Pengajaran Sastra Berpusat pada Karya Sastra*

(Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)
Ahmadun Yosi Herfanda**
Republika, 29 April 2007

DENGAN merumuskan tujuan pengajaran apresiasi sastra ke TIU dan menjabarkannya ke TIK seperti di atas, target peningkatan apresiasi sastra siswa yang semula terkesan abstrak dan sulit diukur hasilnya, menjadi lebih jelas, operasional, dan terukur.

Namun, cara mengukur tingkat keberhasilannya tidak sama dengan aspek pengetahuan dan teori sastra. Dalam tes atau ujian untuk aspek pengetahuan (sejarah) sastra, pada lembar tes tinggal meminta siswa untuk menyebutkan, misalnya, tiga nama tokoh Angkatan 66.

Begitu juga lembar tes untuk teori sastra (puisi), tinggal meminta siswa untuk menyebutkan misalnya tiga fungsi tipografi dalam puisi. Lembar tes untuk aspek tersebut bahkan bisa berupa pilihan ganda (multiple choice). Jika siswa tidak dapat menjawab dengan benar, maka pengajaran aspek pengetahuan dan teori sastra itu dianggap gagal. Sementara, untuk tes atau ujian apresiasi sastra, pada lembar tes atau ujian harus dilampirkan teks karya sastra, baik puisi maupun fragmen cerpen atau novel.

Tingkat keberhasilan pengajaran aspek apresiasi sastra juga tidak cukup hanya dilihat pada hasil tes atau ujian akhir, tapi juga harus terbukti pada sikap apresiatif dan minat baca siswa setelah lulus kelak. Hasil tes atau ujian akhir hanya indikator keberhasilan pada aspek kognitif siswa, dan ini bisa bersifat sementara.

Sedangkan keberhasilan pada aspek afektif (kecintaan dan sikap apresiatif pada karya sastra) dan motorik (minat baca dan menulis karya sastra) baru dapat dilihat pada jangka panjang. Aspek-aspek terakhir inilah yang sering gagal dicapai, dengan indikator masih rendahnya rata-rata tingkat apresiasi dan minat baca lulusan SLTA terhadap karya sastra, seperti disinyalir oleh Taufiq Ismail.

Selain itu, mengajarkan apresiasi sastra pada siswa jelas lebih rumit dan membutuhkan waktu lebih panjang, dibanding mengajarkan aspek pengetahuan sastra. Dibutuhkan kesabaran dan wawasan pengetahuan yang memadai serta kecakapan khusus untuk itu, sehingga sering kurang mendapat perhatian para guru sekolah. Apalagi, kalau apresiasi terhadap novel, karena siswa memerlukan waktu khusus untuk membaca novel yang dijadikan objek apresiasi.

Untuk apresiasi puisi atau cerpen, mungkin bisa sepenuhnya dilaksanakan di kelas, karena teks-teks yang menjadi objek apresiasi sata-rata cukup pendek. Tapi, untuk apresiasi novel, siswa membutuhkan waktu untuk membaca novel yang menjadi objek apresiasi di rumah atau perpustakaan. Repotnya lagi jika jumlah eksemplar novel yang ada di perpustakaan sekolah terbatas, sehingga siswa harus membeli di toko atau memfoto-kopinya, dan biaya belajar siswa menjadi mahal. Sementara, untuk apresiasi puisi atau cerpen, rata-rata teksnya sudah tersedia di dalam buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pengajaran apresiasi sastra juga mengisyaratkan agar guru mengenalkan atau menjelaskan lebih dulu teori-teori sastra secukupnya sesuai yang dibutuhkan untuk mengapresiasi suatu karya sastra. Untuk mengapresiasi puisi, misalnya, siswa perlu dikenalkan lebih dulu pada prinsip-prinsip estetika puisi atau yang juga disebut metode puisi, seperti tipografi sampai pencitraan, sehingga siswa memiliki alat yang secukupnya untuk mengapresiasi puisi tersebut. Begitu juga untuk mengapresiasi cerpen atau novel, siswa perlu dikenalkan secukupnya pada metode cerpen dan novel, sejak alur, penokohan, sampai ending.

Namun, porsi terbanyak pengajaran apresiasi sastra sebaiknya tetap pada karya sastra yang menjadi objek apresiasi. Artinya, proses belajar-mengajar di kelas tetap berpusat pada karya sastra. Karena, sambil mengapresiasi karya sastra pengetahuan tentang teori dan sejarah sastra dapat sekaligus diberikan (diperluas). Misalnya saja, ketika siswa diajak mengapresiasi puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM, pengetahuan siswa tentang fungsi pencitraan dapat ditambah, sekaligus pengetahuan tentang nama-nama sastrawan lain dari generasi Abdul Hadi WM.

