Puisi-Puisi M. Badrus Alwi

Sajak Ibu 6

Sejak umur di sekitar pasar
nyenyak tidurku
aku ingin tetap di sana
tapi kasihan ibu yang rindu terlepasnya aku
dan beban

Sejak umur di atas dua tangan
melayang rasaku
aku ingin tetap
tapi kasihan ibu yang rindu umurku bertambah di bawah tangan

Sejak umur di atas KTP
bingung hadiriku
selalu, aku ingin cari
tapi kasihan ibu yang rindu baju-bajuku rapi.

Bibit Rindu pada mendung

Kulihat awan adalah kaca dan bayangku, di sebelah yang hitam.
tadinya biru, lalu hitam beku itu aku, mendung mengurung rindu.
di setiap tahunnya di setiap tepinya ada organisasi rindu yang eksis
aku di sana seperti air yang bergumpal, ingin tinggalkan batas penjara
kondensasi dan hindari evaporasi pemisah. Antara aku dan kau
adalah tempat terbang burung bercanda, bercinta yang menanam iri
di hening penjara.
Kau kuhayal tanah terasuki, terselimuti sebagai singgah sesaatku.
dan air itu aku, yang kau resap dan pelembap kulitmu sebagai penantian
langganan, yang dievaporasi ke tempat beda.
(aku di atas dan kau di bawah) hening kulihat langit.

dan aku heningkan kejadian tadi
kala turun hujan, kala kemarau hujan embun, kala aku hapus rindu jatuh
ke tubuhmu, memeluk, menyelinap sampai ke dasar jiwamu, kala aku dievaporasi
dan di penjara kondensasi, kembali merawat jamur rindu.

di setiap tahun berturut-turut, dan tak di globalisasi ini.

15 Februari 2011

Sumber: Jurnal Sastra dan Budaya “Jombangana,” Edisi III 2011 [Dewan Kesenian Jombang].