Kenangan dalam Bus

Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/

AKU merantau, seolah semuanya telah menjadi lampau. Tapi tidak. Semuanya baru dimulai ketika ingatanku terasa bangkit kembali di sepanjang jalan yang kulalui. Telah aku seberangi selat dan kulewati kota-kota, dalam sebuah bus tua yang berderak sepanjang jalan, sepanjang siang dan malam. Meskipun dioper bus tiga kali, tetap bus tua juga yang akhirnya membawa diriku dari kota ke kota.

Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, hari pertama aku menginjakkan kaki di luar pulau dan hari pertama aku “resmi” menjadi perantau. Perantau pemula. Hingga bertahun-tahun kemudian, ketika sesekali kurindui kampung-halaman, kenangan itu datang bagai dihantar bus tua yang menerobos begitu saja dinding-dinding ingatanku yang rawan.

Ya, tiap kali mengingat bus yang melaju, kenanganku berebut tumbuh. Pohon-pohon yang berlarian bagai kemunculan tangan-tangan yang pernah hilang dalam lambai, walaupun kusadari hanya sesaat. Tak pernah menemani ke mana aku pergi, karena satu per satu mesti tertinggal sepanjang perjalanan— di posisinya semula berdiri.

Seperti deretan Bukit Barisan yang semula seperti hendak memintas kepergianku, tapi perlahan tertutup kabut dan senja, akhirnya lenyap saat bus memasuki perbatasan. Meluncur lebih deras di jalan lintas Sumatera. Lalu berganti pohon-pohon karet yang tegar berderet sepanjang daratan Jambi, kemudian hilang berganti hamparan lahan transmigran selepas Lahat menjelang Lampung. Ah, semua menanti, semua dilewati, begitu fana!

Aku mendesah, ingin menumpahkan keluh-kesah, tapi entah pada siapa. Ya, pada siapakah aku harus berbagi, melepas beban yang mengimpit hati? Seorang perempuan setengah baya ada di sampingku, mukanya bulat dan rambutnya tersanggul besar. Bukankah ini Mak Gaek, orang yang paling tepat kuajak berbagi?

Ya, ya, Mak Gaek, orang yang paling mengerti dan selalu membantuku dalam kesulitan. Aku ingat ketika sekolah mengadakan kemah persahabatan ke Kamang, Bukittinggi, orang tuaku tidak bisa memberi biaya berangkat. Seperti biasa, aku datangi Mak Gaek, dan hari itu juga perempuan itu memanggil tukang beruk untuk memetik kelapa di kebun, dan sekadar iuran keberangkatan cukuplah. Begitulah Mak Gaek, selalu tanggap pada kesulitanku, kadang melebihi orang tuaku sendiri. Karenanya, pada Mak Gaeklah aku selalu datang untuk setiap urusan yang kusadari tak bisa teratasi di rumah. Maklum, adik-adikku juga butuh biaya ini-itu di sekolah, dan sebagai anak tertua aku sering mengalah.

Bahkan, ketika aku mengabarkan akan pergi, meninggalkan kampung dan memutuskan diri untuk pergi merantau, kusaksikan Mak Gaek tertegun. Perlahan ia gapai pundakku, dan berkata berat, “Untuk apa wa’ang ikut merantau? Tetaplah di kampung, wa’ang tak akan mati kelaparan.”

Kau mungkin menduga, betapa cengengnya perempuan itu! Sebagai seorang tua ia pasti sudah tahu bahwa usia laki-laki Minang selalu berujung pada perantauan, dan akhirnya nanti kepulangan. Setinggi-tinggi terbang bangau, kata orang. Tapi tidak bagi perempuan itu. Dua anaknya sudah ia relakan pergi, ia lepas secara baik-baik sebagai perantau, tapi sampai kini tak pernah kembali.

