Sanca Colmar

Tova Zen
http://www.lampungpost.com/

KENANGANKU membayang saat aku duduk di bangku dipan yang reot dan beradu denting dengan keroncongan perutku ini. Lapar terus saja memilin lambung untuk segera diasupi makanan. Nasi basi yang kemarin ibu hidangkan telah kering menjadi rengginang, ampiyang, dan cengkaruk. Kurobek ingatanku saat menginjak air mata ibu di subuh hari.

Kemarin subuh aku digebuk sulur rotan. Ibuku menangis. Mataku menyalak merah. Kuinjak-injak air mata ibuku. Itu kemarin, dan sekarang aku menyesal dalam lapar.

“Ibu, aku ingin mengusap derai air matamu,” bisikku lirih sambil meremas-remas dada kiriku. Rasanya jantungku sakit. Rasa sakit yang terus saja meremas jantungku dalam debar kedurhakaan. Sakit kurasakan karena aku telah menginjak air mata ibu. Bagaimana mungkin aku menghapus air mata ibu? Saat tanganku mencoba menggapai runtuhnya ceruk air mata dalam rinai tangis, justru sambaran rotan menampar pedas tangan dan punggungku hingga merah lalu menghitam.

“Bu, sudah, Bu. Ampun Bu. Aku hanya memasak daging untuk lauk Ibu….”

“Daging apa yang kau masak, Jenitri? Kenapa ada buntut ular di pawon?”

“Ular sanca lurik kembang di depan rumah, Bu.”

Mata ibu tiba-tiba mendelik kejut. Nanar. Bergurat urat merah. Marah! Aku hanya gemetar di sudut pandang ibu yang terpojok. Ibu lunglai dalam deru alam bawah sadar. Pingsan.

Sekarang aku masih mengenang kubangan memori masa kecilku. Kubangan pahit rasa hidup miskin dan takhayul aneh tentang ular kesayangan ibuku itu. Lihat saja tingkah ibu yang kian hari kian terajut nostalgia bersama ular sanca yang bergelayut di dahan pohon beringin belakang gubuk rumah.

Bukan aku tak sayang pada binatang. Bukan! Bukan pula aku jijik terhadap hewan melata itu. Aku hanya pilu saat ibu bercerita bahwa ular itu adalah ular dari Colmar, kota tempat ayahku dilahirkan.

Aku benci cangkang daging yang menutupi tubuhku. Jelas sekali aku terlahir dari percampuran ras yang berbeda. Rambutku merah madu, tidak sehitam gerai rambut ibu. Mataku cokelat muda, tidak segelap iris mata ibu. Aku terkucil. Aku tersudut. Kawan-kawanku mengejek bahwa aku anak penjajah. Londo wedok.

Pernah aku menangis menggerung-gerung di bawah pohon beringin tua itu. Macam belati yang menusuk hati, saat aku diseret dalam sebuah interogasi.

“Hey!! Londo wedok! Pergilah sana dari buminya orang pribumi. Nista, aku melihat anak penjajah seperti kau.”

Salah apa aku? Kenapa aku harus pergi? Lantas aku harus pergi ke mana dalam perang yang petang pun masih berkecamuk. Sebuah agresi militer brutal telah meluluhlantahkan tanah Jawa. Begitu pula hatiku yang diluluhlantahkan oleh prasangka. Barulah aku tahu, aku adalah titisan serdadu sekutu yang pernah mengawini ibu.

Aku lari ke pelosok terpencil dari kejaran orang-orang kampung. Hidupku kian menyiksa. Lapar acap meremas lambung. Sekarung beras yang ibu bawa dalam pelarian kami kini harus dimasak berkali-kali dengan sangat irit. Aku hanya memakan beberapa suap nasi tanpa seonggok lauk pun. Tubuhku jadi kurus kerontang hanya dalam hitungan bulan. Miris sekali, bahkan nasi basi bisa menjadi santap untuk esok hari.

Ibuku sakit. Ceruk matanya membiru lebam karena letihnya hidup di gubuk belantara dalam pengasingan. Jelas ibu kurang gizi dan nutrisi. Kabur dari pengasingan berarti masuk dalam perang. Agresi Militer Belanda, aku kenang peristiwa itu dalam koyak derita hidupku. Tercerai dari kaum yang bukan penjajah dan bukan pula titisan pribumi asli. Aku hidup dalam tubuh berwadak percampuran ras. Tidak cokelat dan juga tidak merah jambu dalam susunan kulit epidermisku. Siapa yang bisa mengerti isi kelamnya hatiku?

