CIDOMO

Putu Nur Ayomi
http://www.balipost.co.id/

MALAM belum lagi beranjak subuh, dan lelaki itu belum juga sempat benar-benar terlelap, kudanya melenguh lagi, lenguh kesakitan yang membuatnya terjaga semalaman, kaki kuda itu patah tadi pagi, ketika salah satu rodanya terperosok ke selokan dan kaki kudanya yang tua tak sanggup menahan hentakan berat yang tiba-tiba. Lelaki itu membolak-balikkan badannya dengan geram dan marah, andai ia punya pistol ia akan mendatangi kuda itu dan langsung menembaknya, mengakhiri penderitaan mereka berdua. Ia mendengus, mengusir ide itu dari kepalanya. Tak tahan lagi, untuk kesekian kalinya ia keluar dari kamar, berusaha untuk tak membuat terlalu banyak suara ketika membuka pintu reot yang harus ditariknya kuat-kuat agar membuka, ia lalu berjingkat meninggalkan istrinya yang baru saja bisa terlelap.

Lelaki itu berjalan keluar menuju kandang kecil di sebelah rumah, udaranya dingin, tapi tubuhnya yang tak berbaju tak merasakannya, ia justru keringatan. Ia berjalan tergesa, tak sabar ingin menyepak kuda itu. Namun sesampainya di kandang kayu itu kemarahannya sirna. Masih dalam posisi tidurnya semula, kuda coklat betina itu mengangkat kepalanya memandang tuannya yang datang, sinar bulan yang terang dengan leluasa masuk dari sela antara atap dan dinding yang hanya terbuat dari bilah-bilah kayu, masing-masing berjarak 15 cm. Akhirnya lelaki hanya berjongkok di samping kudanya, mengusap kepalanya, membuat kuda itu sedikit tenang, kemudian ia memegang lembut paha kanan kuda itu, agak jauh dari lututnya yang patah berharap dapat mengurangi sakitnya, tapi ia malah meringkik kecil. Ia berjanji pada dirinya untuk memanggil dokter hewan pagi hari ini dan memberinya suntik mati.

Setelah ayahnya meninggal, yang ditinggalkannya adalah sepetak tanah dan rumah kecil di tengah kota dan sebuah cidomo, kereta dan kudanya. Sebagai anak seorang kusir cidomo, sedari kecil ia sudah dapat menunggang dan mengendalikan kuda, di jalan-jalan kampung, di lapangan kecil tempat ia dan temannya bermain layang-layang. Sejak ia dapat mengingat, setiap subuh ia akan pergi mengarit rumput untuk kuda, dulu bisa ia peroleh di mana-mana, kini ia harus berjalan jauh untuk mencari rumput, sawah yang dulu mengelilingi rumahnya sudah tak ada lagi. rumahnya kini telah dikepung perumahan. Lalu ia akan memandikan kudanya dan dirinya di sungai kecil dekat rumah, kini tampak sebagai selokan biasa saja. Ia masih memandikan kudanya di sana, kini kuda itu tak lagi mandi setiap hari, ia hanya memandikan kudanya di saat air selokan sedang melimpah, biasanya sehabis hujan dan airnya tak terlalu kotor.

Tak terasa dua puluh tahun telah lewat, Lelaki itu mulai menarik cidomo ketika berusia lima belas tahun, kuda itu terbilang kecil namun dalam ingatannya dulu kuda itu cukup gagah. Ketika muda, ia menikmati pekerjaan menjadi kusir, di pagi hari ia akan mengangkut ibu-ibu pedagang pedagang beserta dagangan mereka ke pasar, yang terkadang harus diikat di atas atap cidomo, kemudian ia akan nongkrong di pasar, bolak-balik mengangkut para pembeli, kemudian mengantar ibu pedagang langganannya pulang. Setelah itu ia akan menunggu penumpang di persimpangan dekat beberapa SMP yang biasanya dijadikan pangkalan cidomo. Di sore hari ia akan berkeliling dengan cidomonya mencari penumpang, atau bila disewa ia akan mengganti kereta cidomonya dengan gerobak dimana ia kemudian mengangkut bata, semen, hingga lemari. Dulu kendaraan tak sebanyak ini, naik cidomo jauh lebih mudah dan meyenangkan. Dahulu, si coklat ini adalah sahabatnya, kuda itu bergantung padanya demikian pula ia pada kuda itu. Si coklat telah bersamanya sejak dilahirkan. Induk si kuda menarik cidomo milik bapaknya, dan mati persis setelah tuannya meninggal. Pada saat yang bersamaan mereka menjadi yatim. Si coklat tidaklah sebesar kuda-kuda pacuan, ia lebih besar sedikit dari kuda poni, tapi ia pekerja keras dan penurut. Walau lelah ia akan menurut pada hentakan tali kendali, dan teriakan lelaki itu, lelaki itupun hanya memecutnya sesekali ketika ia sedang kesal. Beberapa kali ia mencoba mengawinkan si coklat dengan kuda pejantan milik teman-temannya tapi tampaknya kuda betina itu mandul.