“Dan kini wa’ang akan pergi, Kudal? Murad pergi, Ruben pergi…Dan ayek sekarang sakit…”

Sulit menjelaskan mengapa aku akhirnya juga mesti pergi. Kalau hanya buat hidup makan-minum, tanah tempat aku dilahirkan memang masihlah setia menumbuhkan tunas yang ditugal, memancarkan air di tiap pancuran. Tapi lihatlah, mata orang-orang memancarkan api, jika masih tetap bertahan di kampung tanpa kegiatan yang jelas. Dan lagi pula, hidupku tidak akan berada dalam tempurung kampung buat selama-lamanya…

Maka segeralah aku bergegas menuruni jenjang rumah Mak Gaek. Perempuan itu menarik ujung kebaya lusuhnya dan mencelupkan ke matanya yang sebak. Pula ditimpali batuk-batuk nenek yang terbaring sakit di dalam rumah. Ingin rasanya aku berbalik, tapi tidak. Hanya dari jarak jauh aku menatap Mak Gaek.

“Lho, kenapa, Den?”

Astaga, masih saja aku merasa Mak Gaek duduk di sampingku!

“Oh, maaf, Mbok, saya hanya ingin minta balsem,” cepat aku berdalih.

“Monggo, pakai saja,” perempuan yang duduk di sebelahku itu menyerahkan balsem. Aku menerimanya dan mulai berpura-pura menggosok tengkuk. Kuedar pandangan ke luar jendela bus yang melaju. Tiba-tiba semua terasa beku. Pohon-pohon, tiang listrik, tambak udang dan rumah-rumah pantai utara. Aku merasa terdampar ke negeri asing. Meskipun lewat sekeping papan nama di tepi jalan aku bisa membaca—Cirebon—tetap saja udara asin bergaram membuatku canggung.

Susah-payah kualihkan kembali pandangan ke dalam bus, kepada perempuan setengah baya itu. Sungguh, aku tidak bisa berpaling!

***

SESUNGGUHNYA, perempuan setengah baya yang duduk di sampingku waktu itu, juga tampak gelisah. Entah apa yang dipikirkannya. Sekali waktu, saat aku mencuri pandang padanya, perempuan bersanggul besar itu tampak sedang mengusap pipinya yang mulai keriput. Ingin aku bertanya, lebih dari sekadar berbasa-basi meminta balsem. Tapi tak berani pula. Terlebih sejak pertama kali kulihat perempuan itu persis Mak Gaek. Dan kadang, untuk menghibur hati di perjalanan, aku betul-betul mengandaikan perempuan itu sebagai Mak Gaekku. Tak lebih tak kurang. Lumayan membuatku sedikit tenang, sebab perempuan yang menyayangiku toh ikut bersamaku di bus yang melaju…

Tapi, siapa sebenarnya perempuan ini? Aku mulai bertanya-tanya sendiri. Di mana tadi ia naik? Seingatku, kami sudah bersama sejak dari Lampung, ketika aku dioper ke bus lain di Terminal Rajabasa. Memang masih bus dari jawatan yang sama. Dan ketika di Jakarta aku dioper ke bus DAMRI lainnya, entah kebetulan atau tidak, perempuan itu juga dioper dan tetap duduk sebangku dengan diriku. Ke manakah perempuan ini menuju? Kenapa hanya sendiri? Ke mana suami, anak atau ponakannya? Padahal perjalanannya cukup jauh. Sungguh, aku ingin tahu, tapi tetap tidak berani untuk sekadar bertanya dari mana hendak ke mana kepada perempuan itu.

Bus akhirnya berhenti di sebuah rumah makan di luar kota Cirebon. Para penumpang turun, mengaso dan makan. Sopir bus yang berkeringat tampak makan lebih awal, tanpa menunggu kernetnya yang memeriksa ban dan melap kaca depan. Aku ingin makan, tapi sebenarnya belum terlalu lapar. Perjalanan telah cukup mengenyangkan mataku, dan kini aku ingin berdamai dengan perut supaya bisa sedikit berhemat di perjalanan.