Jika diamati benar, pengajaran sastra di SLTA, khususnya di SMU, sebenarnya sudah menampakkan beberapa kemajuan. Sudah banyak sekolah maupun guru sastra yang memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para siswanya. Mereka tidak hanya diberi pengatahuan dan sejarah sastra, juga tidak hanya diajak mengapresiasi karya-karya sastra, tapi juga diajak untuk menulis karya sastra. Setidaknya, melalui kegiatan ekstra kurikuler dan sanggar-sanggar sastra di sekolah.

Karya-karya para siswa yang dimuat di suplemen Kaki Langit Majalah Horison merupakan bukti banyaknya siswa SMU yang kini gemar dan mahir menulis karya sastra. Begitu juga sikap wellcome hampir semua SMU di Tanah Air untuk menjadi ajang kegiatan ‘sastra masuk sekolah’ yang dimotori Majalah Horison serta diklat-diklat pengajaran sastra yang diadakan oleh Pusat Bahasa Depdiknas.

Upaya untuk mengintensifkan pengajaran sastra sekaligus mengikuti perkembangan sastra terkini guna meningkatkan apresiasi sastra para siswa juga terlihat pada buku-buku pegangan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang disusun berdasarkan prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Misalnya saja, adalah buku-buku yang disusun oleh Diyan Kurniawati dkk, yakni Bahasa Indonesia (Intan Pariwara, 2003), serta yang disusun oleh Tika Hatikah dan Mulyanis, Membina Komptensi Berbahasa dan Sastra Indonesia (Grafindo Media Pratama, 2005).

Aspek kebahasaan menempati porsi yang sama dengan aspek apresiasi sastra. Aspek-aspek lainnya adalah mendengarkan, berbicara, dan menulis. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan porsi yang seimbang.

Selain itu, contoh-contoh karya sastra yang menjadi bahan pelajaran juga karya-karya sastra terkini sampai karya sastrawan generasi 1990-an, tanpa meninggalkan karya-karya sastra lama. Peristiwa-peristiwa kesenian yang diambil sebagai bahan bacaan juga peristiwa-peristiwa terkini.

Melihat nama-nama sastrawan yang karya-karyanya dikutip pada buku-buku tersebut, sebenarnya sudah tidak pas lagi tudingan sementara pengamat bahwa pengajaran sastra di SMU berhenti hanya sampai Angkatan 66. Sebab, banyak nama-nama sastrawan kontemporer, bahkan terkini, yang karya-karyanya diperkenalkan kepada siswa melalui buku-buku tersebut.

Tulisan-tulisan non-sastra yang dikutip juga diambil dari surat-surat kabar dan majalah yang berisi peristiwa-peristiwa terkini. Bahkan, mungkin karena terlalu inginnya menyesuaikan materi pengajaran sastra dengan perkembangan (sastra) terkini, ada nama-nama yang belum dikenal yang karyanya ikut dikutip.

Dengan begitu, materi (buku) yang tersedia untuk pengajaran sastra di SMU sebenarnya sudah sedemikian maju dan sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Guru tinggal mendorong siswa untuk membaca karya-karya lain dari pengarang-pengarang pilihan yang karya-karyanya dikutip dalam buku-buku tersebut.

Namun, beberapa upaya dan kemajuan tersebut di atas dianggap belum cukup berarti bagi upaya peningkatan apresiasi sastra dan minat baca siswa. Tujuan terpenting pengajaran sastra itu masih dianggap belum tercapai sesuai harapan, karena pengajaran sastra di sekolah belum terlaksana secara maksimal.

Dengan kata lain, meminjam istilah Taufiq Ismail, pengajaran sastra di sekolah masih gagal menanamkan sikap apresiatif dan minat baca siswa terhadap karya sastra. Dan, yang paling dituding menjadi penyebab utama kegagalan tersebut adalah masih menyatunya pelajaran sastra dengan pelajaran bahasa Indonesia.

Selain itu, ada beberapa penyebab lain, seperti kurang cakapnya guru dalam mengajar, kurangnya pemahaman dan pengetahuan sastra guru karena umumnya tidak berasal dari disiplin ilmu sastra tapi disiplin bahasa, terbatasnya buku sastra yang tersedia di perpustakaan sekolah, rendahnya rata-rata kualitas buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk SMU, serta terbatasnya media pengajaran.

Namun, kekurangan-kekurangan tambahan tersebut sebenarnya akan dapat diminimalisir jika pelajaran sastra berdiri sendiri atau dipisahkan dari pelajaran bahasa.

* Tulisan ini merupakan makalah untuk Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra dalam rangka Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia 2007, HMBSI FPBS UPI Bandung, di gedung PKM UPI, 10 April 2007.
** Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan dan wartawan Republika
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/04/wacana-pengajaran-sastra-berpusat-pada.html