Beberapa tahun ini lelaki itu berharap bisa berhenti menjadi kusir cidomo. Rumput kian susah didapatkan, kuda membutuhkan perawatan yang lebih, penumpangpun tak sebanyak dulu. Kuda itu hanyalah beban saja. Kini hanya ibu-ibu ke pasar saja yang memakai jasanya. Anak-anak sekolah sudah lama berhenti naik cidomo, mereka lebih memilih naik ojek, dan anak-anak SMP di tempatnya dulu mangkal kini rata-rata telah memiliki motor sendiri. Lelaki itu kian merasa terasing di tengah lalu lintas yang semakin padat dan cepat, terkadang ia merasa seperti siput, berderap pelan, ketinggalan, semuanya ngebut mendahuluinya. Sesungguhnya dengan modal kurang dari. 1 juta kini ia bisa membeli motornya sendiri, dan kemudian mencicil sisanya. Istri lelaki itu telah berkali-kali memintanya beralih menjadi tukang ojek. “Motor bisa lebih leluasa Bapak pakai untuk keperluan sehari-hari, pergi ke toko atau mengantar aku ke sekolah” kata anak perempuannya yang baru masuk SMP, ia tak membantahnya , ia sangat mengerti. Kuda dan kereta cidomonya dapat ia jual dengan harga tiga juta. Namun setengah hatinya merasa kasihan untuk melepaskan kuda tuanya itu, ia tentu akan merindukan derap kakinya di atas aspal panas, kibasan surainya, memandikan atau menyikat bulunya. Di saat-saat seperti itu, segala penderitaannya seakan- akan terserap oleh tubuh binatang kurus berkaki empat itu. Kuda itu terikat padanya demikian pula ia pada kuda itu.

Ketika azan subuh berkumandang, lelaki itu tak sanggup lagi menahan kantuknya, ia kembali ke kamarnya dan langsung pulas tertidur. Ia terbangun ketika matahari terik jam 11 siang membuatnya bangun oleh keringatnya. Sekejap ia merasa waktu berhenti berdetak oleh kesunyian yang aneh, hanya terdengar derik nyaring tengkeret dari pohon mangga di depan rumah. Di halaman ia menjumpai istrinya tengah menjemur sisa nasi di atas tampi. Kedua anaknya telah berangkat ke sekolah, si sulung pasti menumpang bemo tetangga lagi.

Lelaki itu berjalan pelan ke kandang, dadanya berdegub kencang, seakan-akan menanti sebuah keputusan penting. Ia menemukan si coklat masih terbaring dalam posisi yang sama ketika ia terakhir meninggalkannya. Tak ada suara, tak ada gerak, tubuh itu tampak ringan. Ada rasa ngilu dalam dadanya, ada juga rasa sesal yang melintas, kenapa ia tidak menjualnya sedari dulu, cidomo tanpa kuda hanya akan bernilai setengahnya. Ia tak berjongkok di sebelah kuda itu, ia hanya berdiri dan memandangnya. Seketika ia merasa lelah dan tua, lalu seperti telah dikagetkan ia mengambil pacul dan bergegas menggali lubang 2 x 1,5 m di depan kandang. Lalu sendirian ia menarik kudanya, ke dalam lubang, seakan-akan bergegas menghindari sesuatu yang akan datang.

Ia telah menguburkan seorang teman, tak apa-apa, semuanya akan biasa kembali. Hidup akan dipacunya sendiri.

Di malam hari lelaki itu bermimpi menjadi seekor kuda, ia dan kudanya berlari, berderap kencang di padang rumput yang luas.

Mataram, 5 November 2010

* cidomo: singkatan dari cikar, dokar, mobil, alat transportasi semacam dokar namun rodanya terbuat dari ban mobil.