Aku pesan saja mi gelas di sebuah kedai kecil di samping rumah makan. Kedai itu merangkap sebagai wartel. Di wartel itulah, dari balik kacanya yang buram, aku saksikan perempuan yang sebangku denganku itu tengah menelepon. Dan meskipun suaranya tak terdengar karena kaca kedap suara, tapi wajahnya tampak menahan tangis. Sampai akhirnya ia tampak benar-benar menangis. Siapakah yang ia telepon? Apakah yang dibicarakannya? Aku tak tahu, tapi sangat ingin tahu. Tapi bagaimana mulai bertanya padanya?

Di bus yang kembali melaju, perempuan itu masih tertunduk menyembunyikan matanya yang sembab. Saat itulah aku beranikan diri bertanya, “Ada apa, Mbok? Maaf, siapa tahu ada yang bisa saya bantu?”

Perempuan itu agak terkejut, tapi ia sembunyikan ekspresinya. Ia hanya menatap lama, dan tanpa diduga akhirnya sesungukan kembali.

“Kenapa, Mbok?” ulangku.

“Tidak apa-apa, Nak. Maafkan Si Mbok, wajah anak persis anak saya…”

“Anak, Mbok?”

“Ya. Jika ia saya jumpai, pasti sudah sebesar anak ini.”

“Di mana dia sekarang, Mbok?”

“Ia pergi ke Sumantrah. Waktu itu ia baru tamat SMA. Katanya ada pekerjaan di Jambi. Hampir empat tahun ia pergi. Tak pernah pulang. Akhirnya Mbok beranikan diri mencari alamatnya, di kebun karet Muarobungo. Tapi kebun karet tempat ia dulu bekerja sudah berganti kelapa sawit dan orang di sana tak ada yang mengenalnya. Tidak mengenal anak saya. Oalah, Nak, Nak…Akhirnya, ya, saya harus kembali pulang ke Semarang…”

Aku memicingkan mata. Pedih.

“Anak mau ke mana?” perempuan itu beralih tanya.

“Ke Denpasar, Mbok.”

“Melancong atau kerja?”

“Merantau,” gugup aku mengucapkan kata itu. Terdengar abstrak sebenarnya. Perempuan itu diam, mengerti kegugupanku.

“Tadi barusan Si Mbok telepon keluarga di Semarang, bahwa mencari Nurdiyanto memanglah sia-sia,” perempuan itu mencoba mengalihkan pembicaraan meskipun berat baginya.

Ingin aku berkata balik, bahwa wajah bulatnya sesungguhnya juga persis wajah Mak Gaekku. Tapi tidak kulakukan. Biarlah dalam hati saja aku menganggap demikian. Untuk perempuan itu, aku cukup berkata, “Kalau begitu, anggaplah saya anaknya Si Mbok yang belum pulang, walau sebatas perjalanan. Lain kali anak Mbok yang sebenarnya pasti pulang.”

Perempuan itu mengusap matanya. Senyumnya sedikit mengambang. “Terima kasih, Nak,” katanya. Kurasakan tangannya seperti ingin mengusap kepalaku, membayangkan anaknya lanang. Namun tertahan oleh rasa risih serta tatapan penumpang lain. Akhirnya, sepanjang jalan kami hanya saling pandang dengan menganggap bahwa kami adalah ibu-anak yang seperjalanan. Kami bisa bernapas lega dan lumayan mengurangi impitan beban di dada.