Oh! Ular. Bukan maksudku untuk berani memotong-motong tubuh panjangmu agar ibu bisa berlaukkan daging saat makan. Sungguh lezat tubuhmu saat itu. Rasa gurihmu lebih dari sekadar kaviar di atas omlet yang di suguhkan bersama Chateau Mouton Rothschild.

Tak bisa aku mengerti saat ibu sadari telah aku bakar ular sanca lurik kembang menjadi lauk bersama nasi basi. Jangan salahkan aku yang telah membunuh sanca itu. Aku hanya ingin ibu sehat. Selebihnya apa peduliku dengan hewan melata itu.

Kuremas kembali kenanganku sambil menyusuri jalanan pedestrian taman-taman khas Prancis untuk kembali terbang dan hanyut bersama ibu saat aku bunuh ular sanca itu. Musim panas di sini kadang tak bersahabat. Langit begitu pucat. Rinai hujan yang turun menambah muram. Semuram rasa hatiku yang mengenag ibu dan sanca lurik kembang itu. Di Kota Colmar ini warna-warni langit kian tak terpudarkan.

Kutarik napas dalam sambil menatap bangunan bersejarah Maison des Tates yang dibangun awal abad ke-17. Gereja-gereja tua Kota Colmar juga menambah syahdu rindunya kenangan terhadap ibu.

“Ular itu adalah pemberian ayahmu, Nak. Dulu saat ibu bertemu dengan ayahmu di hilir sungai, ayahmu menolong ibu dari belitan ular sanca. Ayahmu tembakkan pelor yang melubangi kepala ular itu hingga terkapar mati. Ayahmu lalu menangis di saat aku berterima kasih atas pertolongannya dengan tutur bahasaku yang tak mungkin ia mengerti karena ia adalah serdadu sekutu.”

“Lalu kenapa ayah menangis, Bu?” tanyaku ringan sambil mengusap rinai air mata ibu yang bergelimangan di pipinya. Ibu mengecup pipi gembil merah jambuku, sambil mengelus pundakku yang memar akibat sabetan sulur rotan.

“Ayahmu menyesal, Nak.”

“Kenapa ayah mesti menyesal menolong ibu?”

“Ayahmu menyesal telah membunuh ular sanca itu. Aku melihatnya gemetar saat memegang senapan dan memuntahkan pelornya. Ayahmu memang sedadu sekutu, Nak. Tapi ia bukan tentara yang bengis menembak musuh. Ayahmu hanya seorang dokter kapal yang sedikit sekali kepahamannya tentang perang. Apalah kiasan itu semua, toh ayahmu tetaplah dipersenjatai layaknya serdadu.”

“Kenapa Ibu harus marah saat aku bakar ular itu untuk lauk Ibu yang sedang sakit? Kenapa, Bu? Kenapa Ibu pukul aku dengan rotan.”

Ibuku tak menjawab. Ia hanya menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan jemarinya. Aku ikut menangis sambil memeluk tubuh ibuku yang kurus dan cekung. Tubuhku diapitnya, kepalaku menyeruduk di cekungan dada ibu yang kering.

“Ular yang kau bakar itu adalah ular yang ayahmu bawa dari Colmar. Ya, kota di Eropa sana, Nak. Ibu tak tahu apa itu Eropa. Ibu tahu bahwa ayahmu menyelamatkan anak ular dari induk sanca yang ia bunuh saat menolong ibu. Ayahmu mengatakan pada ibu akan berangkat ke Colmar untuk melawan Nazi di Strasbourg sambil membawa ular itu. Dalam kurun setahun ayahmu kembali lagi menemui ibu, katanya Colmar dikuasi tentara Nazi. Kau tahu, ibu sedang mengandungmu saat ayahmu kembali pada ibu. Tapi ayahmu justru tewas saat bertempur melawan tentara sipit dari Nippon. Hanya ular itu yang ibu rawat sebagai kenangan terhadap ayahmu.”

Suara ibu kian lemah. Akhirnya tenaga ibu habis dan ia terdiam kembali sambil memelukku lemah. Ibu mencoba untuk berbicara tapi silir napasnya kian berat kurasakan hembusannya. Ibu memeluk tubuhku dengan lemah, dan matanya menutup untuk selama-lamanya.

