Sastra Serius, Riwayatmu Kini?

Ulfa Zaini
http://www.analisadaily.com/

Sastra serius, sedikit sulit mendiskripsikannya, tapi mungkin bisa disimpulkan, sastra serius adalah sastra yang menggunakan bahasa dengan estetika tertentu. Tidak bersifat komersil dan sangat dalam membahas sisi kehidupan. Karena sastra serius tidak bersifat komersial, sehingga tidak terlalu memperdulikan selera pasar. Hal ini tentu menjadikan sastra serius minim peminat baik pembaca maupun penulisnya.

Berbeda dengan sastra populer yang bersifat komersial. Kehadiran sastra populer ditandai pada tahun 70-an yang dikenal dengan munculnya novel “Karmila” yang mengangkat tema ringan dan menggunakan dialog yang cenderung easy dan sangat akrab di telinga umum hingga menjadikannya laris manis.

Yudiono K.S dalam bukunya “Pengantar Sejarah Sastra” menyebutkan, sastra populer adalah sastra yang di luar lingkungan majalah Horison, Sastra, Pusat Bahasa, fakultas sastra dan Dewan Kesenian Jakarta yang mengisyaratkan lingkungan “serius” atau resmi untuk kegiatan sastra yang berupa penciptaan (prosa, puisi, drama, kritik dan esei), penelitian dan pengembangan sastra. Karya-karya sastra yang muncul diharian-harian luar itu, seperti harian-harian yang muncul di daerah adalah sastra populer.

Bambang Soebondo (Sinar harapan) berpendapat, Koran diterbitkan untuk laku dijual, sehingga rubriknya harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar pembaca(Yudiono K.S: Pengantar sejarah Sastra Indonesia).

Dari deskripsi di atas, jelaslah karya sastra populer adalah karya sastra yang harus diminati pembaca secara umum dan tidak menggunakan bahasa yang berat-berat. Hal ini menyebabkan sastra populer memiliki kedudukan yang lebih rendah dibanding sastra serius karena bertema dangkal dan kebanyakan mengangkat cerita-cerita roman yang picisan.

Meskipun sebenarnya dalam sastra serius banyak juga yang mengangkat tema-tema cinta, namun hal itu hanya serupa selingan saja seperti bumbu penyedap. Misalnya kita kenal dengan karangan Buya HAMKA dalam buku “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” yang di dalamnya terdapat kisah cinta antara Zainuddin dan Hayati. Biarpun demikian, tidak melulu bercerita tentang lika-liku kisah cinta, Zainuddin dan Hayati di sana hanya sebagai wadah untuk menujukan bagaimana adat dan budaya yang terkandung di bumi kelahiran HAMKA tersebut. Jelaslah yang ingin ditunjukkan HAMKA di sana adalah pertentangan adat antara kaum tua dan muda.

Berbeda halnya dengan sastra populer, di sini kita mungkin mengangkat contoh novel “Dea Lova” yang bercerita penuh tentang kisah cinta antara Dira, Kara, dan Ibel. Cerita yang diangkat full of cinta ala remaja yang kesannya tak pernah susah. Penggunaann bahasa yang begitu ringan dan sangat diminati membuat novel teenlit pertama Indonesia ini laris manis di pasaran. Mulai dari situ bermunculanlah novel-novel teenlit yang jelas merupakan sastra populer.

Keberadaan novel DeaLova dapat segera digantikan oleh novel-novel teenlit lainnya yang sesungguhnya memberikan warna serupa. Masih mencitrakan kehidupan remaja yang gak pernah susah.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya sastra populer begitu cepat habis masanya berganti dengan karya-karya lainnya. Seperti halnya gaya bahasa populer yang gak ada matinya. Kini muncul pula gaya bahasa Alay yang tentu turut menjamur pula dalam novel-novel populer. Setelah Alay entah apalagi selanjutnya? Biarpun demikian tetap tidak menyurutkan minat seseorang untuk menciptakan karya sastra yang berjenis populer tersebut. Walau demikian memang tak selamanya sastra popular itu buruk, hanya saja iming-iming pasar yang cenderung menggelapkan mata membuat banyak penulis menghasilkan karya yang membutakan mata pembacanya dari sisi kehidupan yang real.

Berbeda dengan sastra serius yang mampu melintasi zaman dan sangat melekat di hati pembacanya. Melihat hal itu seharusnya sastra serius lebih diminati sebab sifatnya lebih abadi. Tidak mencuri minat seseorang untuk beralih menjadi penulis-penulis karya sastra yang lebih serius. Agaknya iming-iming komersialisasi tetap yang utama.

Hal ini tetap mengkhawatirkan, sebab jika kita bicara tentang sastra serius dan tokoh-tokohnya otomatis yang bisa kita sebutkan adalah para pengarang yang melegenda dengan karya-karya angkatan-angkatan terdahulu.

Lantas akankah membuat orang bertanya-tamnya bagaimanakah karya sastra serius itu sesungguhnya yang dijadikan contoh karya-karya angkatan terdahulu? Apakah orang yang ingin membuat karya sastra serius harus cenderung mengikut-ikut gaya bahasa yang terkesan jadul (jaman dahulu) dan bersayap tersebut?

Meskipun banyak juga yang mengatakan bahwa hal terpenting adalah berkarya, jangan terlalu perduli apakah itu sastra serius ataupun populer. Tetap saja hal ini perlahan akan menggerus keberadaan sastra serius. Sebab orang lebih memilih sastra yang sifatnya komersial. Kelak jika kita ditanya tentang sastra serius apakah kita akan menyebutkan karya-karya sastra milik para legendaris dan itu-itu saja?

Sketsa Kontan, Mei 2011