Puisi-Puisi Heri Latief

Jakarta

kota lama eh stamboel tjatja
cahaya kota gemerlap berlian
laron pacaran di lampu jalanan

ibu kota sinetron politik uang
koruptor ngantre ambil nomor
penjara penuh penjahat berdasi

apalagi yang disandiwarakan nanti?
judulnya penyalahgunaan kekuasaan
diatur tangan tangan yang tak kelihatan

Amsterdam, 27/08/2011

Amsterdam

kota pelabuhan asal muasal kolonial
seperti puisi surrealis yang tragis?
kerajaan bukan sekedar lambang
konflik politik siapa yang menang?

kota misteri dilingkari jalan trem
berbecak dayung bermotor listrik
campuran budaya patatje oorlog
nasi goreng di lagunya wong indo

kota tua dan gedung gedung antiknya
eh ada angsa putih berenang di kanal
rumah kaca di daerah lampu merah
legitimasi sejarah budak masa lalunya

Amsterdam, 24/08/2011

Bling Bling MImpi

meraung sirene merobek keramaian
lukisan kota tua yang jauh di sana
kanal tempat orang buang sampah

saat hujan sekejap memberi ingat
dunia materi bukan jadi ukuran
bling bling di dunia miskin meratap

bayi bayi kering mati kelaparan
harga diri warga dunia yang sakit
obatnya dicari dalam mimpi mimpi

rakyat rajin ngapalin jajnji janji
harga sembako terbang ke langit
jika sekolah adalah ilmu yg mahal

awas! doa dendam orang kelaparan
jangan lupakan hari pembalasan
mari kita kemon nyadarkan napsu!

Amsterdam, 05/08/2011

Mata air Mata

adakah puisi surrealis yang bukan tragis?
tak ada yang tau apa maunya musim
jangan mau lagi terjebak mimpi sepi

menulislah sesuai apa kata hati
kata bersayap tak menunggu cerita
syairnya meleleh dari mata air mata

rindunya menulis sajak tanpa basa basi
siapa yang bisa membaca langit berawan?
dan badai emosi datang bersama hujan!

Amsterdam, 30/07/2011

Disihir puisi misteri hujan

tak ada yang tau kapan jadinya
sebaris sajak melupakan hujan
mungkin kau bermimpi lagi
dan siapa mampu merayu emosi?

di sihir puisi kata pemujaan
menghancurkan segala yang terbilang
membekas di hati terluka sayangku?
menunggu jawaban yang tak pernah selesai

mari kita menyontek dosa di kitab suci
cinta, siapa itu yang takut kehilangan?
mengganas badai tanpa setetes airmata

tarian mistik memuja sajak rembulan
jangan kau ragu merobek malam
dan jangan mau tersesat dalam diam!

amsterdam, 24/07/2011