Setelah Membaca “Alusi” Pingadi AS

Syaiful Bahri
http://kampung-puisi.blogspot.com/

Catatan pra: sebenarnya saya agak terlambat mendapatkan Alusi. Dulu saya pernah berjanji memesan buku ini pada penulisnya Pringadi AS. Tapi saya ini termasuk orang yang gaptek jadi saya selalu ragu memesan buku lewat jalur transfer.. Saya lebih suka dan sreg membeli buku di toko buku. Uang yang saya tabung di Bank pun tidak pernah saya ambil, karena memang tidak bisa dan selalu gugup masuk ke ATM. Tapi akhirnya saya dapat juga di gramedia royal plaza surabaya. Continue reading “Setelah Membaca “Alusi” Pingadi AS”

Koran Mbah Karna

Salamet Wahedi *
(majalah gong, edisi 114/X/2009)

Mbah Karna. Usianya, berdasar ukuran rata-rata usia hidup manusia sekarang, sudah memasuki senja legam. Sorot matanya seperti matahari sepenggal di kaki langit. Dan garis-garis kulitnya meliuk-lingkar seperti arakan awan di bibir malam. “Hati-hatilah. Hidup ini tetaplah kotak teka-teki. Jika kau benar menjawab pertanyaan Mendatar, belum tentu di pertanyaan menurun kau akan selamat”, pesannya pada setiap orang yang sowan padanya. Pesan ini pulalah yang mengingatkan dan menarik banyak orang untuk selalu mengunjunginya. Terutama di akhir bualn atau di saat ada moment penting. Continue reading “Koran Mbah Karna”

Sebuah Cerita : Flashback

Dody Kristianto *

Bila dalam proses kreatifnya Afrizal Malna menyatakan bila ia seorang yang negatif, maka saya akan mencoba untuk positif. Tentu saya berpositif terhadap tulisan yang saat ini sedang berada di hadapan para pembaca sekalian. Positif dalam arti saya tak ingin berumit-rumit dan beraneh-aneh dalam tulisan ini. Artinya saya mencoba untuk berbincang gamblang dan membuka perihal mengenai proses yang saya alami. Meski saya tahu, jika gamblang dalam kacamata saya belum tentu bagi para pembaca. Continue reading “Sebuah Cerita : Flashback”

Memenjarakan Khayalan dan Pikiran

Oyos Saroso H.N.
Lampung Post, 12 Maret 2007

Pemenjaraan pikiran terjadi di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia. Orang-orang yang berpikiran berbeda dengan penguasa dan dianggap melanggar tatanan negara diadili, dipenjarakan atau dilenyapkan begitu saja dari muka bumi.

Masalahnya ialah kalau tatanan negara itu dibuat berdasarkan daulat raja, bukan daulat rakyat. Yang banyak menjadi korban sudah pasti rakyat biasa. Continue reading “Memenjarakan Khayalan dan Pikiran”

Bahasa ยป