Ah, rantau, ternyata tidak selalu berujung pada kepulangan, aku menarik nafas panjang. Kurebahkan kepala di bangku bus yang berguncang. Aku ingat anak-anak Mak Gaekku di kampung, bertahun-tahun tak pernah terdengar kabarnya. Dan seperti anak Si Mbok yang malang ini juga, hampir empat tahun tiada kabar berita. Lalu, bagaimanakah diriku nanti, yang sekarang masih terombang-ambing di jalanan menuju rantauku pula? Ah, entahlah, entahlah…

Masih terus aku digedor pertanyaan tentang rantau, dan berkali-kali kutolak. Sia-sia. Maka jika pertanyaan dan gedoran itu tak tertahankan, aku akan melirik Mak Gaekku yang kini hadir di sampingku.

“Jadi, hampir empat tahun Nurdiyanto pergi…Hmm, sebenarnya untuk ukuran merantau belum terlalu lama, Mbok, hanya saja tanpa kabar berita,” aku buka lagi pembicaraan, pelan-pelan. Bermaksud menghibur.

“Itulah soalnya. Kini ayahnya sakit, selalu menanyakan dia, kami harus bilang apa, coba? Saudara-saudaranya pada angkat tangan, seperti menganggap biasa kepergian Nurdiyanto. Padahal bagi Si Mbok ini kepergian tak biasa.”

Aku pun ingat nenekku yang sakit di rumah gadang. Ingat ayah-ibu yang sebentar lagi juga akan merasa kehilanganku. Ingat saudara dan orang sekampung, pastilah bersikap masa bodoh atas kepergianku. Sebab, di kampungku, merantau adalah upacara biasa yang tidak akan menggugah siapa pun untuk mencari jika anak negerinya tak lagi kembali. Sialan! Aku merutuk dalam hati, merutuki tradisi kampungku sendiri yang seperti lazim membuang para penghuninya ke rantau orang. Dan sungguh tidak adil, jika ada yang berhasil, maka si perantau harus membantu kampung, tanpa kampung sendiri pernah membantu di masa-masa sulit hidup di rantau. Tak adil! Tanpa sadar, kukepalkan tanganku dan nyaris kupukulkan ke bangku bus yang berdebu. Ah, perantau pemula!

“Kenapa, Den?” kini perempuan itu balik bertanya.

Dan aku bergumam antara sedih dan malu, “Tidak apa-apa, Mbok. Anu, nenekku juga sedang sakit waktu aku memutuskan pergi…”

“O, ia pasti akan menanyakanmu, Nak.”

Aku mengangguk. Menahan linangan air mata. Kini, perempuan setengah baya di sampingku ini tak hendak menahan diri. Perlahan dibekapnya bahuku, digenggamnya bagai memegang bahu anaknya sendiri. Kami bertatapan sedih. Dan terasa benar bahwa kami adalah ibu dan anak seperjalanan.

Namun, ketika bus akhirnya berhenti di Semarang, dan perempuan itu mesti pamit berdiri, saat itulah aku merasa tak bakal memiliki dirinya selamanya. Tanpa bertukar alamat, perempuan itu turun, sedang aku melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau lagi di timur Tanah Air. Kami masih sempat saling melambaikan tangan di balik kaca bus yang retak, berdebu. Dan saat perempuan itu hilang dari pandangan, saat itulah aku tak lagi memiliki siapa-siapa.

Hanya deru bus. Klakson dan teriakan kernet. Lagu-lagu yang tak menghibur. Semuanya justru jadi pertanda bahwa aku sedang menuju ke negeri entah.

***

BERTAHUN-TAHUN kemudian, perasaan nelangsa, kehilangan dan sedih, selalu membayangiku tiap kali teringat kenangan dalam bus tua itu. Kenangan yang tak pernah mati, selalu hidup kembali tiap kali aku menyadari bahwa sudah lama aku tak pulang. Tak pernah pulang. Entah jika Lebaran tahun ini. Entah.

Catatan kosa kata Minang: Mak Gaek: bibi, dalam hal ini kakak perempuan ayah. Ayek: nenek. Tukang beruk: pawang beruk (sejenis monyet) terlatih mengambil kelapa.
Wa’ang: Kau, engkau, untuk laki-laki.