Helvy Tiana Rosa SAAT BERI PELATIHAN, SUARA MORTIR MENGGELEGAR

http://nostalgia.tabloidnova.com/

Perempuan kelahiran Medan 2 April 1970 ini membuat kelompok yang mencetak kader penulis lewat Forum Lingkar Pena. Berkat kerja kerasnya, FLP sudah ada di 30 provinsi di Indonesia, bahkan di beberapa negara tetangga. Yang luar biasa, sudah 5.000 orang jadi anggota dan 750 di antaranya berhasil menjadi penulis. Selain itu, karya sastra ketua umum FLP ini juga sudah mendunia. Continue reading “Helvy Tiana Rosa SAAT BERI PELATIHAN, SUARA MORTIR MENGGELEGAR”

Tentang Helvy Tiana Rosa

Bai Ruindra
http://www.kompasiana.com/Bai.Ruindra

Mengenal Helvy

Bukan karena Ketika Mas Gagah Pergi saya mengenal sosok Helvy Tiana Rosa, melainkan sebagai pimpinan redaksi majalah Annida. Waktu itu saya memang kerap sekali membaca Annida apalagi cerpen-cerpennya sangat menarik dan berbeda bagi saya. Lalu di beberapa kesempatan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi diagung-agungkan sebagai maha karya terbesar Helvy, tentu saja saya mencari dan ingin membaca. Continue reading “Tentang Helvy Tiana Rosa”

Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara

Tia Setiadi
Kompas, 25 Juli 2009

PADA suatu pagi yang bening dan tenang, Sang Buddha mengumpulkan murid-muridnya yang paling tinggi pencapaian rohaninya di Taman Kijang yang terletak di daerah pedesaan Isipatana. Suasana hening aneh ketika itu.

Terasa ada kekhusyukan terpancar dari wajah-wajah para murid pinilih itu. Dedaunan dan burung-burung tak bergerak, seolah ikut khidmat menanti ajaran yang akan diwedar Sang Buddha. Yang mengherankan, sekian lama ditunggu-tunggu Sang Buddha masih juga tak mengatakan sepatah ajaran pun. Continue reading “Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara”

Sastra Berduka di Sekolah

Anjrah Lelono Broto

Ada sebuah kedukaan yang mendalam ketika “Teater Sansesus SMAN 2 Jombang”, harus kehilangan sanggarnya karena digusur oleh “Sang Pembuat Kebijakan” lembaga pendidikan. Meski harus jujur diakui, kedukaan ini bersifat pribadi dan berpijak pada ikatan sejarah masa lalu sebagai alumni, akan tetapi kenyataan “penggusuran” ini makin memperkuat wacana politik pemerintah yang cenderung iliterasi. Keberadaan sebuah kelompok kegiatan ektrakurikuler berbasis kesenian dan kebudayaan di sebuah lembaga pendidikan, secara mendasar, merupakan wahana pembelajaran dan pendalaman teks-teks kesenian dan kebudayaan, seperti sastra, tari, lukis, dan teater itu sendiri. Continue reading “Sastra Berduka di Sekolah”

Bahasa »