Tepi Jalan Ahmad Yani

Salamet Wahedi *
Surabaya post, 6 Feb 2010

Gadis itu menggigit-gigit kuku jari telunjuknya dengan gigi depannya. Sapuan matanya menyisakan nanar keruh. Air mukanya pun menampak riak berdebu. Raut belia itu tambah kusam saja saat butir debu yang diterbangkan mobil-mobil di depannya lengket di wajahnya. Kulit wajahnya begitu berminyak. Seperti bentangan kanvas lusuh, wajahnya sekilas menguar panorama senja. Namun, kerling retinanya menegaskan usianya yang masih di bawah dua puluh tahun. Continue reading “Tepi Jalan Ahmad Yani”

Apologi Kupu-kupu: “Mencari Identitas” melalui Tanda

Ririe Rengganis, M.Hum.

Karya sastra, terutama puisi cenderung menggunakan bahasa yang sarat dengan penggunaan tanda. Dan, untuk memahami tanda-tanda yang ada dalam puisi itu pembaca harus memiliki kompetensi sastra. Kompetensi sastra ini diperlukan untuk memahami ketidakgramatikalan puisi, di mana puisi tidak memiliki ciri-ciri linguistik (Riffaterre). Kompetensi sastra yang harus dimiliki oleh pembaca/ penikmat puisi juga harus disesuaikan dengan konvensi genre yang digunakan untuk menulis karya sastra. Continue reading “Apologi Kupu-kupu: “Mencari Identitas” melalui Tanda”

Ketidakberdayaan Dalam Puisi Joko Pinurbo “Bayi di Dalam Kulkas”

(Kajian Semiotika)
Dody Kristianto

Pengantar

Karya Sastra (KS) adalah sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan bahasa sebagai medium (Pradopo, 1987:121). Bahasa sebagai medium tentu sudah merupakan satu sistem tanda. Untuk menguraikan sistem tanda tersebut diperlukan satu disiplin ilmu yang mengulas tentang tanda. Sistem tanda disebut semiotik. Sedangkan cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda disebut semiotika (Zoest, 1993:1). Continue reading “Ketidakberdayaan Dalam Puisi Joko Pinurbo “Bayi di Dalam Kulkas””

SASTRA MAJALAH: KARYA FIKSI DI MAJALAH RIWAYATMU DOELOE

Kurniawan Junaedhie

SESUNGGUHNYA fenomena majalah yang secara khusus memuat karya fiksi, baik cerpen atau novel (cerita bersambung) bukan barang baru dalam dunia penerbitan pers Indonesia. Ketika membahas penerbitan majalah-majalah dan suratkabar pada permulaan tahun 1900-an, Sejarawan Marwati Djoened Poesponegoro, dan Nugroho Notosusanto mengakui bahwa para penulis zaman itu sudah menggunakan bentuk prosa dan puisi sebagai cara untuk menyatakan pikiran para penulisnya. Continue reading “SASTRA MAJALAH: KARYA FIKSI DI MAJALAH RIWAYATMU DOELOE”

Bahasa »