Media dan Jurnalisme Warga

Selvi Diana Meilinda
http://www.lampungpost.com/

Baru-baru ini saya langsung didatangi pimpinan cabang sebuah bank BUMN ternama di Indonesia beserta pihak terkait lainnya. Mereka datang untuk mengucapkan permohonan maaf sekaligur terima kasih atas reportase pelayanannya yang saya tulis di blog Kompasiana. Reportase itu sama sekali tidak saya rencanakan, hanya kebetulan kejadian berlangsung dan saya ada di tempat kejadian. Dengan menggunakan alat seadanya yakni kamera ponsel saya mendokumentasikan kejadian di tempat tersebut, lalu saya membaginya dalam bentuk tulisan di blog pada hari itu juga. Tak disangka tak dinyana, reportase saya itu dibaca lebih dari tujuh ribuan pembaca dalam waktu cepat dan mendapat respons secara resmi dari pihak yang saya tulis serta membuka diri terhadap komentar publik atas reportase yang saya tuliskan tersebut. Apa yang saya lakukan ini biasa dikenal dengan jurnalisme warga.

Jurnalisme warga atau citizen journalism muncul karena inisiasi aktif dari warga masyarakat. Konsep ini memberikan ruang bagi masyarakat siapapun untuk membagi cerita, kritik, pengalaman, dan lainnya untuk disiarkan dalam media massa. Terlebih lagi semakin luasnya jaringan internet ke seluruh penjuru dunia, peralatan dan kecanggihan ponsel yang mempermudah dan mempercepat koneksi seseorang dengan internet di manapun dan kapanpun ia berada kian hari kian variatif. Arus komunikasi dan informasi pun menjadi tak berjarak dan berjeda lagi. sehingga jurnalisme warga bergerak dan berakselerasi dengan percepatan luar biasa. Semua orang telah bebas mewartakan apa yang dialaminya, disukainya, dibencinya maupun diinginkannya kepada publik.

Di Indonesia, jurnalisme warga ini justru berawal dari stasiun radio Elshinta sejak tahun 2000 yang memberikan kesempatan kepada para pendengarnya untuk mengirimkan berita melalui sms ataupun telepon langsung dan disiarkan secara langsung pula. Tanpa bayaran apa pun, dengan semangat aling membantu dan tak ingin ada orang lain yang celaka, membuat orang berlomba-lomba memberikan informasi yang ada di sekitarnya, contohnya jalanan macet, pohon tumbang, cuaca ekstrim, dan info kecelakaan, hingga kini Elshinta punya 100 ribu lebih reporter warga.

Awalnya media lain seperti stasiun TV, media cetak, website di Indonesia terlihat masih enggan untuk mengadopsi jurnalisme warga dalam praktek jurnalisme mereka karena takut kehilangan kredibilitas, reputasi, dan problem etika jurnalistik. Akan tetapi dipicu sekitar tahun 2004 seorang korban tsunami Aceh yang meliput sendiri tragedi yang menimpanya lalu disiarkan oleh televisi swasta nasional terbukti berita tersebut mengalahkan berita yang dibuat oleh jurnalis professional. Atau prestasi lainnya baru-baru ini, terlepas dari kontroversinya, seorang bloger dan jurnalis warga Iwan pilliang berhasil mewawancarai seorang Nazaruddin tersangka kasus korupsi paling di cari saat itu.

Tentu saja tak semua masyarakat penggiat jurnalisme warga ini mempunyai keahlian dan latar belakang jurnalistik yang mumpuni layaknya jurnalis professional atau wartawan pada umumnya. Kenyataannya terkadang jurnalis warga tidak bisa memenuhi kaidah dalam penginformasian berita yang baik dan benar sesuai dengan teknik dank ode etik reportase berita. Akan tetapi, jurnalisme warga ini memberikan sumbangan positif bagi media ketika kenyataannya seorang wartawan tidak selamanya selalu hadir atau kemungkinan datang terlambat dalam sebuah peristiwa.

Sebagai seorang yang selalu mempraktikkan jurnalisme warga ini dalam sebuah blog, ada beberapa hal yang perlu saya garis bawahi terkait baik buruknya dengan semua kontroversinya. Pertama, jurnalisme warga ini memang terbukti efektif untuk melaporkan dan menyiarkan pengaduan terkait layanan publik tertentu. Terbukti, sehari setelah laporan di blog saya tentang layanan salah satu bank BUMN, responsivitas langsung mereka tunjukkan. Mungkin berbeda ceritanya jika kita buat pengaduan secara internal, tak secepat itu respons yang mereka berikan karena tak ada tekanan perhatian khalayak di sana.

Kedua, menjadi jurnalis warga tidak ada yang memberikan garansi kemanan dan kenyamanan bagi kita. Ketika kita melaporkan sebuah reportase terkait peristiwa, lembaga atau orang tertentu, siap-siap kita menuai hal buruk jika lembaga atau pihak-pihak tertentu merasa terusik dengan reportase tersebut. mulai dari teror via ponsel kita hingga ancaman lewat jalur hukum. Sebagai jurnalis warga, masalah seperti ini harus diselesaikan dan dirasakan sendiri, karena memang independen tanpa lembaga pers yang menaungi dan tak ada pula kartu pers yang dimiliki.

Ketiga, jurnalisme warga memang rentan sekali ditunggangi oleh kepentingan tertentu, manipulasi data dan fakta untuk memfitnah atau pencitraan suatu lembaga atau perorangan secara berlebihan. Oleh karena itu, verifikasi berita menjadi hak mutlak para pembaca dan penikmat berita.

Pada akhirnya, tidak bisa dimungkiri bahwa akhir-akhir ini jurnalis warga terlihat semakin sering melaporkan berita dari sumber yang sebelumnya tidak terjangkau oleh wartawan profesional. Semakin media mengakomodasi publik tentunya semakin termotivasi publik untuk menyisihkan waktu untuk mengirimkan berita. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat yang memiliki keahlian tertentu akan mempertahankan reputasinya dengan mengecek dan memverifikasi berita yang mereka buat seperti yang dilakukan wartawan profesional. Dalam situasi demikian, media tidak akan kehilangan kredibilitas malahan menaikkan citranya sebagai media publik. Kuncinya adalah menemukan warga yang memiliki keahlian tertentu untuk menjadi jurnalis warga bagi media.

*) Bloger Lampung, Mahasiswa Pascasarjana Manajemen dan Kebijakan Publik UGM

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/