Aku Pertemuan di Pesisir Barat *

Penggalan Novel Sepasang Sayap di Punggungmu
Karya: Mangun Kuncoro

Waktu pun berputar begitu cepatnya membuat putaran-putaran ganda dalam kehidupan laksana kincir air yang disapu arus deras gelombang sungai. Fatan sudah jauh berjalan, entah dimana lagi Fatan menghentakkan kakinya, berjuta fenomena mewarnai perjalanan panjangnya, tapi sekali lagi, sejauh ini Fatan berjalan, dia belum menemukan apa-apa semakin jauh ia berjalan semakin ketidak mengertian mendera, selalu begitu tanda tanya besar selalu bersarang dalam benaknya membuatnya tenggelam dalam samudra ketidakmengertian. Continue reading “Aku Pertemuan di Pesisir Barat *”

Seorang Nenek di Ujung Dermaga *

Vyan Tashwirul Afkar

Untuk kesekian kalinya, aku melihat nenek itu di sana lagi. Di ujung dermaga, sore hari. Menatap penuh harap kepada lautan seolah-olah menanti sesuatu akan bangkit dari sana. Dari balik gulungan air laut, di antara celah-celah batuan karang, atau mungkin dari dalam lubang-lubang persembunyian keong dan hewan-hewan laut lainnya. Entah apa itu. Aku dan semua warga di sekitar dermaga lainnya tiada menahu. Yang kami tahu, adalah sebuah kewajiban bagi nenek itu untuk berada di ujung dermaga ketika senja merayap menaiki langit kampung kami. Continue reading “Seorang Nenek di Ujung Dermaga *”

Sedikit Gambaran Sastra Indonesia di Sumatera Barat

Tanggapan Terhadap Tulisan Darman Moenir dan Devy Kurnia Alamsyah

Sudarmoko *
harianhaluan.com

Sepanjang sejarahnya, Sumatera Barat menjadi bagian yang penting dari sedikit daerah di Indonesia yang dalam segi jumlah memberikan pengaruh penting dalam kesusastraan.

Hingga tahun 1977, kehidupan sastra Indonesia modern di Sumatera Barat dicatat dengan baik oleh Nigel Phillips dalam artikelnya di Indonesia and the Malay World (Vol. 5(12): 26-32),”Notes on Modern Literature in West Sumatera”. Continue reading “Sedikit Gambaran Sastra Indonesia di Sumatera Barat”

Babon Sejarah Nasional Indonesia Itu

Petrik Matanasi
http://www.kompasiana.com/maspet

Inilah buku Sejarah Nasional Indonesia penting tentang Indonesia. Tak terhitung orang yang membacanya.

Ditahun-tahun mengerikan di SMA, antara 2000-2001, saya pernah berdebat dengan guru SMA saya. Hanya soal, usia minimal seorang Seinendan. Guru saya bilang, 12 tahun. Saya berkeras 14 tahun. Kawan-kawan sekelas yang selalu anggap saya gila hanya melongo. Tentu saja saya menangkan debat itu, karena begitulah kata buku sejarah, bukan karena saya pintar tentunya. Continue reading “Babon Sejarah Nasional Indonesia Itu”

Bahasa ยป