POHON

Jasmine Lanuaba
http://www.balipost.co.id/

INILAH mungkin wujud sesungguhnya dari sebuah kesialan itu. Ketika Pandora membuka peti, seluruh kutukan yang paling mengerikan berlompatan, bergulingan, lalu melekat erat-erat di tubuh perempuan.

Seperti uap, kadang baunya menyengat dan memusingkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahkan membuat mual si pemilik tubuh.

Kutukan itu menempel erat, tak ada sepotong mahluk pun bisa mengupasnya. Semua itu harus di jalani seorang perempuan.Dengan tubuhnya yang indah dan bertaburan aroma sering mengundang keringat lelaki meleleh.

Perempuan juga harus punya cinda dan harus jatuh cinta!

Konon, tanpa rasa cinta seluruh mahluk di bumi ini tidak ada.Katanya cinta juga bisa membuat pralaya, grubug, kiamat!

Apakah pohon tumbuh juga karena cinta? Aku tumbuh karena cinta? Cinta dari siapa? Apakah aku memiliki orang-orang yang mencintai aku? Atau, punyakah aku cinta? Bolehkah kita hidup tanpa cinta? Bisakah kita tumbuh tanpa cinta? Besarkah kita? Hidupkah?

Lalu kenapa harus ada perceraian, perpisahan? Dimana cinta bersembunyi saat itu? Apa itu bagian dari cinta dengan wujudnya yang berbeda?

Aku tidak percaya cinta itu ada.Sejak adikku berkata: “Kita ini anak siapa? Kenapa orang yang mengaku orang tua kita sibuk dengan anak-anak mereka. Lalu pada siapa kita harus mengadu? Bermanja-manja.Minta tolong. Kita ini anak siapa? Apakah kelahiran kita diinginkan? Kenapa sejak kecil kita harus mencoba mengerti tentang mereka? Kapan mereka mau mendengarkan kita, memperlakukan kita sama seperti anak-anak baru mereka? Berpikir tentang kita? Kuatir sesuatu yang membahayakan mengancam kita? Punyakah mereka cinta,harapan dan cerita ketika membuat kita?”

Aku tidak bisa menjawabnya. Pemikiran itu justru tidak pernah ada diotakku sampai adikku berkata seperti itu. Iya, punyakah manusia-manusia yang membuat kami ada sepotong cinta? Mungkin secuil.Sampai buntu otakku, tidak ada jawabannya.

Tapi aku senang dengan pertanyaan adikku itu. Aku mulai mencari hakikat cinta yang membuat aku ada.Melalui sebuah pohon beringin besar yang tumbuh dikuburan.

Dia begitu ramah. Kokoh dan kuat. Setiap memandangnya kutemukan figur bapak. Sulur-sulur yang memenuhi tubuhnya sering kulihat seperti tangan lelaki yang ingin mendekapku. Kadang keteduhan daunnya yang hijau dan beraroma cinta seperti potret seorang ibu yang menimang anaknya.Menciumi tubuhnya yang lembab .Kutemukan kedamaian dan kasih sayang. Kutemukan wajah Bapak dan Ibuku yang hilang.

***

Aku mengagumi pohon beringin besar yang tumbuh dekat Pura Dalem di tikungan gang. Aku sering lewat di jalan itu menuju kantor.Kulewati jalan itu hampir lima tahunan. Tapi aku tidak pernah melihat pohon itu, sampai sebuah peristiwa menimpaku.

Aku hampir di tabrak dokar. Pohon itulah yang menolongku sehingga aku tidak masuk lubang besar. Tangannya yang kokoh merangkul tubuhku yang kurus. Aku pun berayun tidak jadi masuk got.Kami tertawa dan melempar senyum.

Aku selalu mengangumi pohon itu. Terlihat kekar, dengan urat-urat keras dan kaku. Bagiku, dia satu-satunya mahluk hidup yang paling menggairahkan dibanding mahluk hidup yang lain. Dia sangat seksi mengalahkan ratusan lelaki yang pernah kukenal dalam hidupku.

Kau tahu pohon beringin?

Kuceritakan padamu tentang aku dulu,sebelum kau mengenal pohon beringinku.

(saat ini kehadiran dia seperti seorang kekasih bagiku. Diam-diam, aku sering melumatnya di dalam otakku.Menggenggam bayangnya untuk menidurkan tubuhku).

Begini ceritanya, diamlah. Aku akan memulai cerita ini.

Aku seorang perempuan, tubuhku kurus. Tulang-tulangku terbuat dari lidi enau, terlalu kecil untuk kriteria seksi.Tapi aku menyukai bentuk tulangku yang kecil, terlihat lucu.

Rapi, dan cantik.Mirip susunan gamelan. Tubuhku juga tidak gampang menggelembung seperti balon.Sering juga aku terobsesi ingin gendut, kesannya seksi memiliki tubuh sintal.Kuambil pompa kumasukkan ke mulutku, aku ingin sekali melihat tubuhku gendut. Seperti apa tampangku kalau gendut? Seperti drum minyak tanah? Atau seperti ibu-ibu gendut yang kerjanya menonton tv sambil mengunyah camilan. Pipinya tumbuh seperti bakpao.

Jari-jariku tangkai bunga rumput.Rambutku buih ombak. Tubuhku belalang hijau yang sering menggerogoti dan membunuh daun-daun muda.Otakku ditumbuhi beratus jenis akar. Bukan urat kupikir, karena setiap akar dalam otakku, selalu memiliki cerita sendiri, satu dengan yang lain berbeda. Kau pasti tidak percaya. Kadang, akar-akar dalam otakku juga berbicara sendiri. Yang sering membuatku jengkel, akar dalam otakku sering memiliki keinginan sendiri. Sering sekali dia bertindak semaunya.

Sialnya, dia juga bisa memaksaku! Untuk melakukan suatu hal yang dia inginkan.

Kau bisa bayangkan akar-akar otakku? Dia itu mahluk paling egois, yang selalu meremas setiap impianku, dan menggelindingkan mimpinya sendiri untuk kuteguk. Main paksa!

Pernah aku datang ke praktek dokter terkenal. Kata orang-orang, dia adalah dokter terbaik di pulauku, tamatan sekolah terbaik di Jerman. Orangnya lucu, tampangnya tidak menunjukkan dia seorang intelektual (seperti teman-teman yang sering kutemui), dia terlihat seperti lelaki minder, tapi aku yakin otaknya pasti ditumbuhi akar.

Ketika dia melihatku, aku merasa langsung sembuh. Matanya saja mampu mengobati penyakitku.

Aku tak bicara, dia langsung memegang kepalaku.Dia benar-benar mengerti maksudku, aku direbahkan di kasur putih, sebuah alat yang kupikir mangkok, menyekap kepalaku. Sebuah sinar, mengupas tubuh dan tulangku. Juga otakku rasanya seperti dikelupas. Sinar itu juga hampir membunuh mataku.

“Sudah. Anda bisa duduk kembali.”

Dia hanya manggut-manggut, menulis sesuatu di kertas, lalu menyuruhku antre di apotek.

Aku tak pernah menebus obat yang diberikannya, karena matanya mampu membuatku lebih segar.

Bagiku itu sudah cukup.

Sejak bertemu dengan dokter itu, aku merasa lebih fit.Aku punya teman yang mengerti bahwa kepalaku tidak dipenuhi urat tapi akar!

***
10 Juli 2011 | BP