Sastra Kritik sastra

Idris Pasaribu
http://www.analisadaily.com/

SETALAH, HB Jassin meninggal dunia, tak ada lagi kritik sastra yang tepat di Indonesia. Sastra butuh dikritik, karena tanpa kritik pembaca awan susah dijembatai, kata Sakinah Annisa Mariz (20 thn) dalam paparannya pada Seminar Nasional yang bertajuk “Kritik Sastra Indonesia Mutakhir” di Universitas Negeri Medan.

Ada pula yang hadir mengatakan, tajuknya perlu mendapat perhatian. Kritik Sastra Idonesia Mutakhir atau Kritik Sastra Mutakhir Indoneisa. Terserah saja. Jerlasnya, seminar nasional yang menampilkan empat pembicara, Saut Situmorang dan Katerin Bandel, PhD, serta Yulhasni dosen Faklutas Sastra UMSU dan seorang mahasiswa Unimed Sakinah Annisa Mariz, mendapat sambutan yang sangat baik.

Ini terbukti dari apa yang disampaikan oleh Pembantu Dekan II FBS Unimed Dr. Azhar Umar, MPd., yang mengatakan kebahagiaan Unimed mendapat kesempatan bekerjasama dengan KSI Medan. KSI telah membawa dua orang sekaligus ilmuan sastra ke Unimed yang perlu langsung disambut dengan baik. Azhar Umar berjanji, jika KSI membawa ilmuan seperti ini ke Unimed dimasa mendatang, cukup sampaikan saja melalui telepon atau SMS, pasti akan kami sambut, tambahnya.

Menurut Azhar Umar, Unimed berupaya tidak terlalu birokrasi, terlebih dalam kegiatan seperti ini yang bisa menambah ilmu baik para mahasiswa maupun para dosen. Apa yang dikatakan oleh PD II FBS Unimed Dr. Azhar Umar, M.Pd., sangat benar. Jika seseorang datang mengantarkan sesuatu yang berharga ke rumah kita untuk anak-anak kita, kenapa kita sebagai orang tua tidak menyambutnya. Bukan malah sebaliknya, kita mempersulit dengan hal-hal yang birokratis. Sebagai orangtua, selayaknya kita mengucapkan terima kasih kepada mereka yang mau datang ke rumah kita mengantar sesuatu yang penting untuk anak-anak kita.

Hal ini dikatakan oleh PD II, setelah Ketua KSI Medan mengatakan, selama ini KSI bekerja sama dengan USU, karena di Fakultas Sastra USU, selalu memberikan sambutan hangat kepada KSI. USU mempersiapkan segalanya di USU, baik itu diskusi formal, maupun non-formal serta seminar atau diskusi panel.

Dalam omong-omong dengan PD III FBS Unimed, Dr. Daulat Saragih, M. Hum mengatakan, Fakultas Sastra sangat membutuhkan orang-orang dari luar kampus untuk memberikan banyak masukan kepada mahasiswa kami. Sementara kami kesulitan mendatangkannya. Kalau Fakultas Sastra USU secara periodik mengundang para praktisi sastra dari KSI untuk memberikan kuliah di USU, kami juga akan memikirkan hal itu, kata Daulat Saragih.

Kritik Sastra Indonesia Mutakhir yang digelar di FBS Unimed kelihatan demikian hangat. Ketika Saut mengatakan belum lahir kritik sastra di Indonesia, langsung dipertyanyakan oleh Mahasiswa FKIP Universitas Asahan yang mana mereka datang sebanyak 35 orang dengan memakai jacket kuning warna kebesarannya. Lantas kata mereka, apa yang kami pelajari di FKIP? Kebetulan kami pada semester ini sedang belajar kritik sastra. Kalau kritik sastra itu belum l;ahir, kami ini bagaimana?

Saut pun menceritakan kalau HB Jassin itu adalah produk Balai Pustaka bersama A Teeuw, kemudian menurut Saut karya sastra mana sebenarnya dikritik oleh Jassin secara tuntas? Jassin lebih banyak memberikan resensi dan apresiasi sastra. Kalau mau jujur kata Saut, kapan sebenarnya Jassin mengkritik Chairil Anwar secara benar? Jassin hanya memuji-muji saja mengangkat Chairil Anwar setinggi langit, juga tanpa juntrungan.

Yulhasni mengatakan, setuju dengan Sakinmah Annisa Mariz, kalau kritik sastra itu sangat perlu. Bagaimana kaum awam mau membeli karya sastra, kalau mereka tidak mengerti. Hanya saja kata Yulhasni, selama ini kita masih memakai teori-teori barat sebagai acuan kita. Dengan gaya khasnya Yulhasni mengatakan, kenapa harus teori barat yang kita jadikan acuan untuk kritik sastra Indonesia. Budaya kita beda dan kenapa kita harus memakai kacamata mereka untuk melihat diri kita sendiri.

Yulhasni memang tidak mau terlibat sedikit pun atas perseteruan dipermukaan antara Komunitas Utan Kayu dengan Boemi Poetra yang di dalam buletin Boemi Putra itu banyak orang-orang KSI. Yulhasni sependapat, sastra harus dikritik dan kritik sastra itu harus ada. Hanya saja Yulhasni tidak sepenuhnya sependapat, kalau kita masih terus memakai teori barat untuk mengeritik sastra Indonesia.

Sambutan dari para dosen FBS Unimed dan dosen dari universitas lain sebagai peserta juga para mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Medan sangat terhadap apa yang dipaparkan oleh Sakinah Annisa Mariz yang masih duduk di semester IV. Apa yang dipaparkan oleh Sakinah memang benar diakui oleh para mahasiswa yang jauh di atasnya, tidak mereka peroleh di kampus.

Salah seorang dosen mengatakan, Sakinah banyak memperoleh ilmu dari luar kampus dan itu sangat kami hargai, karena seharusnyalah mahasiswa seperti itu, kata salah seorang dosen FBS Unimed. Di depan kelas, Sakinah juga selalu mampu memberikan banyak hal kepada para mahasiswa seangkatannya dan di atasnya. Banyak dosen tak mengira, kalau KSI sebagai kelompok praktisi, juga mendiskusikan hal-hal yang ilmiah. Untuk itu ketua KSI mengatakan sastra dan bahasa itu adalah ilmu yang harus dipelajari dengan tekun baik secara teori maupun secara praktek. Kesimpulan global dari seminar itu, kritik sastra sangat perlu dan karya sastra memang harus mendapat kritik yang benar secara ilmiah. Selain itu, pembaca adalah kritikus sastra yang paling depan.

20 Jun 2011