Aduh ibu! Kenapa ibu tinggalkan aku. Bagaimana aku harus menganyam rajutan hidupku tanpamu. Aku hanya menangis menggerung-gerung sambil menggoyangkan tubuh mati ibuku supaya kembali hidup. Apa yang bisa kupahami dari rasa sedih yang mendalam ini? Air mataku terus membanjir keluar. Penyesalanku yang telah membunuh ular sanca terus mencabik-cabik rasa batinku. Kalau saja aku tak membunuh sanca itu untuk lauk ibu, mungkin ibu tak mati karena shock. Perihnya hatiku kini lebih perih melebihi sabetan rotan ibu. Aku benar-benar dirundung kabung. Sementara perang di luar sana terus membumbung.

Aku pergi dari belantara pengasingan dengan terseok-seok setelah mengubur jasad ibu. Bunyi desing mortir masih terus membahana di udara. Aku hanya butuh penyatuan. Aku hanya butuh belas kasih. Dan aku akan pergi ke kota ayahku di lahirkan, Colmar.

Aku memang gadis cilik yang terasing dari gilasan perseteruan dalam perang antarmanusia, yang tak bisa aku pahami dalam otak masa kecilku. Aku akan berlayar menuju Colmar bersama para warga Belanda. Memohon dengan belas kasih untuk ikut bersama mereka yang juga terusir dari negeri yang kini telah merdeka.

Hanya pola pikir yang luas mampu memiliki gaya yang mahal. Selebihnya tak. Memang benar aku punya pola pikir yang mahal dalam segala hal, baik gaya hidup maupun prinsip hidup. Akan tetapi tubuhku selalu kotor.

Namaku sekarang bukan Jenitri, tapi Sanca Colmar yang menggeliat-geliat di sudut kota sambil menikmati Bellini.

Lihatlah ibu, dulu kau adalah seorang istri simpanan yang selalu mengenang suamimu. Ayahku. Sekarang aku istri dunia malam yang menembangkan nyanyian kasih di dalam klub malam. Menggeliat bagai sanca dalam mengais anyaman hidup, sendiri tanpamu.

Aku akan menikah. Pasti. Tentu saja dengan pria penyuka ular sebagai tanda sesal jejak silamku saat membunuh sanca itu. Sekarang biarlah aku menggeliat sebagai Sanca Colmar. Aku rindu ibu. Tahukah ibu, kota ini menghasilkan banyak selai buah, keju serta anggur. Seandainya ibu hidup bersamaku, ibu akan menyecap makanan itu di kota kelahiran ayah ini. Ibu yang tenang di sana, jangan tanya pekerjaanku di sini. Jika ibu tahu, ibu pasti akan menangis dalam rinai hujan dan menggebukku dengan sabetan kilat petir.

Catatan:

Colmar: Kota kecil di Prancis sebagai penghasil anggur yang terletak 20 km dari perbatan Jerman-Prancis.

Rengginang, ampiyang, dan cengkaruk: Makanan dari nasi yang telah di keringkan kemudian digoreng, rasanya cukup renyah dari bulir-bulir nasi.

Pawon: Tungku tempat memasak dari bata/batu yang berbahan api dari kayu bakar.

Londo Wedok: Sempalan istilah orang pribumi Jawa yang menyebut perempuan keturunan Belanda/Eropa.

Strasborg: Kota di Jerman yang pernah dilalui tentara Nazi dalam menguasai Prancis dengan menuduki kota Colmar

Kaviar: Nama aslinya Khavyar berasal dari bahasa Turki, dan muncul pertama kali di Inggris tahun 1591. Disebut juga caviar, setelah orang Persia menyebutnya khag-avar yang berarti penghasil telur. Jadi, Kaviar punya artian sebagai makanan dari telur-telur ikan yang di hasilkan dari berbagai jenis ikan. Ikan penghasil telur ini disebut Sturgeon.

Chateau Mouthon Rothschild: Sejenis Wine yang dihasilkan dari tempat bernama sama yang terletak 50 km barat laut Bordeaux, Perancis.

Nippon: Bala tentara Jepang di masa Perang Dunia II

Hanya pola pikir yang luas mampu memiliki gaya yang mahal: Kutipan Stendhal, penulis Perancis (1783-1842).

Bellini: Racikan minuman Absolute Orange, Peach Liquer dan sparkling wine.