Setelah Membaca “Alusi” Pingadi AS

Syaiful Bahri
http://kampung-puisi.blogspot.com/

Catatan pra: sebenarnya saya agak terlambat mendapatkan Alusi. Dulu saya pernah berjanji memesan buku ini pada penulisnya Pringadi AS. Tapi saya ini termasuk orang yang gaptek jadi saya selalu ragu memesan buku lewat jalur transfer.. Saya lebih suka dan sreg membeli buku di toko buku. Uang yang saya tabung di Bank pun tidak pernah saya ambil, karena memang tidak bisa dan selalu gugup masuk ke ATM. Tapi akhirnya saya dapat juga di gramedia royal plaza surabaya.

Sekedar info jangan anggap ini esai, ya? Cuma kesan-kesan aja atau cara saya menikmati puisi-puisi Pingadi AS.
***

Saya diajari oleh buku dan guru bahasa indonesia saya bahwa latar belakang penulis bisa dijadikan instrument untuk masuk dalam sebuah karya sastra. Seperti yang tertulis di biografi di bagian belakang buku ini, Pingadi AS lahir di palembang. Tahun 2005 diterima di ITB sebelum akhirnya terkeluarkan secara tidak resmi, dan kini sedang menempuh pendidikan D3 di STAN Bintaro.

Hmm, makanya sebagian besar puisi-puisinya penuh dengan angka-angka. Unik Tapi susah diselami. Bisa dikatakan puisi-puisinya dibuat dengan sistem tetutup. Tertutup? Maksudnya begini secara analogi bila ada orang bemain catur, kata makan yang diucapkannya bukan makan dalam arti yang seperti biasa. Tapi makan dalam konteks catur. Kita tak akan tahu maksud orang itu bila kita tak tahu dia sedang bermain catur. Begitulah sebagian besar puisi-puisi dalam buku ini dibuat Seperti yang terlihat di:

SETELAH bertahun ia hidup, ia baru sadar
Tak ada i di namanya sendiri. Ia tanya orang
Tuanya yang sudah pikun, dan nekad pergi
Ke dukun biar tahu kenapa tak ada i
Di namanya sendiri?


( Euler )

i disitu bukan berarti huruf i tapi berarti lambang dari kalkulus. Hal yang sama dapat juga ditemui di puisi-puisi dengan judul Preto, Valhalla, SPINTER, Magnitudo, Roronoa dll. Kita bau bisa menikmatinya bila kita tahu apa (atau Siapa) Euler, Preto, Valhalla, SPINTER, Magnitudo, Roronoa dll. Sekedar contoh di puisi berjudul Roronoa. Roronoa adalah nama karakter dalam komik One Piece, nama lengkapnya Roronoa Zoro. Jadi kalau mau menikmatinya anda harus tahu cerita komik itu. Seperti kata skypea anda tidak akan tahu bila tidak membaca komik One Piece. Mungkin inilah yang dimaksudkan Pingadi AS memberi judul antologi puisi tunggalnya dengan Alusi.

Eksperimen Pringadi AS ini memang agak sulit diselami seperti yang dikatakan dalam esai-esai yang sudah. Tapi saya yang punya kecenderungan suka matematika dan angka-angka atau secara garis besar type orang keilmuwan. Saya jadi lebih bisa menikmati puisi-puisi dalam buku ini. Meski agak sulit juga. Melelahkan. Toh saya juga mengalami kenikmatan.

Hasil eksperimen Pringadi AS yang paling berhasil menurut saya terlihat di puisi yang berjudul Segitiga yang dipesembahkan kepada eny sapratilla. Dengan tetap memakai lambang-lambang dari matematika seperti kata segitiga dan persegi. Pringadi berbicara tentang cinta. Saya jadi terbayang cinta segitiga meskipun tidak ada kata yang jelas menyebutkan demikian, terasa tersirat saja. Mungkin karena segitiga dan persegi adalah matematika sederhana. Mudah dipahami. Dan tidak rumit dan menakutkan kayak kalkulus.
***

Pringadi AS juga memotret kehidupan sosial. Protes terhadap beberapa kebijakan pemerintah. Tapi tetap berbicara dengan matematika atau angka (kekayaan, kemiskinan). Dan perilaku-perilaku aneh seperti yang terlihat di puisi Fragmen; Dalam Kereta. Si aku yang terlihat begitu prihatin pada kondisi masyarakat. Seperti banyaknya copet di dalam kereta, tetapi ternyata di ending seakan-akan si Aku lah pencopet itu sendiri. Adegan seperti ini adalah paradoks bagi saya. Bila diteliti atau dipikirkan lebih dalam ternyata pencopet-pencopet itu juga tidak mau menjadi pencopet. tapi karena keadaan yang memaksa.

Pringadi AS juga berbicara tentang kekerasan rumah tangga seperti yang booming diberitakan di tivi. Yang berakhir pada perceraian. Mungkin seperti yang terjadi pada artis-artis. Ini terlihat dari kata air panas, setrika, dan gunting yang menjadi benda rumah:

1
34 bulan tentang penyiksaan
tetap tidak bisa jadi alasan

air panas, setrikaan, dan tusukan gunting
apa pikiranmu sinting?

(Siti)

Memang kecenderungan membela rakyat sudah banyak dilakukan penyair-penyair sebelumnya seperti WS Rendra, Widji Tukul, Emha Ainun Nadjib dll. Tapi Pringadi menurutku punya gaya yang lain. Toh tema seperti ini kan memang perlu ditulis mengingat kondisi negara yang begini. Bukankah kebaruan dalam puisi tidak harus dalam hal tema? Bukankah tema sosial adalah tema abadi dalam puisi? Seperti halnya tema-tema lainnya seperti cinta, kematian, kepahlawanan dll.
***

Pringadi AS tenyata juga melakukan eksperimen lain. Menghianati eksperimen sebelumnya yang belum kelar menurutku. yang tidak lagi bebicara denga angka. Tapi gaya bahasa Alusi atau Alusio masih telihat. Efeknya? Saya lebih menyukai puisi-puisi seperti ini seperti di puisi Minggu Terakhir Bulan Desember

–Minggu, 31/12/06

Kuil, Mesjid, Gereja
Kita harus berdoa?
Meminta tahun berganti
Harap terisi, dan duka
Kian tersisih?

Juga dalam puisi:

— Sabtu, 14/02/2009
Cokelat, pemen, kopi
Kita tidak memutuskan tidur malam ini
Tapi kita bermalam saja
Di gereja tua
Bertukar darah

(Minggu Kedua Bulan Februari)
***

Masih penasaran?

Baiklah saya lanjutkan.

Aduh, beli aja langsung bukunya sana. Capek saya. Kapan-kapan saya lanjutkan lagi. Lagian kalau saya uraikan semua kan tidak seru?

SYAIFUL BAHRI
Pengelola blog www.kampung-puisi.blogspot.com
Dijumput dari: http://kampung-puisi.blogspot.com/2010/01/catatan-pra-sebenarnya-saya-agak.html