Menimbang Rekomendasi Jelang KBJ V

Catatan Rakor dan Singkronisasi Pengembangan Sastra Budaya di Jawa Timur
Anjrah Lelono Broto *)
http://www.radarmojokerto.co.id/

Apabila tidak ada aral yang melintang, Surabaya mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Kongres Bahasa Jawa V (KBJ V), Nopember 2011 ini. Jelang peristiwa kebudayaan berskala internasional tersebut, Pemprov Jawa Timur menggelar agenda bertajuk ?Rapat Koordinasi dan Singkronisasi Pengembangan Sastra Budaya di Jawa Timur? (baca, rakor) yang bertempat di Hotel Satelit Surabaya (15 ? 17 Juni 2011).

Agenda rakor ini dibuka oleh Sekda Provinsi Jawa Timur, Drs. H. Rasiyo, M.Si, dan dihadiri oleh jajaran pejabat di lingkungan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Jawa Timur. Selain birokrat di lingkungan Pemprov Jatim, agenda ini juga diikuti peserta dengan beragam latar belakang, baik dari Balai Bahasa, seniman dan sastrawan Jawa, utusan media berbahasa Jawa, serta guru mata pelajaran bahasa Jawa.

Dasar pijakan pelaksanaan agenda tersebut adalah Program Kerja Biro Administrasi Kemasyarakatan Sekretariat Daerah Pemprov Jatim tahun anggaran 2011. Merujuk pada materi dalam Buku Panduan yang dibagikan kepada peserta, tujuan digelarnya rakor ini adalah untuk menggali dan mengaktulisasikan nilai kearifan budaya lokal dan memberikan penguatan terhadap tumbuh-kembangnya mentalitas bangsa dan generasi penerus.

Sedangkan secara teknis, tujuan digelarnya rakor ini adalah mendapatkan draft rekomendasi yang siap dibawa wakil-wakil Jatim pada Kongres Bahasa Jawa V Nopember nanti. Simpulan ini dilatarbelakangi oleh dasar pijakan digelarnya rakor ini sendiri, dimana bernaung penuh Pemprov Jatim dan draft rekomendasi yang dihasilkan oleh rakor harus dikaji ulang oleh gubernur Jatim bersama jajarannya yang terkait.

Paparan di atas, sedikit banyak tentu sangat menggelitik, mengapa juga harus ada Kongres Bahasa Jawa? Mengapa juga pemerintah daerah seperti Jawa Timur ambil bagian dalam Kongres Bahasa Jawa? Kemudian, kira-kira rekomendasi apa yang dapat dibawa ke forum KBJ V?
***

Dalam makalahnya yang berjudul ?Kabudayan Jawa: Kinepung Wakul Binaya Mangap?, Prof. Dr. Ayu Sutarto, MA, menggambarkan betapa kebudayaan Jawa (termaktub di dalamnya Bahasa dan Sastra Jawa) berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Budaya Jawa adalah salah satu penyumbang kebudayaan Indonesia yang fundamental, namun hari ini fenomena yang nampak menggambarkan ?akeh wong Jawa sing lali Jawa-ne? (banyak orang Jawa yang telah lupa dengan ke-Jawa-annya, terjemahan).

Tentu saja, paparan Ayu Sutarto di atas diamini semua peserta rakor. Mengingat, penulis sendiri menyadari betapa sebagai orang Jawa kita merasa seakan terasing di tanahnya sendiri. Secara implisit telah nampak bahwa mayoritas masyarakat Jawa telah meninggalkan ?sikep? (cara berpikir dan bertindak) seperti andap asor, tepa selira, dan sederet laku kautaman lainnya. Hari ini, karakter dasar orang Jawa tersebut menjadi sebuah identitas yang langka.

Sedangkan secara eksplisit, pengguna bahasa Jawa juga semakin hari semakin menurun. Dari waktu ke waktu, intensitas penggunaan bahasa Jawa di lingkungan rumah tangga menunjukkan grafik yang memprihatinkan. Kata sapaan seperti ?Rama?, ?Ibu?, ?Mbakyu?, ?Kangmas?, ?Dhimas?, dll hari ini semakin jauh dari telinga kita.

Keluarga merupakan garda terdepan dalam penanaman nilai-nilai karakter kebudayaan Jawa. Apabila di lingkungan ini saja telah ?bermasalah?, bagaimana dengan lingkungan lembaga pendidikan dan lingkungan masyarakat secara umum?

Dalam diskusi yang dibumbui guyonan di sana-sini, terkuak fakta bahwa guru yang yang ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa mayoritas justru tidak memiliki kompetensi pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Bisa dibayangkan proses dan hasilnya? Fakta yang sulit diabaikan ini ditambah dengan eksistensi mata pelajaran bahasa Jawa sendiri yang hanya menjadi materi muatan lokal, dimana hanya memiliki kuantitas dan kualitas jam pelajaran yang relatif kecil. Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya media pembelajaran berbahasa Jawa sehingga guru yang memanggul amanat sebagai guru bahasa Jawa semakin tertatih dalam mengelola kegiatan pembelajaran.

Artinya, pendidikan bahasa Jawa di lingkungan lembaga pendidikan sendiri juga bisa dikategorikan ?bermasalah?.

Ke?bermasalah?an di atas semakin menemukan kompleksitasnya ketika bermuara pada kondisi di lingkungan masyarakat umum. Hempasan gelombang globalisasi tidak bisa menjadi sesuatu nir imbas. masuknya ikon hingga isme-isme produk mancanegara menjadi ancaman luar biasa bagi eksistensi karakter Jawa pada pribadi dilahir-belajarkan dalam lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan yang ?menjauhi? kebudayaan Jawa. Akibatnya bergulat-bergelut dalam aktifitas berkesenian dan berkebudayaan Jawa menjadi pilihan yang ?kurang menarik?. Hal ini tercermin dari kurangnya kuantitas dan kualitas kekaryaan kelompok-kelompok seni budaya Jawa, contohnya Ketoprak, Macapat, Wayang Orang, Ludruk, Pedalangan, dll.

Jika kondisi seperti hari ini terus terbiar, tereliminasinya karakter budaya Jawa dalam diri orang Jawa sendiri adalah keniscayaan.
***

Sederet ke?bermasalah?an di atas menjadi pijakan dalam menentukan draft rekomendasi yang kemudian akan dibawa wakil-wakil Jawa Timur dalam Kongres Bahasa Jawa V, Nopember nanti. Bagaimana merevitalisasi karakter budaya Jawa di lingkungan keluarga, di lingkungan lembaga pendidikan, dan terakhir di lingkungan masyarakat umum membuahkan beberapa poin mendasar. Di antaranya adalah (1) himbauan untuk menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar dalam komunikasi di lingkungan keluarga; (2) merekrut tenaga pengajar mata pelajaran Bahasa Jawa yang memiliki kesesuaian kompetensi; (3) menata ulang kurikulum pembelajaran sehingga lebih berpihak pada Bahasa Jawa; (4) menerbitkan media berbahasa Jawa untuk anak-anak usia kanak-kanak, dan remaja; (5) membuat portal informasi dan komunikasi bahasa Jawa; dan beberapa pon lain yang tidak bisa disebutkan semuanya.

Bagaimana nasib rekomendasi hasil rakor ini nanti? Bisakah benar-benar dapat disampaikan dan menjadi kajian serius dalam kongres nanti? Sebagai salah satu peserta rakor tersebut, penulis hanya bisa berdoa dan semoga juga diamini dengan kecintaan budaya Jawa yang setulus hati.
***

*) Litbang LBTI, Pegiat Sastra Jawa.