Puisi-Puisi Lina Kelana

BULAN KESIANGAN

geletar itu menjadi redam. bulan yang jatuh di kasurnya, menolak tumbuh di halaman. telah dibaginya surat dari sungai hingga terakhir sesapan. mata-mata yang dilajunya sepekan lalu, kini lunglai lututnya. tersungkur dengan dengkur yang mengubur setengah tubuhnya jadi lebih lebam dan biru. sungai telah berpindah ke tubuhnya.

bulan yang jatuh di kasurnya itu, Luruh sebelum amanatku sempat.

2010 – 2011

KOTA SUNYI

kota ini hantu, Bingo.
kusaksikan tubuh ibuku tanggal dari kalender.
kulitnya hitam, launnya luruh dari rahim napasku.

?setengah jiwamu dicuri sunyi, anakku.
temui sejarah. di sana sebagian jiwamu tinggal.
namun perjalanan, bukan kisah yang menyenangkan
di pagi hari,? kata ibuku sebelum hilang hening

kota ini hantu, bingo.
kusaksikan tubuh ibuku tanggal dari kalender.
kulitnya hitam, daunnya luruh dari rahim napasku.

2010-2011

SESEORANG YANG MENCARI PECAHAN KISAHNYA

pernah aku mencuri cahaya dari kerling matamu. ia berteriak, tentang detaknya yang hilang sebelum mekar pagi. lalu kuletak bolamataku untuk menggantikannya. lagi-lagi ia berteriak, tentang kilau yang tak habis membakar denyut yang hampir tumbuh. ia bercerita pada mata yang kosong. dunia yang tak genap, kisah pertemuan dengan masa lalu yang retak. lagi-lagi ia berteriak.

ia adalah pecahan dari masa yang tak ingin dikenang lagi.
ia adalah serpihan yang menyimpan racun pada tiap pecahan. ia lagi-lagi berteriak,
: ?jangan ambil hidupku, jangan ambil hidupku!?

ia pantas berteriak,
dan sekali lagi.

2011