhatikan.

*

Setelah meneguk air putih hangat, Ridwan makan sesendok potongan kolang-kaling. Minah dan Ipul tersenyum melihat polah anaknya. Mereka pun mengikuti.

?ALHAMDULILLAH. Kita berhasil melewati puasa hari pertama,? kata Ipul.

?Ya. Kita ke masjid, Ayah. Jangan sampai ketinggalan,? ujar Ridwan bangkit.

?Tak kau habiskan kolakmu?? tanya Minah.

?Biarlah, Mak. Nanti sepulang dari masjid, kuhabiskan.?

*

Rudi terhenyak di kursi. Tak kuasa bangkit. Perutnya kenyang sekali.

Ani bangkit dari kursi, menuju sofa. Dia ingin menonton sinetron sambil menikmati kekenyangannya.

Roni beranjak ke kamar. Setelah kolak disikatnya, nasi dan sop konro pun tandas di piringnya. Di kamar ingin saja dia bergolek merasakan kenyang perutnya.

*

Minah melipat mukena dan sajadah, kemudian ditaruhnya di tempat gantungan.

Segera dia siapkan nasi dan goreng tahu serta sayur kangkung di atas meja.

Wajah Minah cerah. Dia tatap ke meja. Sudah rapi. Mereka akan menyantap, jika anaknya dan Bang Ipul pulang dari mesjid.

Bekasi – 2011