Sepasang Pencari Ikan

Mahmud Jauhari Ali

Pria bertubuh ceking itu masih tertatih-tatih menggendong mayat adiknya. Ia baru saja merapat dari sungai kecil dengan sebuah perahu motor. Sudah satu jam ia meninggalkan kota. Ia diburu, jiwanya ditingkahi ketakutan teramat sangat. Hanya adiknya yang dapat ia bawa. Itu pun jasadnya saja. Kakinya berlumuran darah akibat sayatan belati di paha kiri dan telapak kaki kanannya. Tubuhnya kemudian roboh di tanah becek dekat pohon beringin yang berdiri tegak. Tak ada manusia lain yang tahu ia roboh. Diciumnya mayat adik kesayangannya yang baru berusia 15 tahun itu. Mayat wanita muda itu kini dipeluknya erat. Ia menangis, hatinya pedih, wajahnya seperti orang gila yang sedang meringis campur tawa.

?Jagalah adikmu, Zul. Sepeninggal ayah nanti, kaulah pemimpin rumah tangga ini. Ayah ingin pergi tenang menyusul ibumu di alam sana. Aku titip adikmu.?, kata-kata mendiang ayahnya tiba-tiba mengiang di telinganya saat itu. Hatinya remuk digilas perasaannya sendiri karena ia tak dapat menunaikan amanah ayah kandungnya sendiri.

Ditatapnya dalam-dalam wajah pucat perempuan itu. Wajah yang dulu pernah ceria dalam canda tawa bersama ayah, ibu, dan juga dirinya di rumah sederhana mereka. Masih jelas ingatannya dengan kebersamaan keluarganya dulu. Mereka bernaung di bawah satu atap dengan beragam keramaian hidup di dalamnya. Satu per satu keluaganya hilang dari sisinya. Mulai dari ibunya, ayahnya, dan lalu adiknya meniggalkan dunia fana ini. Kini wajah yang ia tatap itu membuatnya sangat terpukul. Ia menyesal, ia ingin menghabisi nyawanya sendiri, tapi ia tiba-tiba teringat dengan kata-kata lain dari seorang ayah yang telah tiada..

?Zul, pria tak boleh menangis, apalagi putus asa. Kehilangan seseorang itu wajar. Jika sampai saatnya, kita pun akan hilang dari sisi orang-orang yang kita kenal. Lihatlah jasad ibumu itu. Ayah kehilangan dia. Tak dapat lagi ayahmu ini bercengkram lagi dengannya. Dan, sebentar lagi jasad ibumu akan hilang dari pandangan kita. Ayah pun akan menghilang dari sisi orang-orang yang hadir di sini termasuk dirimu jika telah sampai waktunya kelak?

Pisau di tanganya segera terjatuh. Ia terpaku dengan tatapan kosong. Dibelai-belainya rambut adiknya yang telah kotor oleh darah. Ia ingin berdiri, tapi tak sanggup lagi mengangkat tubuhnya tegak seperti dulu. Ia lemah, ia lapar, batinya meronta-ronta.

***

Tak lama kemudian ia tertidur seperti orang mati. Matanya tertutup rapat dan mulutnya sedikit menganga. Dalam tidurnya ia betemu ibunya sedang menjemur pakaian di negeri asing. Ia tak kenal negeri itu.

?Zul, lama aku tak melihatmu. Kau sedikit kurusan sekarang.?, kata-kata lembut ibunya itu membuat Zul terharu. Dipeluknya erat-erat tubuh ibunya sambil menangis.

?Sudah-sudah, kau jangan seperti anak-anak yang gemar meneteskan air mata. Lihatlah dirimu, kau sudah dewasa. Jambang itu telah lebat menutupi sebagian wajahmu. Tak pantas seorang dewasa belaku layaknya anak-anak, Zul. Kau tak lagi mencuri uang orang lain ?kan? Perkelahian seperti ayam jantan juga sudah kautinggalkan ?kan? Dan ingat, jangan lagi kaudekati para pembunuh itu!? ibunya melanjutkan kata-katanya dengan suara lembut penuh kasih sayang.

?Tentu saja semuanya sudah kutinggalkan, Bu. Syukurlah Tuhan telah menyadarkanku Aku sudah berubah menjadi orang baik. Oh ya, mana ayah?. Aku juga rindu padanya.?

?Ayahmu sedang mencari lauk di laut. Tunggulah sebentar di sini, mungkin tak lama lagi kau akan bertemu ayahmu kembali.?

Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum manja. Ibunya lalu bercerita tentang akhlak manusia yang dibalas di negeri yang tak ia kenal ini. Dikisahkan ibunya nasib para pencuri uang orang banyak, pembunuh, penjilat, penipu dihukum dengan adil hingga mereka berteriak-teriak kesakitan. Sementara itu, ia menyimaknya dengan serius dan sesekali mengajukan pertanyaan kepada ibunya. Mereka terlihat sangat akrab.

Tiba-tiba ia terdiam.

?Bagaimana kabar Lena??

Ia bingung harus berkata apa pada ibunya. Tak mungkin ia mengatakan adiknya telah tewas di tangan pemerkosa sekaligus pembunuh di negerinya sana.

?Ada apa Zul?? ibunya mulai curiga dengan tingkahnya.

Kala itu ia sangat terpojok. Ia ingin mengeluarkan kata-kata maaf, tapi tak bisa. Ia terus memaksa suaranya keluar, tapi tetap tak dapat keluar. Dan, belum lagi ia menjawab pertanyan ibunya itu, matanya terbangun, didapatinya jasad adiknya masih utuh di hadapannya. Tidak ada orang lain di sana, kecuali dirinya yang sedang menemani jasad beku adiknya. Udara semakin dingin. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya disertai angin kencang. Ia menggigil, suhu tubuhnya naik. Kala itu ia sangat menyesal, mengapa ia tak pernah menuruti kata-kata ayah dan ibunya. Di dalam alam pikirnya, ia yakin andai saja ia menuruti kata-kata orang tuanya dulu, ia tak akan berada di sana malam itu. Ia tak akan kehilangan adiknya, dan seharusnya saat itu ia berada di rumah setelah seharian bekerja.

?Zul, apa kau tak bosan begini terus? Ayah dan ibumu ini ingin sekali kau bekerja dengan layak. Kau laki-laki, banyak tanggung jawab di pundakmu. Bukan hanya untuk dirimu sendiri dan keluargamu, tapi juga untuk nusa dan bangsa kita. Ayah dan ibumu tak ingin kau seperti ini terus, apalagi jika kau masih bergumul dengan pereman di sini. Zul, kau jangan berjudi lagi, berhentilah main perempuan dan berkelahi, hilangkanlah kecintaanmu pada mencuri uang orang lain, dan jangan lagi kau mabuk-mabukkan.?, kata-kata ayahnya setahun silam mengiang di telinganya kala itu. Sungguh ia sangat meyesal.

?Ayah, Ibu maafkan aku! Maafkan aku!, maafkan aku!?, Ia terus mengucapkannya dan terdengar ucapan lirih lainnya dari mulutnya. Setelah itu tak terdengar apa-apa lagi dari desah sedihnya, kecuali hembusan angin malam dan tetes-tetes air hujan yang masih tersisa.?

***

Tiga hari telah berlalu. Pohon beringin di sana masih berdiri kokoh. Burung-burung pagi berkicauan riang ditemani desir angin sejuk di antara daun-daun hijau dan rerumputan berembun. Hari-hari berlalu,.tanah di sana sedikti demi sedikit difungsikan para pendatang. Banyak pohon ditebang oleh mereka. Aktivitas begeliat lincah. Kebanyakan hutan di Indonesia memang bernasib seperti itu. Hutan di sana sedikit demi sedikit menghilang. Bangunan rumah beton sederhana milik para pendatang semakin banyak. Umumnya mereka bekerja sebagai peladang.

Dan, ketika seorang warga sedang melebarkan ladangnya, ia menemukan dua kerangka manusia di timbunan daun-daun dan tanah. Orang-orang ramai berdatangan dan mengira keduanya dulu adalah sepasang suami istri yang tersesat di hutan. Sampai hari ini mereka dinamai warga setempat sebagai sepasang pencari ikan. Ya, pencari ikan yang mati di samping sungai kecil bersama perahu kropos dan berlumut dekat kerangka tulang mereka. Beritanya pun menyeruak sampai di media lokal dan nasional. Tulang-tulang kerangka mereka dibawa ke kota untuk divisum. Diperkirakan para ahli, mereka telah meninggal dunia selama tiga puluh tahun silam.

Tulang-tulang kerangka mereka secara tidak disengaja manusia, ditanam di pemakaman umum tempat ayah dan ibu mereka dimakamkan.

***