Puisi-Puisi Zamroni Allief Billah

Antara Berhalaberhala

Kau jumputi sisasisa jamuan semalam, saat hiruk pikuk pertemuan menyusur gulita dan gempita kemusykilan. Sekejap kemudian kau berlari ke tanah lapang dan berorasi sebelum sejurus lalu kau kumpulkan berhala mengelilingimu.

“Aku telah datang di perjamuan dan bertemu,” katamu meyakinkan dan segera menghardik sekawanan rusa yang tibatiba datang bertanya

“Bertemu dengan apakah wahai kepala berhala, semalam engkau di perjamuan?” kau sekejap melirik rusa lalu kau palingkan wajah dan lanjutkan ocehan
“Macam itulah contoh kekonyolan yang tak termaafkan! Jangan kalian macam rusa gila itu, terlalu banyak bertanya tentang sesuatu hal yang belum saatnya di buka” bersedekap engkau bicara, sesekali membenarkan letak surban yang kau pinjam dariku siang tadi “Untuk ceramah,” katamu.

Tak terjawab pertanyaan rusa, dan sekawanan binatang itu pergi meninggalkan jejak tajam yang kuyakin tak mampu kau baca sebagai tanda, sebab matamu tak pernah beralih dari berhala barumu yang baru saja kau buat dari gundukan tanah pekuburan.

“Wanita cantik ini lebih dari sekedar penghibur laraku,” ucapmu pada patung perempuan setengah telanjang itu. “Tetapi perempuan ini adalah bidadariku yang tak kan kubiarkan siapapun menyakitinya bahkan nyamuk sekalipun menadi musuhku bila….” belum selesai kau bicara, datang sekawanan burung gereja salah satu di antaranya yang berparuh rajawali bermata elang dan mengenakan gelang kaki serupa dirimu, hinggap di kepala patung perempuan itu dan berkata.

“Wahai engkau yang telah terpedaya warna, ketahuilah bahwa dirimu sedang menjadi seperti yang sebagaimana kau hayalkan, sebab kau tak hadir semalam maka manalah bisa kau ceritakan perjumpaan yang bahkan kaupun tak mengerti jalan mana yang mesti kau susuri saat hendak hadir di perjamuan. Asal kau tahu saja bahwa kau aungguh gila!.” Kulihat merah mukamu entah marah sebab aku ragu apakah kau masih punya malu. Lalu kau jumput batu dari dalam tas lusuh warna merah tua yang tak pernah lepas selalu kau bawa.

“Pyarrrr…..” sejenak kemudian berhala itu pecah saat kau hendak melempar burung gereja yang bertengger di kepala perempuan telanjang, berhalamu. Air matamu menetes namun tak sempat disaksikan sekawanan burung gereja yang sejenak tadi menyapamu.

“Bila tidak memiliki pemahaman tinggi beginilah jadinya,” kau tergugu antara berhalamu yang setia.

“Maka bila tak mengerti, bertanyalah dan cukup diam saja manakala engkau telah memahami sesunguh maksud yang selama ini baru kepada engkau saja aku bercerita. Sebab bila tidak, akan lebih banyak lagi korban berjatuhan.” Seperti harihari lalu lantas kau bercerita bahwa kau telah berjumpa.

Malam ini hujan, angin, petir dan kepedihan tak mampu lagi kau tahan mendapati diri yang hanya mampu berlari bersembunyi antara berhalaberhala yang tak henti kaucipta.

Rembang, 12 Februari 2011

Izinkan Kutemani Kau di Sepimu

Kulihat purnama lindap
saat kau diamdiam mengendap
mencariku di detak jantungmu

lebih dalam kutelah larut
bersenyawa dalam darah
di perawanmu yang mengalir

hangat berpagut di cengkerama
antara mantra dan doa
yang jamak dalam jimak

kau menari lagi
saat kugelar sajadah
di sudut bibirmu
merekah dalam hasrat

lalu tasbih kuputar
seirama degup dan debar

masih kau rogoh lagi mencari
di belahan dadamu
: membuncah

usah kau cari lagi
sebab di sepi pasti
kutemani kau dalam geliat dupa

Rembang, 02 November 2010

Jurnal Sastra dan Budaya “Jombangana,” Edisi III 2011 [Dewan Kesenian Jombang].