Sepotong Senja untuk Pacarku

Seno Gumira Ajidarma
Cerpen Pilihan Kompas 1993

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Continue reading “Sepotong Senja untuk Pacarku”

Derabat

Budi Darma

Di desa saya ada seorang pemburu bernama Matropik. Sebenarnya dia bukan penduduk asli. Dia pendatang entah dari mana, dan dia masuk karena di tempat-tempat lain dia sudah tidak mungkin berburu, dan semua sudah mati di tangan dia

Sekarang, di desa saya, dia sudah mulai gelisah. Segala macam binatang sudah hampir punah. Dan kami, penduduk asli, dalam hati mengharap ia agar dia segera enyah. Continue reading “Derabat”

Mbah Danu

Nugroho Notosusanto

Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Continue reading “Mbah Danu”

MEMBACA LOGIKA, MEMBANGUN “ALUSI”

Kata Penutup Kumpulan Puisi “ALUSI” Karya Pringadi AS
Khrisna Pabichara
http://dusunkata.blogspot.com/

I
“TIDAK mudah menjadi penyair!” Demikian, suatu ketika, tutur seorang penyuka sajak, Damhuri Muhammad, pada sebuah diskusi ringan seputar fenomena bermunculannya “penyair-penyair” di dunia maya. Bagi Damhuri, jika untuk mendapatkan lisensi “penasehat hukum” seorang lawyer harus menguasai banyak hal perihal dakwa-mendakwa atau tuntut-menuntut, seorang penyair pun wajib menapak jalan atau tangga kepenyairan. Continue reading “MEMBACA LOGIKA, MEMBANGUN “ALUSI””

Bahasa »