BOM MANUSIA BERSUARA TETES EMBUN

Wawan Eko Yulianto
http://sastrapenyadaran.multiply.com/

Bahan-bahan pokok: 1 orang lelaki/suami/pemuda yang baru menikah 1 orang istri yang sedang hamil muda Bahan-bahan bumbu: 1 momen khusus yang mewajibkan seseorang jalan-jalan mengunjungi teman (disarankan Idul Fitri) 1 unit sepeda motor Jalanan kota di Indonesia (yang terlihat mulus padahal bergelombang dan banyak bekas galian) Bahan-bahan pemoles dan pemanggangan: 1 orang dokter spesialis obstetri ginekologi (disarankan lokal dan menguasai bahasa lokal) 1 unit alat ultrasonografi (USG).

Cara pembuatan bumbu: Persiapkan suatu momen khusus. Yang dimaksud momen khusus adalah momen berbeda dengan hari biasa dan membuat Anda harus sering-sering keluar rumah.

Pada kasus saya, saya menggunakan momen Lebaran yang mewajibkan saya keluar mengunjungi rumah saudara-saudara, guru-guru atau teman-teman dekat. Karena harus sering keluar pada jarak yang tak terlalu jauh, saya memilih memakai sepeda, yang merupakan bahan bumbu kedua.

Selanjutnya sertakan dua diantara bahan pokok ke dalam ramuan bumbu. Kedua bahan pokok itu adalah 1 orang suami yang baru menikah dan 1 orang istri yang sedang hamil muda. Pada kasus saya, saya mengajak istri saya yang hamil muda keluar pada momen khusus itu untuk mengunjungi orang-orang yang saya hormati di seputar kota M, tempat saya tinggal.

Karena jarak antara satu target kunjungan dengan target kunjungan yang lain berdekatan, maka saya menggunakan sepeda motor. Saat itulah dua bahan pokok bercampur dengan bahan bumbu yang ketiga, yaitu jalanan kota M. Barulah pada saat itu saya sadar ternyata jalan kota M sebenarnya tidaklah semulus yang saya kira sebelumnya.

Pada beberapa bagian terdapat gelombang. Mengendarai sepeda motor jadi seperti mengarungi perairan pantai dengan sampan. Pada beberapa bagian, ada lobang-lobang yang belum sempat ditambal oleh dinas prasarana umum.

Pada beberapa bagian lain, ada bekas-bekas galian—entah telpon, PDAM, atau kabel listrik—yang sudah ditambal tapi tidak sebagus aslinya dan tetap bergelombang saat dilewati. Pada saat itulah bumbu mulai merasuk ke dalam bahan pokok. Hal ini ditandai dengan kekhawatiran suami atau istri bahwa jalanan yang tak mulus itu bakal mempengaruhi kesehatan janin.

Gejala awal merasuknya bumbu ditandai dengan istri yang khawatir dan agak marah-marah saat sedang dalam perjalanan. Pada kasus saya, istri memegangi perutnya dengan kuat seakan-akan jabang bayi yang baru mulai terbentuk itu sudah bergoyang-goyang dan terkena dampak dari jalanan tersebut.

Takut terjadi sesuatu yang berbahaya saya pun memperlambat laju sepeda. Jika biasanya pada lalu lintas kota M yang tak terlalu padat saya bisa menarik gas hingga kecepatan 50-60 km/jam, kini saya hanya berani mengedarai kendaraan dengan kecepatan 20-30 km/jam. Sementara itu, bumbu juga sudah mulai merasuki diri saya.

Ketika bumbu sudah benar-benar merasuk, akan muncul beberapa tanda: tidur malam tidak nyenyak, berbagai mimpi buruk menyeruak, suami tak pernah bisa tertawa lepas, kunjungan bahkan menjadi tak rileks dan menyegarkan. Seluruh pikiran suami—dan lebih-lebih istri—tercurahkan pada apakah jabang bayi yang ada di dalam perut istri senantiasa dalam keadaan sehat.

Jika sudah begini, berarti bumbu sudah merasuk dengan kuat ke dalam bahan-bahan dan tinggal dilakukan penyelesaian akhir, yaitu memanggang. Cara memanggang bahan-bahan pokok yang sudah di-bumbui: Pertemukanlah bahan-bahan yang sudah dibumbui itu dengan bahan pokok lainnya di dalam oven toaster.

Oven toaster untuk ini adalah tempat praktek dokter kandungan atau rumah sakit bersalin. Jika tidak ada oven toaster seperti disebutkan diatas, silakan menggunakan open tradisional, yaitu bidan atau Posyandu.

Pada kasus saya, saya memilih oven toaster yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kami memilih tempat praktek dokter spesialis obstetri ginekologi (SpOG) yang lumayan terkemuka di kota M, yaitu Dr. S, SpOG. Daftarkan diri Anda sebelum memasuki oven toaster untuk memberikan identitas suami dan istri.

Suami yang sudah terasuki bumbu ikut masuk ke dalam oven toaster yang sudah berisi 1 unit alat USG di dalamnya. Dokter akan menemui langsung dan menanyakan beberapa pertanyaan khusus tentang 1) anak keberapa 2) kapan menstruasi terakhir, 3) apa keluhan semasa hamil, dsb.

Dokter akan segera memberikan perkiraan kapan kira-kira bayi akan lahir. Pada kasus saya, dokter segera bisa memperkirakan bahwa bayi kira-kira akan lahir pada tanggal 2 Juni berdasarkan tanggal (rahasia!) yang diberikan istri saya tentang menstruasi terakhirnya.

Dokter kemudian akan memeriksa istri yang hamil muda dengan menggunakan bahan pokok terakhir yaitu alat USG. Pada kasus saya dokter memeriksa istri saya di atas kursi periksa dan mengoleskan semacam gel yang mempermudah jalannya alat ­scanner USG. Sebentar kemudian, akan muncul gambar-gambar di monitor USG, gambar isi rahim istri yang hamil.

Pada kasus saya, saya kurang bisa melogika gambar yang saya lihat. Tapi dokter yang sudah puluhan tahun berpraktek itu tahu sekali apa yang dia lihat dan lakukan. Dokter segera memberi penegasan berdasarkan ukuran jabang bayi, bahwa kandungan sudah berusia dua bulan lebih. Dokter segera menguraikan bahwa titik tertentu adalah jantung si jabang bayi, bakal kaki, bakal tangan dan sebagainya.

Dan kemudian dokter akan memberikan kesimpulan dari apa yang dia lihat. Disarankan agar dokter yang bersangkutan adalah orang lokal yang mengerti bahasa gaul lokal sehingga dampak dari kesimpulan dokter akan sangat terasa. Pada kasus saya, kesimpulan dokter disampaikan begini: “Bayinya tahes!” Dalam bahasa gaul kota M, tahes berarti “sehat”.

Begitulah pada akhirnya meledak sebuah bom yang bersuara menyejukkan seperti tetes embun, setelah bahan pokok diresapi bumbu dengan sempurna, setelah kerisauan suami dan istri selama dua hari, setelah malam-malam tak bisa tidur.

Bom yang menyejukkan itu keluar dari mulut dua bahan pokok, suami muda dan istri yang hamil muda.
Bom itu meledak dengan suara yang nyaris bersamaan: “Alhamdulillah!”

Aug 5, ’09
*) Penulis juga dikenal sebagai penerjemah buku, karya-karya terjemahannya antara lain Dubliners (James Joyce), sekarang sedang meneruskan studinya S2 di Amerika Serikat