Tan Malaka dan “Brief Encounter” 1946

Rosihan Anwar *
Suara Pembaruan, 27 Feb 2008

Brief Encounter” (Perjumpaan Singkat) adalah judul film Inggris pada 1940-an yang menggambarkan kisah roman dan pertemuan sebentar antara seorang perwira Amerika dan seorang gadis Inggris di London. Brief encounter saya dengan Pahlawan Nasional Tan Malaka adalah suatu pertemuan pertama dan terakhir, terjadi di Kota Solo pada Februari 1946, tatkala didirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Continue reading “Tan Malaka dan “Brief Encounter” 1946″

Sepasang Mata Kelabu

Anton Kurnia
Koran Tempo 02/02/03

Aku hanya memiliki ingatan samar-samar tentang kabut yang menyelimuti minggu itu. Saat itu aku baru saja genap enam tahun. Telepon berdering. Ayahku bergegas mengangkatnya. Ia tak berbicara sepatah pun, tapi tampak begitu tegang, darah seolah membeku di wajahnya. Ayahku masuk ke dalam kamar dan segera kudengar ibuku mulai menjerit-jerit. Telepon itu mulai berdering dan terus berdering. Rumah kami terus dipenuhi oleh para karip kerabat dan ibuku terus menerus menjerit. Orang-orang bergerak tanpa arah, wajah mereka tampak sedih. Continue reading “Sepasang Mata Kelabu”

Ketika Gerimis Jatuh

Sapardi Djoko Damono *
Koran Tempo 11/05/03

Gadis kecil itu berpikir begini, nanti kalau ayah pulang kehujanan, kasihan. Tadi lupa bawa payung. Ia sendiri di rumah, seperti biasa. Pembantu bertugas mencuci dan menyeterika, selesai itu pulang-sesudah, tentu saja menyiapkan makan untuknya. Gadis kecil itu biasa dipanggil Rini. Lengkapnya, Satyarini Endah Kurnianingrum. Biasanya beberapa temannya di sekeliling rumahnya suka bermain macam-macam karena orang tuanya Rini suka membelikannya mainan, mulai dari alat masak-memasak sampai mobil-mobilan, meskipun dia anak perempuan. Continue reading “Ketika Gerimis Jatuh”

“Keluarga Gila” karya Hudan Hidayat: Zaman Purba di Tengah Peradaban Kota

Novi Diah Haryanti
http://ruangkata-katavie.blogspot.com/

Ayah memasak didapur. Ibu membaca surat kabar, kopinya masih mengepul. Kami saling membenci. Ribuan kali ayah mau membunuh ibu, tapi ibu berhasil lolos. Pertama pada waktu ditepi sumur. Waktu ibu menjeguk, ayah mendorong ibu. Tapi ibu berpegangan padaku, aku bisa mendorong ibu tak ada yang tahu. Tapi tak kulakukan. Sebab ayah harus membunuh ibu dengan tangannya sendiri, sebagai mana aku mau membunuh ayah dengan tanganku sendiri. Continue reading ““Keluarga Gila” karya Hudan Hidayat: Zaman Purba di Tengah Peradaban Kota”

Bahasa ยป