Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (I)

Helvy Tiana Rosa
Republika, 21 Sep 2008

“Sastra bukan sekadar menyapa. Ia telah memerdekakan saya dengan caranya sendiri….” (Syifa Aulia)

Kalimat yang dilontarkan Syifa Aulia di tengah canda teman-temannya di Kowloon Park bertahun-tahun lalu itu ternyata serius.Lebih kurang 10 tahun lalu ia berangkat ke Hong Kong, salah satu kota paling sibuk di dunia, untuk mengadu nasib yang lebih baik, meski harus menempuh jalan sebagai seorang domestic helper (PRT). Siapa mengira, lima tahun di sana, jalannya sebagai cerpenis justru terbuka. “Sastra telah memerdekakan saya sebagai manusia, bukan sekadar dari seorang pembantu rumah tangga atau buruh migran,” ujar Syifa lagi.

Meski harus banting tulang dengan pekerjaan “rendahan”, ia berusaha agar setiap waktunya bisa maksimal. Maka sambil memasak, beres-beres atau bahkan di kamar mandi, ia menggenggam pena.Malam, saat waktu tidur, dengan cahaya redup senter kecilnya, ia masih membaca atau menulis. Di kemudian hari, saat ia bisa membeli blackberry second, lalu laptop murahan, ia pun memanfaatkan wifi, mengakses internet, memperkaya referensi tulisannya.

Waktu liburnya seminggu sekali, dipakainya untuk bertemu teman-temannya dalam sebuah komunitas, yang memberi masukan atas apa yang belum, sudah atau akan ia lakukan dengan ide dan naskah tulisan di tangannya.Kini ia telah menulis tiga buku, antara lain Hong Kong, Topan ke-8. Sebelum pulang ke Indonesia, ia masih sempat bercerita, bagaimana beberapa wartawan di Hong Kong, memburu berita tentang ia dan teman-temannya dan berupaya menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Cantonese.

Hal seperti itu pula yang kurang lebih dialami Swastika Mahartika. Perempuan ini membawa beribu kepahitan kala mendarat di kota yang sama. Bertubi kegetiran yang ia terima di Hong Kong kemudian, bahkan tak mampu membendungnya untuk menjadi seorang pengarang serius. Tak punya kamar alias harus tidur di dapur bahkan pernah tidur bersama anjing tak juga melemahkannya.Saat disket, CD, dan flashdisc, menjadi sesuatu yang dilarang majikannya seorang bobo (nenek) yang selalu memeriksa tasnya saat keluar masuk rumah ia mengalah menitipkan semua itu di rumah temannya, termasuk sebuah piala yang ia dapatkan dari lomba menulis di komunitasnya

Andina Respati, Wina Karnie (penulis kumpulan cerpen Wanita dan Negeri Beton) dan puluhan lainnya juga punya cerita yang dramatis, tentang bagaimana memulai karir mereka sebagai penulis, dalam posisi sebagai kaum urban yang lemah dan tertindas.”Kami akan meluncurkan belasan buku lagi tahun 2008 ini, Mbak,” kabar dari Respati yang masuk ke ponsel saya. Ia dan teman-temannya terus mengadakan berbagai pelatihan untuk menjaring para penulis baru dari kalangan domestic helper di sana.

Buruh panggul

Kisah tentang teman saya, Sakti Wibowo dan Nasirun, lain lagi.Sakti memulai karirnya sebagai buruh panggul pabrik roti di sebuah kota di Jawa Tengah. Siapa mengira, beberapa tahun kemudian ia telah menulis lebih dari 20 novel dan kumpulan cerpen. Kini ia bekerja sebagaiscript writer lepas dan editor di sebuah penerbitan di Jakarta.Nasirun selalu memperkenalkan dirinya sebagai “Lulusan TK Pertiwi”. Berangkat dari desa ke kota, ia bergelut dengan berbagai macam pekerjaan: tukang parkir hingga menjadi penjaga kotak WC. Lalu kemudian ia dimerdekakan oleh sebuah pekerjaan: menulis. Kini banyak orang belajar menulis dari penyair yang juga kartunis itu.

Paris J Ipal bekerja sebagai SPG di sebuah mall di Jakarta, kini telah menulis lebih dari lima buku. Amir, jauh-jauh merantau dari Sulawesi Selatan dengan kesadaran penuh: pergi ke Jakarta dan menjadi penulis! la sempat terlunta-lunta sebelum akhirnya menjadi SPG di Gramedia dan tahun lalu memenangkan sebuah sayembara penulisan cerpen berhadiah jutaan rupiah. Kini ia tengah menyiapkan buku pertamanya.Begitu juga yang dilakukan Arlen Ara Guci; dari pengangguran di kota, menjelma penulis lima buku, bahkan bisa bekerja di penerbitan.

Afifa Afra adalah seorang mahasiswi pekerja sosial, yang dari jalanan kemudian menulis puluhan buku, bahkan membuat sekolah menulis. Noor H Dee adalah koki sebuah kafe di Jakarta yang kemudian menemukan jalan sejatinya sebagai pengarang dan penggiat sebuah penerbitan. Bukunya: Sepasang mata untuk Cinta yang Buta, baru saja terbit dan menegaskan keseriusannya di dunia sastra.

* Helvy Tiana Rosa, Cerpenis, pendiri Forum Lingkar Pena
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/wacana-hikayat-wong-cilik-di-tengah.html